1. Latar Belakang diadakannya Pembelajaran Kelas Rangkap
Pembelajaran kelas rangkap sering dikaitkan dengan sekolah kecil di daerah terpencil yang berpenduduk sedikit. Di sekolah seperti ini biasanya hanya ada satu sampai dengan tiga orang guru untuk melayani seluruh siswa kelas I sampai kelas VI. Jumlah siswa di setiap sekolah juga sedikit. Guru tersebut harus menggabungkan kelas agar bisa mengajar semua siswa di sekolah, artinya dalam satu ruangan ditempati oleh siswa dari dua kelas. Pola penggabungan umumnya adalah kelas 1 dengan kelas 2, kelas 3 dengan kelas 4, dan kelas 5 dengan kelas 6.
Pembelajaran kelas rangkap juga terdapat di banyak sekolah perkotaan, karena jumlah siswa tidak seimbang dengan jumlah kelas. Kelas harus digabung untuk mendapatkan jumlah siswa seperti biasa. Jadi alasan dibentuknya kelas rangkap bukan karena kekurangan guru saja melainkan juga alasan efisiensi. Misalnya jika di kelas 1 hanya ada 9 siswa dan kelas 2 hanya ada 10 siswa maka tidak perlu masing-masing kelas diajar oleh seorang guru. Dengan prinsip efisiensi sumber daya maka cukup diperlukan satu guru yang merangkap mengajar kelas 1 dan kelas 2.
2. Data Sekolah yang menerapkan Pembelajaran Kelas Rangkap
a. SDN Ma’lengu Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa
SDN Ma’lengu di Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa. Sekolah ini hanya memiliki 4 gedung yang terdiri dari 3 gedung (3 ruang) untuk proses belajar mengajar, dan 1 gedung untuk ruang kepala sekolah dan administrasi. Guru yang mengajar terdiri dari 4 guru kelas, 1 guru olah raga, 1 guru agama dengan 1 kepala sekolah. Rata-rata jumlah siswa per kelas adalah 23 anak
Secara geografis, letak SDN Ma’lengu berada di daerah dataran tinggi sekitar 70 km sebelah timur kota Sungguminasa sehingga jauh dari keramaian. Selain itu, SDN Ma’lengu juga termasuk salah satu sekolah terpencil di Kab. Gowa yang terletak jauh di pelosok pedalaman yang baru berumur sekitar 4 tahun disebabkan karena sekolah ini sebelumnya adalah kelas jauh yang kemudian mati (tidak ada aktifitas belajar) disebabkan karena tidak ada tenaga pengajar yang mau ke daerah tersebut. Kemudian baru pada tahun 2005 dirintis kembali dengan kondisi tenaga pengajar yang hanya terdiri dari 3 orang dan ruang belajar terdiri dari 2 kelas. Baru pada tahun 2008 mendapatkan tambahan ruang belajar sebanyak 2 buah sehingga sudah ada 3 ruang belajar. Terus guru yang mengajar pada sekolah tersebut terdiri atas 4 orang guru yang berstatus PNS termasuk kepala sekolah, 3 orang guru berstatus honorer. Dan di sekolah tersebut juga terdapat 8 rombongan belajar dan sekolah ini termasuk sekolah satu atap. Siswa yang bersekolah di SDN Ma’lengu adalah anak-anak dari Dusun yang tidak memungkinkan untuk bersekolah di sekolah lainnya. Oleh sebab itu tepatlah jika sekolah ini dikategorikan sebagai sekolah terpencil
Tabel I : Data Jumlah Siswa SDN Ma’lengu Tahun 2009
Kelas Jumlah Siswa
L P Jumlah
I 9 13 22
II 11 14 25
III 10 12 22
IV 10 13 23
V 13 11 24
VI 15 12 27
Tabel II : Data Guru SDN Ma’lengu Tahun 2009
No. Nama Guru / Jabatan Status Mengajar di kelas
1. M. Yusuf T., S.Pd (Kepala Sekolah) PNS
2. Ayatollah Hidayat, A.Ma (Guru Kelas) PNS V dan VI
3. Abd. Azis, S.Pd (Guru Kelas) PNS III dan IV
4. Syarifuddin, S.Pdi (Guru Agama) PNS I – VI
5. Syamsualam, S.Pd (Guru Penjaskes) Honorer I - VI
6. Normayanti, A.Ma (Guru Kelas) Honorer I
7. Rahmat, A.Ma (Guru Kelas) Honorer II
Showing posts with label Wacana Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Wacana Pendidikan. Show all posts
Saturday, May 8, 2010
Tuesday, January 5, 2010
COntoh KTSP
KATA PENGANTAR
Tiada kata yang paling indah selain mengucapkan Puji dan syukur Kehadirat Allah Yang Maha Esa atas limpahan dan rahmat dan Hidayah-nya, sehingga SMP Negeri 1 Galesong Utara Kab. Takalar dapat menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) untuk lingkungan sendiri yang merupakan bagaian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik yang disesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), seni serta pergeseran paradigma pendidik yang beroentasi pada kebutuhan didik, dengan tidak meningggalkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) ini merupakan Edisi Ke dua yang disusun dan disempurnakan pada satuan pendidikan SMP Negeri 1 Galesong Utara Kab. Takalar dan akan diberlakukan untuk tingkatan kelas VII, VIII, IX yang akan dilaksanakan pada Tahun pelajaran 2010/2011.
Pengantar KTSP ini memuat beberapa hal antara lain : Kerangka dasar Kurikulum, Beban belajar, Kelender Pendidikan, Standar kompetensi kelulusan, Standar kompetensi kelompok mata Pelajaran, Silabus yang disusun oleh Guru Mata pelajaran, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan rencana pelaksanaan pengajaran.
Penyusunan KTSP SMP Negeri 1 Galesong Utara merupakan Hasil kerja TIM yang dibentuk oleh kepala sekolah, dan bantuan dari berbagai pihak . Akhirnya tidak ada yang sempurna diatas dunia ini kecuali Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang berlaku dimuka Bumi ini, Demikian juga dengan Kurikulum yang kami susun ini.
Harapan kami saran dan masukan yang membangun untuk perbaikan sangat diharapkan. Terimakasih Kepada Semua Pihak yang telah berperan Aktif secara langsung maupun tidak langsung, semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan jalan terbaik bagi kita semua, demi kemajuan pendidikan di Kabupaten Takalar Kec. Galesong Utara khususnya di SMP Negeri 1 Galesong Utara, Amin!
Bontolebang, 10 Januari 2010
Penyusun
TIM KTSP SMPN 1 Galesong Utara
SAMBUTAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan Nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi potensi Daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu Kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada didaerah.
Pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan ( KTSP ) yang beragam mengaju kepada standar Nasional pendidikan yang menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar Nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi, lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan pembiayaan, dan penilaian pendidikan, dua dari delapan stantar nasional pendidikan tersebut, yaitu stabdar isi ( SI ) dan standar kompetensi lulusan ( SKL ) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan Kurikulum.
Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di SMA Negeri 1 Nipah Panjang apabila kegiatan belajarmampu membentuk pola tingkah laku peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan, serta dapat dievaluasi melalui pengukuran dengan menggunakan tes dan non tesw. Proses pembelajaran akan efektif apabila dilakukan melalui persiapan dan terencana dengan baik supaya dapat diterima untuk memenuhi :
1 Kebutuhan masyarakat setempat dan masayarakat global
2 Mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi perkembangan dunia global
3 Sebagai proses untuk melajutkan ke jenjang yang lebih tinggi
B. Landasan
1. Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional Pasal 38 Ayat 2 dan Pasal 51 ayat 1
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 17 Ayat 2 dan Pasal 49 Ayat 1
3. Peraturan Mendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi
4. Peraturan Mendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kopetensi Lulusan
5. Peraturan Mendiknas nomor 24 Tahun 2006 Tentang Pelaksanaan Permen Diknas Nomor 22 dan 23
6. KTSP SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung Timur Edisi dua Tahun Pelajaran 2009/2010
C. Tujuan Pendidikan Menengah Atas
Tujuan Pendidikan Menengah atas adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan , kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
BAB II
VISI, MISI DAN TUJUAN
A. Visi
Visi SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung Timur adalah, Mewujudkan sekolah yang berprestasi berdasarkan IMTAQ dan IPTEK
B. Misi
1. Menciptakan lingkuangan pembelajaran yang kondusif dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran
2. Menumbuh kembangkan semangat keunggulan dan bernalar sehat kepada peserta didik, guru dan kariyawan sehingga benkemauan kuat untuk terus maju
3. Meningkatkan komitmen seluruh tenaga kependidikan terhadap tugas pokok dan pungsinya
4. Mewujudkan Menejemen kepemimpinan yang partisipatif dan propesional
C. Tujuan
1. Mempersiapkan peserta didik yang bertaqwa kepada Allah Tuhan yang Maha Esa
2. Mempersiapkan peserta didik agar menjadi manusia yang berkepribadian, cerdas. Berkualitas dan berprestasi dalam bidang Akademik, olah raga dan seni
3. Membekali peserta didik bersikap ulet dan gigih dalam berkompetensi ,beradaptasi, dengan lingkuang dan mengembangkan sikap sportfitas
4. membekali peserta didik agar memiliki ketrampilan teknologi informasi dan komunikasi serta mampu mengembangkan diri secara mandiri
5. Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu bersaing dan melajutkan k pendidikan yang lebih tinggi
BAB III
SRUKTUR DAN MUATAN KTSP
A.STANDAR KPMPETENSI LULUSAN
Mata Pelajaran Standar Kompetensi Kelulusan
Pendidikan Agama Islam 1. Memahami ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan pungsi manusia sebagai khalifah, demokrasu serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
2. Meningkatkan keimanan kepada Allah sampai qodha dan qodar melaluli pemahaman terhadap sifat dan asmaul Husna
3. Berperilaku terpuji seperti hasnuzzhan,taubatdan raja dan meninggalkan prilaku tercela seperti isyrof,tabzir dan fitnah
4. Memahami sumber hukum Islam dan hukum taklifi serta menjelaskan hukum muamalah dan hukumkelurga dalam Islam
5. Memahami sejarah Nabi Muhammad pada periode Mekah dan Madinah serta perkembangan Islam di Indonesia dan Dunia
Pendidikan Agama Kristen 1. Mehuzudkan nilai kristiani dalam pergaulan dan kehidupan sosial
2. Merespon berbagai bentuk kehidupan modren, perkembangan budaya dan ilmu pengetahuan dan iptek dengan mengacu pada ajaran kristen
3. bertanggung jawab sebagai orang kristen dalam kehidupan Gereja, masayarakat dab bangsa
4. Menyampaikan berita damai dan menjadi pembawa damai sejahtera
Pendidikan agama Katolik 1. Peserta didik dapat menguraikan pemahaman tentang pribadinya sebagai pria dan wanita serta citra allah yang memiliki akal budi untuk berpikir kritis serta memiliki suara hati dan kehendak yang bebas untuk bertindak serta bertanggung jawab
2. Peserta didik menguraikan tentang pribadi Yesus Kristus yang diwartakan oleh kitab suci dan diajarkan oleh gereja dan bagaimana upaya nyata meneladani dalam hidup sehari-hari
3. Peserta didik dapat menguraikan pemahaman makna gereja, pungsi dan sifat-sifatnya serta hubungannya dengan dunia dan bagaimana menghayati dalam hidup Bergereja
4. Peserta didik menguraikan pungsi Gereja yaitu melajutkan perutusan Yesus untuk mewartakan kerajaan Allah dan melibatkan diri dalam perutusan itu untuk memperjuangkan martabat dan hak asasi manusia
Pendidikan Kewarganegaraan 1. Memahami hakekat bangsa dan negara kesatuan Rebublik Indonesia
2. Menganalisis sikap positifterhadap penegakan hgukum, peradilan nasional dan tindakan anti korupsi
3. Menganalisis pola-pola dan partisipasi aktif dalam pemajuan,penghormatan serta penegakan HAM baik di Indonesia maupun di luar Negeri
4. Menganalisis peran dan hak warga negara dan sistim pemerintah NKRI
5. Menganalisis budaya politik demokrasi, kostitusi, kedaulatan negara,keterbukaan dan keadilan Indonesia
6. Mengevaluasi hubungan internasional dan sistem hukum Internasional
7. Mengevaluasi sikap berpolitik dan masyarakat madani sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945
8. Menganalisis peran Indonesia dalam politik dan hubungan Internasional, Regional, dan kerjasama global lainnya
9. Menganalisis sitem hukum Internasional , timbulnya konflikInternasional, dan Makamah Internasional
10. Menganalisis Hukum Nasional dalam
praktek dilapangan melalui praktek
pengalaman lapangan
Bahasa Indonesia 1. Mendengarkan
Memhami wacana lisan dan kegiatan menyampaikan berita,laporan dan saran,berberita,pidato,wawancara,diskusi,seminar,dan pembacaan karya sastra berbentuk puisi, cerita rakyat,drama,cerpen,dan Novel.
2, Berbicara
Menggunakan wacana lisan uyntuk mengungkapkan pikiran,perasaan,dan informasi dalam kegiatan perkenalan, diskusi,bercerita,presentase hasil penelitian, serta mengomentari pembacaan puisi dan pementasan drama
3. Menbaca
Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana tulis teks nonsastra berbentuk grafik,tabel artikel,tajuk rencana,teks pidato,serta teks sastra berbentuk puisi,hikayat,novel,biografi,puisi konttemporer,karya sastra berbagai angkatan dan satra Melayu klasik
4. Menulis
Menggunakan berbagai jenis wacana tulis untuk mengungkapkan pikiran,perasaan, dan informasi dalam bentuk teksnarasi, deskripsi,eksposisi,argumentasi,teks pidato,proposal,surat dinas,surat dagang,rangkuman,ringkasan,notulen, lapoaran, resensi, karaya ilmiah,dan berbagai karya sastra berbentuk puisi,cerpen,drama, dan esai
Bahasa inggris 1. Mendengarkan
Memahami makna dan wacana lisan interpersonal dan transaksional, secara formal maupun informal, dalam bentuk recount,narrative,procedure,descriptipe, news item,report, analitycal,discussion dan review, dalam konteks kehidupan sehari-hari
2. Berbicara
Mengungkapkan makna secara lisan dalam wacana interpersonal dan tarnksaksional, secara formal, dalam bentuk recount,narrative,procedure,descriptipe, news item,report, analitycal,discussion dan review, dalam konteks kehidupan sehari-hari
3. Membaca
Memahami makna wacana tertulis interpersonal dan transaksional, secara formal maupun informal dalam bentuk recont, narrative, procdure, desciptive, news item, report, analytical, explanation, discusstiuon, dan review, dalam kehidupan sehari-hari
4. Menulis
Mengungkapkan makna wacana tertulis interpersonal dan transaksional, secara formal maupun informal dalam bentuk recont, narrative, procdure, desciptive, news item, report, analytical, explanation, discusstiuon, dan review, dalam kehidupan sehari-hari
Matematika Program IPA
1. Memahami pernyataan dalam matematika dan ingkaranya,dalam menentukan nilai kebenaran pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor, serta menggunakan prinsip logika metematika dalam pemecahan masalah
2. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan aturan pangkat,akar logaritma, pungsi aljabar sederhana, pungsi kuadrat,fungsi eksponem dan grafiknya, fungsi komposisi dan pungsi invers, persamaan dan pertidaksamaan kuadrat, persamaan lingkaran dan persamaan garis singgungannya, suku banyak, algoritma dan pembagian serta teorema sisa, program linier, matriks, dan determinan, vektor, transformasi, geomentri, dan komposisinya, barisan deret, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah.
3. Menentukan kedudukan, jarak dan besar sudut yang melibatkan titi, garis dan bidang ruang dimensi tiga serta menggunakannya dalam pemecahan masalah
4. Memahami konsep perbandingan, pungsi persamaan, dan identitas trigonometri, rumus sinus dan ko sinus jumlah dan selisih dua sudut, rumus jumlah dan selisih sinus dan kosinus, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah
5. Memahami limit fungsi aljabar dan pungsi trigonometri, disuatu titik dan sipat-sipatnya turunan pungsi, nilai eksteren, integraltak tentu dan integral fungsi aljabar dan trigonometri serta menerapkannya dalam pemejahan masalah
6. Memhami dan mengakflikasikan penyajian data dalam bentuk tabel,diagram,gambar,grafik dan ogive, ukuran pemusatan ,letak ukuran penyebaran permutasi dan kombinasi, ruang sampel dan peluang kejadian dan menerapkannya dalam pemecahan masalah
7. Memiliki sikap mengahargai matematuka dan kegunaannya dalam kehidupan
8. Memiliki kemampuan berpikir logis, analitis,sistematis, kritis, dan kreatif, serta mempunyai kemampuan bekerja sama
Program IPS
1. Memahami pernyataan dalam matematika dan ingrannya menentukan nila kebenaran pernyataan mejemuk dan pernyataan berkuantor, serta menggunakan prinsif logika matematika dalam pemecahan masalah yang berakitan dengan menyatakan majemuk dan pernyataan berkuantor
2. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan aturan pangkat ,akar dan logaritma,Fungsi aljabar sederhana, fungsi kuiadrat dan grafiknya persamaan dan pertidaksamaan kuadrat, komposisi dan invers fungsi, program linier matriks dan dan diterminan,vektor transformasi geomentri dan komposisinya barisan dan deret, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah
3. Menentukan kedudukannya jarak dan besar sudut yang melibatkan titik,garis dan bidang diruang dimensi tigaserta menggunakannya dalam pemecahan masalah
4. Memahami konsep perbandingan,fungsi,persamaan dan identitas trigonometri serta menggunakan dalam pemecahan masalah
5. memahami limit fungsi aljabar dan fungsi trigonometri disudut titik dan sifat-sifatnya, turunan fungsi , nilai ekstren, integral tak tentu dan integral tentu fungsi aljabar dan trigonometri serta menerapkannya dalam pemecahan masalah
6. Mengaplikasikan penyajian data dalam bentuk tabel, diagram, gambar, grafik, ogive, ukuran pemusatan, letak dan ukuran penyebaran, permutasi dan kombinasi, ruang sampel dan peluang kejadian, dalam pemecahan masalah
7. Memiliki sikap penghargaan matematika dan kegunaannya dalam kehidupan
8. Memilki kemampuan berpikir logis analitis,sistematis, kritis dan kreatif serat mempunyai kemampuan bekerja sama
Fisika 1. Melakukan percobaan,antara lain merumus kan masalah,mengajukan dan mengguji hipotesis,menentukan pariabel,merancang dan merakit instrumen,mengumpulkan,mengolah dan menafsirkan data,menarik kesimpulan,serta mengkomunikasikan hasil percobaan dan tertulis
2. Memahami prinsif – prinsif pengukuran dan melakukan pengukuran besaran fisika secara langsung dan tidak langsung secara cermat,teliti,obyektif
3. Mengnalisis segala alam dan keteraturan nya dalam cakupan mekanika benda titik,kekekalan energi,impuls,dan momentum
4. Mendeskripsikan prinsip dan konsep konfervasi kalor sifat gas ideal,fluida dan perubahannya yang menyangkup hukum termodinamika serta penerapan nya dalam mesin kalor
5. Menerap kan konsep dan prinsip optik dan gelombang dalam berbagai penyelesaian masalah dan produk teknologi
6. Menerapkan konsep dan prinsip kelistrikkan dan kemagnetan dalam berbagai masalah dan produk teknologi
Biologi 1. Merumuskan masalah,mengajukan dan menguji ipotesis,menentukan pariabel,merancang dan merakit instrumen,menggunakan berbagai peralatan untuk melakukan pengamatan dan pengukuran yang tepat dan teliti,mengupulkan,mengolah,menafsirkan dan menyajikan data secara sistematis,dan menarik kesimpulan bukti yang di peroleh,serta berkomunikasi ilmiah hasil percobaan secara lisan dan tertulis
2. Memahami keanekaragaman hayati dan klasifikasinya,peranan keanekaragaman hayati bagi kehidupan dan upaya kelestarian
3. Menganalisis hubungan antar komponen ekosistem perubahan materi dan energi,serta peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem
4. Memahami konsep sel dan jaringan,keterkaitan antara struktur dan fungsi organ kelainan dan penyakit yang mungkin terjadi pada sistem organ serta implikasinya pada sains,lingkungan,teknologi dan masyrakat
5. Memahami faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan proses metabolisme dan hereditas,evolusi dan implikasinya dengan sains,lingkungan,teknologi dan masyarakat
6. Memahami prinsif-prinsif dasar bioteknologi serta implikasinya pada sains lingkungan,teknologi dan masyarakat
Kimia 1. Melakukan percobaan,antara lain merumuskan masalah,mengajukan dan menguji hipotesis,menentukan pariabel,merancang dan merakit instrumen,mengumpulkan,mengola dan menafsirkan data,menarik kesimpulan,serta mengkomunikasi hasil percobaan serta lisan dan tertulis
2. Memahami hukum dasar dan penerapannya,cara perhitungan dan pengukuran fenomena reaksi kimia yang terkait dengan kinetika dan keseimbangan,kekekalan masa dan kekekelan energi
3. Memahami sifat berbagai larutan asam-basa larutan koloit,larutan elektrolit-non elektrolit,termasuk cara pengukuran dan kegunaannya
4. Memahami konsep reaksi oksidasi –eduksi dan elekrto kimia serta menerapkannya dalam penomena pembentukan energi listrik,korosi logam dan pemisan bahan (elektrolisis)
5. Memahami struktur molekul dan reaksi senyawa organik yang meliputi benzena dan turunannya,lemak karbohitdrat,protein dan polimer serta kegunaannya sehari-hari
Sejarah Kelas X
1. Memahami ruang lingkup sejarah
2. Menggunakan prinsip-prinsip dasar penelitian sejarah
3. Menganalisis masa pra-aksara dan masyarakat aksara pada masyarakat indonesia
4. Menganalisis kehidupan awal masyarakat di indonesia meliputi peradapan awal,asal-usul dan persebaran manusia di wilayah nusantara/indonesia
Program IPS
1. Menganalisis kehidupan awal,peradapan manusia indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia,serta asal usul dan persebaran manusia di indonesia
2. Menganalisis perkembangan bangsa indonesia pada masa negara tradisional,meliputi perkembangan budaya,agama,dan pemerintahan masa hindu-buddha,masa islam,proses interaksi antara tradisi lokal,hindu-buddha,dan islam di indonesia
3. menganalisis kesejarahan masa kolonial hindia belanda(pengaruh barat) meliputi perubahan ekonomi,demografi,sosial,serta politik dan masa kolonial jepang yang meliputi perubahan sosial-ekonomi,politik
4. menganalisis pengaruh berbagai revolusi politik dan sosial di dunia (revolusi perancis,revolusi amerika,repolusi rusia) terhadap perubahan sosial,ekonomi,dan politik di indonesia
5. menganalisis peristiwa sekitar proklamasi 17 agustus 1945,terbentuk negara kesatuan repoblik indonesia,dan lahirnya undang-undang dasar 1945
6. menganalisis perkembangan masyarakat indonesia mulai masa kerajaan-kerajaan hindu-buddha,kerajaan-kerajaan islam,pemerintahan kolonial belanda,ingris pemerintahan penduduk jepang,meliputi politik(lahirnya gerakan pendidikan dan nasionalisme)cita-cita terbentuknya negara dan sebagainya
7. menganalisis perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan dan persatuan NKRI dari ancaman disintegrasi bangsa,antara lain peristiwa madiun 1945 pemberontakan DI/TII,peristiwa PERMESTA,peristiwa andi ajis RMS,PRRI dan gerakan G-30-S/PKI
8. menganalisis perkembangan masyarakat indonesia sejak proklamasi sampai dengan masa orde baru dan masa repormasi,meliputi masa pemerintahan demokrasi terpimpin(orde baru 1945-1967)masa demokrasi pancasila (orde baru,1997-1998),dan masa peralihan kesama repormasi,1998-sekarang)
Mata Pelajaran Standar Kompetensi Lulusan
Geografi 1. Memahami hakekat, rung lingkup Struktur, dan pendekatan geografi
2. Mempraktekkan kretrapilan dasar peta dan memanfaatkannya dalam mengakaji Geosfer
3. memahami pemanfaatan citra dan SIG sebagai wahana memvisualkan gesfer
4. mengnalisis dinamika dan kecendrungan perubahan unsur – unsur gesfer serta dampaknya terhadap kehidupan dimuka bumi
5. memahami pola dan aturan tata surya dan jagat raya dalam kaitannya dengan kehidupan dimuka bumi
6. memahami sumber daya alam dan pemanfaatnnya secara arif
7. mengana lisis pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelajutan
8. menganalisis konsep wilayah dan pewilayahan dalam kaitannya dengan perencanaan pembangunan wilayah, pedesan dan perkotaan serta negara maju dan berkembang
13.Ekonomi 1. menganalisis permasalahan ekonomi dalam kaitannya dengan kebutuhan manusia dan sistem ekonomi
2. mendeskrpsikan kegiatan ekonomi produsen,konsumen, permintaan, penawaran dan harga keseimbaang melalui mekanisme pasar
3. mendeskrpsikan kebijakan pemerintahan dalam bidang ekonomi dalam kaitannya dengan pendapatan nasional,konsumsi, tabungan dan investasi,uang dan perbankan
4. memahami pembangunan ekonomi suatu negara dalam kaitan dengan kaitannya dengan ketenagakerjaan,APBN,pasar modal dan ekonomi terbuka
5. menyusun suklus akutansi perusahaan jasa dan perusahaan dagang
6. memahami fungsi-fungsi manajemen badan usaha, koperasi dan kewirausahaan.
Sosiologi 1. memahami sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji hubungan masyarakat dan lingkungan
2. memahami proses interaksi sosial di dalam masyarakat dan norma yang mengatur hubungan tersebut serta kaitannya dengan dinamika kehidupan sosial
3. mengidentifikasi kegiatan bersosialisasi sebagai proses pembentukan kepribadian
4. mengidentifukasi berbagai perilaku menyimpang dan anti sosial dalam masyarakat
5. menganalisis hubungan antara struktur dan mobililitas sosial dalam kaitannya dengan konflik sosial
6. mendeskripsikan berbagai bentuk kelompok sosial dan perkembangannya dalam masyarakat yang multikutural
7. menjelaskan proses perubahan sosial pada masyarakat dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat
8. menjelaskan hakikat dan tipe–tipe lembaga sosial dan fungsinya dalam masyarakat
9. melakukan penelitan sosial secara sederhana dan mengkominukasikan hasilnya dalam tulisan dan lisan
Seni budaya Seni Musik
1. mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni musik tradisional dan nontradisional dengan beragamteknik, media, dan meteri musik daerah setempat
2. mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni musik tradisional dan nontradisional dengan beragam proses, teknik,prosedur,media,dan materi musik nusantara
3. mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni musik tradisional dan nontradisional dengan beragam proses,teknik,prosedur,media,dan materi musik mancanegara (NonAsia)
Seni Rupa (Program IPA)
1. Mengpresiasikan dan mengekspresikan karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat dan nusantara
2. mengapresi dan mengekspresikan karya seni terapan dengan memanfaatkan teknik mistar dan proyeksi dengan mempertimbangkan fungsi dan corak seni rupa terapan Nusantara dan mancanegara
3. mengapresikan dan mengekspresikan karya seni rupa murni dan terapan (modern /kontemporer)yang di kembangkan dari beragam unsur,corak dan teknik seni rupa nusantara
Pendidikan jasmani,olah raga dan kesehatan
1. mempraktekan ketrampilan permainan dan olah raga dengan menggunakan peraturan
2. mempraktekkan rangkain senam lantai dan irama serta nilai – nilai yang terkandung didalamnya
3. mempraktekan pengembangan mekanik sikap tubuh,kebugaran jasmani serta aktivitas lainnya
4. mempraktekkan gerak ritmik yang meliputi senam pagi,senam aerobik,dan aktivitas lainnya
5. mempraktekan kegiatan dalam air seperti renang,permainan di air dan keselamatan di air
6. mempraktekan kegiatan-kegiatan di luar kelas seperti melakukan perkemahan,penjelajahan alam sekitar,mendaki gunung dan lain-lain
7. memahami budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari seperti perawatan tubuh serta lingkungan yang sehat,mengenal berbagai penyakit dan cara mencegahna serta menghindari narkoba dan HIV
Teknologi informasi dan komunikasi 1. memahami fungsi dan proses kerja berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi yang di topang oleh sikap cermat dan menghargai hak atas kekayaan intelektual
2. menggunakan perangkat pengolah kata,pengolah angka,pembuat grafis dan pembuat presentasi dengan variasi tabel,grafik,gambar dan diagram untuk menghasilkan informasi
3. memahami prinsip dasar internet/internet dan menggunakannya untuk memperoleh imformasi,berkomunikasi dan bertukar imformasi
Bahasa Arab (program pilihan) Mendengarkan
1. Memahami bunyi huruf hijaiyah, wacana lisan berbentuk paparan atau dialog sederhana tentang Identitas Diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan keluarga dan kegemaran
Berbicara
2. Mengungkapkaninformasi sederhana secara lisan dalam bentuk paparan atau dialog tentang Identitas Diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan keluarga dan kegemaran
Membaca
3. Memahami wacana tulis berbentuk paparan atau dialog sederhana tentang Kegemaran Identitas Diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan keluarga dan kegemaran
Menulis
4. Mengungkapkan informasi sederhana secara tertulis dalam bentuk paparan atau dialog tentang Identitas Diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan keluarga dan kegemaran
B, STRUKTUR DAN MUATAN KTSP SMA NEGERI 1 NIPAH PANJANG
Kelompok Mata pelajaran
Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pindidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut
1. kelompok mata pelajaran agama dan ahlak mulia
2. kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian
3. kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi
4. kelompok mata pelajaran estetika
5. kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana di uraikan dalam PP 19/2005 pasal 7
cakupan setiap kelompok mata pelajaran disajikan sebagai berikut :
No Kelompok Mata Pelajaran Cakupan
1 Agama dan Akhlak Mulia Kelompok mata pelajaran agama dan ahlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika,budi pekerti,atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
2 Kewarganegaraan dan kepribadian Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian di maksudkan untuk peningkatan kesadarandan wawasan paserta didik akan status,hak,dan kewajibannya dalam kehidupan dalam bermasyarakat,berbangsa,dan bernegara,serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia
Kesadaran dan wawasan termasuk wawasan kebangsaan,jiwa dan patriotisme bela negara,penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia,kemajemukan bangsa,pelastarian lingkungan hidup,kesetaraan gender,demokrasi,tanggung jawab sosial,ketaatan pada hukum,ketaatan membayar pajak,dan sikap serta perilaku antara korupsi,kolusi,dan nepotisme
3 Ilmu pengetahuan dan teknologi Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMA Negeri 1 Nipah panjang di maksudkan untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis,kreatip dan mandiri.
4 Estetika Kelompok mata pelajaran estetika dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas,kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni.kemampuan dan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi,baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup,maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis.
5 Jasmani Olahraga dan Kesehatan Kelompok mata pelajaran jasmani,olahraga dan kesehatan pada SMA Negeri 1 Nipah panjang di maksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sikap sportip,disiplin,kerja sama,danhidup sehat
Budaya hidup sehat termasuk kesadaran,sikap,dan perilaku hidup sehat yang bersifatindividual ataupun yang bersifat kolektif kemasyarakatan seperti keterbebasan dari perilaku seksual bebas,kecanduan narkoba,HIV/AIDS,demam berdarah,muntaber,dan penyakit lain yang potensial untuk mewabah
D.Muatan Lokal
Muatan Lokal Merupakan Keguatan Kukikulum untuk Mengembangkan kompetensi yang di sesuaikandengan ciri khas dan potensi daerah,termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak sesuai menjandi bagian dari mata pelajaran lain dan atau terlalun banyak sehingga harus menjadi mata pelajaran tersendiri.supstasi muatan lokol di tentukan oleh satuan pendidikan,tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan.muatan lokal merupakan mata pelajaran,sehingga satuan pendidikan mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang di selenggarakan. satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran lokal setiap semester.ini berarti dalam satuan tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran
Dengan mengacu pada suptansi yang ada SMA negeri 1 Nipah Panjang memberi Kan muatan lokal berdasarkan kebutuhan dan budaya daerah yaitu memberikan wawasan dan keterampilan yang utuh terhadap penguasaan teknologi informasi dan komunikasi sesuai kebutuhan peserta didik dan tuntutan masyarakat lokal,nasional mau pun global.
Muatan yang di kembangkan di SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung Timur adalah pemenuhan kebutuhan peserta didk akan keterampilan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam menyonsong tantangan informasi yang global
N0 Kelas Mutan lokal
1 X Tata Busana
1. Mengetahui tentang kewiraswastaan
2. Memiliki pengetahuan tentang tekstil
3. mengetahui tentang pengelolaan usaha secara sederhana.
4. Mengetahui tentang perkembangan busana
5. Mengenal macam-macam alat menjahit
6. Praktek menjahit secara sederhana
2 XI Tata Busana
1. Mempergunakan alat menjahit dan merawatnya
2. Mengenal ukuran yang dipergunakan untuk membuat pola dasar
3. Praktek membuat pola dasar
4. Praktek membuat rak
3 XII Tata Boga
1. Mengenal jenis-jenis masakan khas Indonesia
2. praktek pembuatan makanan
E.Kegiatan pengembangan diri
Pengembangan diri adalahkegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan,bakat,minat,setiap peserta didik sesuai dengan kondisi SMA 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung Timur.
Kegitan pengembangan diri dilakukan melalui :
1. kKegitan pelayanan Konsling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pembentukan karier peserta didik, pengembangan diri bagi peserta didik SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung timur terutama ditujukan untuk mengembangkan kreatifitas dan bimbingan karier,
2. Kegiatan pengembangan diri dan kreatifitas siswa dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang mencakup kegiatan
A. Krida
1. Pramuka
2. PMR ( Palang Merah Remaja )
3. Paskibraka
4. Pencinta Alam
B. Karya Ilmiah Remaja ( KIR )
C. Latihan Lomba Kebakatan / Prestasi
1. Olah Raga
1. Bola Kaki
2. Bola Volly
3. Basket
4. Bulu Tangkis
5. Tenis Meja
6. Atletik
7. Bela Diri
2. Seni
1. Drumbend
2. Bend/ Seni Musik
3. Tari / Teater
4. Dakwah/Pidato
3. English Study Forum
Setiap peserta didik diberi kesmpatan untuk memilih jenis ekstrakurikuler yang ada di SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung Timur, segala aktifitas peserta didik berkenaan denga n kegiatan ekstrakurikuler dibawah pembinaan dan pengawasan guru pembina yang telah ditugasi oleh Kepala sekolah yang dikoordinir oleh Pembina Osis dan Wakil Kesiswaan.
F. Beban Belajar
Beban belajar yang diatur di SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung dengan menggunakan paket yaitu sitim penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai denga struktur kurikulum yang berlaku pada SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung Timur, Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistim paket dinyatakan dalam satuan jam pembelajaran.
Beban belajara dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengukuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka, penugasan berstruktur dan kegiatan mandiri tidak berstruktur, semua itu dimaksudkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik.
Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peaerta didik dengan pendidik. Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran di SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung berlangsung selama 45 menit.
Jumlah jam tatap muka yang tercantum dalam struktur kurikulum sekolah adalah sebagai berikut :
No Kelas Jumlah Jam pembelajaran per Minggu
1 X 39
2 XI 39
3 XII 39
Pememanfaatan alokasi waktu kegiatan terstruktur dan terstruktur sebanyak maksimum 60 % dari jumlah alokasi waktu tatap muka per mata pelajaran disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mata pelajaran. Alokasi waktu dimaksud digunakan untuk pelaksanaan remedial dan pendalaman/pengayaan materi.
G. Ketuntasan belajar
SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjab Timur menentukan ketuntasan Minimal dengan mempertimbangkan kemampuan rata-rata peserta didik, kompleksitas kompetensi, serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran dan perpedoman pada Kriteria Ketuntasa Minimal ( KKM ) pada Kurikulum Edisi 2 ( KTSP Edisi 2 ).
Kriteria Ketuntasan Minimal KTSP Edisi III ini dapat dilihat sebagai berikut :
Kelas X
Mata pelajaran Kriteria ketuntasan
PPK dan Praktek Sikap
1.Pendidikan Agama 65 / 65 Cukup
2.Kewarganegaraan 65 / 65 Baik
3.Bahasa Indonesia 63 / 63 Baik
4,Bahasa Inggris 62 / 62 Baik
5,Matematika 62 / 62 Baik
6.Fisika 60 / 60 Baik
7.Biologi 62 / 62 Baik
8.Sejarah 68 / 68 Baik
9.Geografi 65 / 65 Baik
10.Kimia 64 / 64 Baik
11,Ekonomi 65 / 65 Baik
12.Sosiologi 63 / 63 Cukup
13.Penjas 60 / 60 Cukup
14.TIK
15.Seni Budaya 67 / 67 Baik
16,Bahasa Jerman 61 / 61 Baik
17. Budi Pekerti Cukup
PROGRAM ILMU PENGATAHUN ALAM ( IPA )
Mata Pelajaran Kritrian ketuntasab Minimal
Kelas XI Kelas XII
PPK dan Praktek sikap PPK dan Praktek Sikap
1.Pendidikan
Agama 66/66 Baik 66/66 Baik
2. Kewarganegaraa 68/68 Baik 68/68 Baik
3.Bahasa Indonesia 67/67 Baik 67/67 Baik
4.Bahasa Inggris 65/65 Baik 65/65 Baik
5.Matematika Baik 60/60 Baik
6.Fisika 60/60 Baik 65/65 Baik
7.Kimia 65/65 Baik
8.Biologi 63/63 Baik 61/61 Baik
9. Sejarah 62/62 Baik 65/65 Baik
10,Seni Budaya 65/65 Baik 65/65 Baik
11.Penjas 62/62 Baik 70/70 Baik
12,TIK 68/68 Baik 68/68 Baik
13Tata Buasa/Tata
Boga/Budi pekerti 65/65 Baik 70/70 Baik
14.Bahasa Arab 60/60 Baik 60/60 Baik
PROGRAM ILMU PENGETAHUAN SOSIAL ( IPS )
Mata Pelajaran Kritrian ketuntasab Minimal
Kelas XI Kelas XII
PPK dan Praktek sikap PPK dan Praktek Sikap
1.Pendidikan
Agama 65/65 Cukup 65/65 Cukup
2. Kewarganegaraa 65/65 Cukup 65/65 Cukup
3.Bahasa Indonesia 67/67 Baik 67/67 Baik
4.Bahasa Inggris 65/65 Baik 65/65 Cukup
5.Matematika 60/60 Baik
6. Sejarah 60/60 Cukup 60/60 Cukup
7. Geografi 68/68 Baik 64/64 Cukup
8.Ekonomi 65/65 Cukup 65/65 Cukup
9. Sosiologi 63/63 Cukup 68/68 Baik
10. Seni Budaya 65/65 Baik 65/65 Cukup
11. Penjas 62/62 Baik 70/70 Baik
12. TIK 68/68 Baik 68/68 Baik
13. Bhs Arab 60/60 Baik 60/60 Baik
14. Tata Busana/
Tata Boga/budi
pekerti
Dari data yang ada SMA Negeri 1 nIpah Panjang Meningkatkan kroteria ketutasan belajar secara bertahap dan terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan idial yaitu 75.
H. Kenaikan Kelas, Penjurusan,Kelulusan dan Mutasi
EVALUASI BELAJAR
1. Siswa wajib mengikuti KBM 75 % setiap mata pelajaran
2. Siswa yang kehadirannya kurang dari 75 % tidak berhak ikut ujian semester/Blok
3. Apabila Butir 1 dan 2 tidak terpenuhi diserahkan kepada Tim yang dipim[pin oleh kepala sekolah
Kenaikan Kelas
Kenaikan kelas dilaksanakan setiap akhir tahun pelajaran, kriteria kenaikan kelas diatur sebagai berikut :
1. Peserta didik harus menyelesaikan seluruh program pembelajaran dikelas yang bersangkutan
2. Peserta didik dinyatakan tidak naik kelas XI, apabila yang bersangkutan tidak mencapai ketuntasan belajar minimal lebih dari 3 ( tiga ) mata pelajaran
3. Peserta didik dinyatakan tidak naik kelas XII apabila yang bersangkutan tidak mencapai ketuntasan minimal, lebih dari 3 ( tiga ) mata pelajaran yang bukan mata pelajaran ciri khas program studi
Yang merupakan ciri khas bidang studi:
Program IPA, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi
Program IPS, Matematika IPS, Ekonomi, Geografi, Sosiologi
4. Peserta didik memperoleh nilai minimal baik pada penilaian
akhir tahun pelajaran untuk seluruh mata pelajaran
kelompok mata pelajaran Agama dan akhlak muli, kelompok
kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata
pelajaran
estetika dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga dan
kesehatan
5. Siswa dinyatakan tidak naik kelas, apabila memilki lebih 70
point dalam pelanggaran tata tertip
Penjurusan
1. Waktu Penjurusan
a. Penentuan penjurusan program IPA dan IPS dilakukan mulai akhir semester 2 kelas X
b. Pelakasanaan penjurusan program studi disemester 1 kelas XI
2. Kriteria Penjurusan
a. Nilai Akdemik Peserta didik naik kekelas XI dan akan mengambil program studi tertentu : yaitu IPA atau IPS boleh memiliki nilai yang tidak kompeten paling banyak 3 ( tiga ) mata pelajaran- mata pelajaran yang bukan menjadi ciri khas program studi tersebut ( lihat struktur Kurikulum), penjurusan peserta didik yang memasuki program IPA adalah peserta didik yang memilki nilai mata pelajaran program ilmi Alam ( fisika, kimia, biologi, Matematika ) rata-rata 65.
b. Minat Peserta didik, Untuk mengetahui minat peserta didik dapat dilakukan melalui angket/kuesioner dan wawancara yang dilakukan guru BK dan Wali Kela, atau cara lain yang dapar digunakan untuk mendektesi minat dan bakat
c. Batas Waktu untuk pindah program paling lambat satu minggu dengan memperhatikan pertimbangan dari Tim
Kelulusan
Kelulusan diatur dengan ketentuan Peraturan Pemerintah yang berlaku pada tahun tersebut, dengan ketentuan dari sekolah sebagai berikut :
1. Menyelesaikan seluruh program pengajaran
2. Lulusan ujian Nasional dengan ketentuan yang diatur dalam peraturan Mentri dan prosedur operasi Standar ( POS ) tentang ujian Nasional
3. Lulus Ujian sekolah. Yang ditentukan oleh sekolah melalui rapar mejelis Guru
Mutasi
SMA Negeri 1 Nipah Panjang, menentukan persyaratan pindah / mutasi peserta didik sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah,melalui suatu mekanisme yang objektif dan transparan antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut :
a. Memenuhi persratan yang ditentukan
1. Surat permohonan yang bersangkutan
2. Memiliki laporan hasil belajar ( lapor ) dengan nilai lengkap dari sekolah asal
3. Memiliki ajajah sekolah menengah pertama/sederajat
4. Memiliki nomor induk Nasional
5. Memiliki surat pindah dari sekolah asal
6. Ketentuan Mutasi
a. Untuk semester Ganjil, kelas X tidak menerima Pindahan dan kelas XI dan XII menerima siswa pindahan paling lambat dimulai pada bulan Agustus sampai dengan bulan September
b. Untuk Semester Genab, kelas X dan XI menerima siswa Pindahan dan XII tidak doterima lagi dengan ketentuan yang sama yang dilaksanakan pada paling lambat Bulan Februari
7. Proses penerimaan melalui Teim
Penerimaan Siswa Baru ( PSB )
Syarat Pendaftaran
1. Lulus SMP/ MTS/ Paket B dengan membawa Photo Copy Ijajah/STK atau keterangan lulus dari kepsek yang asli
2. Mengisi Formulir Pendaftaran, dengan biaya pendaftaran Rp 20.000 ( dua puluh Ribu Rupiah )
3. Seleksi penerimaan dengan menggunakan Test ujian tertulis
4. Beban Kelas Maksimal 32 Orang Siswa
KELENDER PENDIDIKAN
A. Alokasi waktu
No kegiatan Alokasi Waktu Keterangan
1 Minggu Efektif Belajar Minimum 34 minggu dan maksimum 38 minggu Digunakan kegiatan pembelajaran pada setiap satuan pendidikan
2 Jedah Tengah Semester Maksimum 2 Minggu Satu Minggu setiap semester
`3 Jedah Antar semester Maksimum 2 Minggu Antar semester 1 dan 2
4 Libur Akhir Tahun Pelajaran Maksimum 3 Minggu Digunakan untuk persiapan kegiatan adminitrasi akhir awal tahun pelajaran
5 Hari libur Keagamaan 2-4 MInggu Dari Minggu Efektif
6 Hari Libur Umum Maksimum 2 Minggu Disesuaikan dengan peraturan pemerintah
7 Libur Khusus Maksimum 1 MInggu Disesuaikan dengan Kekhususan sekolah
8 Kegiatan Khusus sekolaj Maksimum 2 Minggu Digunakan untuk kegiatan Program sekolah
B. Penetapan Kelender Pendidikan
1. Permulaan Tahunpelajaran adalah Bulan Juli Setiap Tahun
Dan berakhir Bulan Juni Tahun Berikutnya
2. hari Libur Ditetapkan Berdasarkan Keputusan Menteri
Pendidikan Agama, Kepala Daerah Kabupten atau Dinas
Pendidikan Kabupaten
Tiada kata yang paling indah selain mengucapkan Puji dan syukur Kehadirat Allah Yang Maha Esa atas limpahan dan rahmat dan Hidayah-nya, sehingga SMP Negeri 1 Galesong Utara Kab. Takalar dapat menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) untuk lingkungan sendiri yang merupakan bagaian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik yang disesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), seni serta pergeseran paradigma pendidik yang beroentasi pada kebutuhan didik, dengan tidak meningggalkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) ini merupakan Edisi Ke dua yang disusun dan disempurnakan pada satuan pendidikan SMP Negeri 1 Galesong Utara Kab. Takalar dan akan diberlakukan untuk tingkatan kelas VII, VIII, IX yang akan dilaksanakan pada Tahun pelajaran 2010/2011.
Pengantar KTSP ini memuat beberapa hal antara lain : Kerangka dasar Kurikulum, Beban belajar, Kelender Pendidikan, Standar kompetensi kelulusan, Standar kompetensi kelompok mata Pelajaran, Silabus yang disusun oleh Guru Mata pelajaran, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan rencana pelaksanaan pengajaran.
Penyusunan KTSP SMP Negeri 1 Galesong Utara merupakan Hasil kerja TIM yang dibentuk oleh kepala sekolah, dan bantuan dari berbagai pihak . Akhirnya tidak ada yang sempurna diatas dunia ini kecuali Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang berlaku dimuka Bumi ini, Demikian juga dengan Kurikulum yang kami susun ini.
Harapan kami saran dan masukan yang membangun untuk perbaikan sangat diharapkan. Terimakasih Kepada Semua Pihak yang telah berperan Aktif secara langsung maupun tidak langsung, semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan jalan terbaik bagi kita semua, demi kemajuan pendidikan di Kabupaten Takalar Kec. Galesong Utara khususnya di SMP Negeri 1 Galesong Utara, Amin!
Bontolebang, 10 Januari 2010
Penyusun
TIM KTSP SMPN 1 Galesong Utara
SAMBUTAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan Nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi potensi Daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu Kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada didaerah.
Pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan ( KTSP ) yang beragam mengaju kepada standar Nasional pendidikan yang menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar Nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi, lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan pembiayaan, dan penilaian pendidikan, dua dari delapan stantar nasional pendidikan tersebut, yaitu stabdar isi ( SI ) dan standar kompetensi lulusan ( SKL ) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan Kurikulum.
Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di SMA Negeri 1 Nipah Panjang apabila kegiatan belajarmampu membentuk pola tingkah laku peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan, serta dapat dievaluasi melalui pengukuran dengan menggunakan tes dan non tesw. Proses pembelajaran akan efektif apabila dilakukan melalui persiapan dan terencana dengan baik supaya dapat diterima untuk memenuhi :
1 Kebutuhan masyarakat setempat dan masayarakat global
2 Mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi perkembangan dunia global
3 Sebagai proses untuk melajutkan ke jenjang yang lebih tinggi
B. Landasan
1. Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional Pasal 38 Ayat 2 dan Pasal 51 ayat 1
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 17 Ayat 2 dan Pasal 49 Ayat 1
3. Peraturan Mendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi
4. Peraturan Mendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kopetensi Lulusan
5. Peraturan Mendiknas nomor 24 Tahun 2006 Tentang Pelaksanaan Permen Diknas Nomor 22 dan 23
6. KTSP SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung Timur Edisi dua Tahun Pelajaran 2009/2010
C. Tujuan Pendidikan Menengah Atas
Tujuan Pendidikan Menengah atas adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan , kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
BAB II
VISI, MISI DAN TUJUAN
A. Visi
Visi SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung Timur adalah, Mewujudkan sekolah yang berprestasi berdasarkan IMTAQ dan IPTEK
B. Misi
1. Menciptakan lingkuangan pembelajaran yang kondusif dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran
2. Menumbuh kembangkan semangat keunggulan dan bernalar sehat kepada peserta didik, guru dan kariyawan sehingga benkemauan kuat untuk terus maju
3. Meningkatkan komitmen seluruh tenaga kependidikan terhadap tugas pokok dan pungsinya
4. Mewujudkan Menejemen kepemimpinan yang partisipatif dan propesional
C. Tujuan
1. Mempersiapkan peserta didik yang bertaqwa kepada Allah Tuhan yang Maha Esa
2. Mempersiapkan peserta didik agar menjadi manusia yang berkepribadian, cerdas. Berkualitas dan berprestasi dalam bidang Akademik, olah raga dan seni
3. Membekali peserta didik bersikap ulet dan gigih dalam berkompetensi ,beradaptasi, dengan lingkuang dan mengembangkan sikap sportfitas
4. membekali peserta didik agar memiliki ketrampilan teknologi informasi dan komunikasi serta mampu mengembangkan diri secara mandiri
5. Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu bersaing dan melajutkan k pendidikan yang lebih tinggi
BAB III
SRUKTUR DAN MUATAN KTSP
A.STANDAR KPMPETENSI LULUSAN
Mata Pelajaran Standar Kompetensi Kelulusan
Pendidikan Agama Islam 1. Memahami ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan pungsi manusia sebagai khalifah, demokrasu serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
2. Meningkatkan keimanan kepada Allah sampai qodha dan qodar melaluli pemahaman terhadap sifat dan asmaul Husna
3. Berperilaku terpuji seperti hasnuzzhan,taubatdan raja dan meninggalkan prilaku tercela seperti isyrof,tabzir dan fitnah
4. Memahami sumber hukum Islam dan hukum taklifi serta menjelaskan hukum muamalah dan hukumkelurga dalam Islam
5. Memahami sejarah Nabi Muhammad pada periode Mekah dan Madinah serta perkembangan Islam di Indonesia dan Dunia
Pendidikan Agama Kristen 1. Mehuzudkan nilai kristiani dalam pergaulan dan kehidupan sosial
2. Merespon berbagai bentuk kehidupan modren, perkembangan budaya dan ilmu pengetahuan dan iptek dengan mengacu pada ajaran kristen
3. bertanggung jawab sebagai orang kristen dalam kehidupan Gereja, masayarakat dab bangsa
4. Menyampaikan berita damai dan menjadi pembawa damai sejahtera
Pendidikan agama Katolik 1. Peserta didik dapat menguraikan pemahaman tentang pribadinya sebagai pria dan wanita serta citra allah yang memiliki akal budi untuk berpikir kritis serta memiliki suara hati dan kehendak yang bebas untuk bertindak serta bertanggung jawab
2. Peserta didik menguraikan tentang pribadi Yesus Kristus yang diwartakan oleh kitab suci dan diajarkan oleh gereja dan bagaimana upaya nyata meneladani dalam hidup sehari-hari
3. Peserta didik dapat menguraikan pemahaman makna gereja, pungsi dan sifat-sifatnya serta hubungannya dengan dunia dan bagaimana menghayati dalam hidup Bergereja
4. Peserta didik menguraikan pungsi Gereja yaitu melajutkan perutusan Yesus untuk mewartakan kerajaan Allah dan melibatkan diri dalam perutusan itu untuk memperjuangkan martabat dan hak asasi manusia
Pendidikan Kewarganegaraan 1. Memahami hakekat bangsa dan negara kesatuan Rebublik Indonesia
2. Menganalisis sikap positifterhadap penegakan hgukum, peradilan nasional dan tindakan anti korupsi
3. Menganalisis pola-pola dan partisipasi aktif dalam pemajuan,penghormatan serta penegakan HAM baik di Indonesia maupun di luar Negeri
4. Menganalisis peran dan hak warga negara dan sistim pemerintah NKRI
5. Menganalisis budaya politik demokrasi, kostitusi, kedaulatan negara,keterbukaan dan keadilan Indonesia
6. Mengevaluasi hubungan internasional dan sistem hukum Internasional
7. Mengevaluasi sikap berpolitik dan masyarakat madani sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945
8. Menganalisis peran Indonesia dalam politik dan hubungan Internasional, Regional, dan kerjasama global lainnya
9. Menganalisis sitem hukum Internasional , timbulnya konflikInternasional, dan Makamah Internasional
10. Menganalisis Hukum Nasional dalam
praktek dilapangan melalui praktek
pengalaman lapangan
Bahasa Indonesia 1. Mendengarkan
Memhami wacana lisan dan kegiatan menyampaikan berita,laporan dan saran,berberita,pidato,wawancara,diskusi,seminar,dan pembacaan karya sastra berbentuk puisi, cerita rakyat,drama,cerpen,dan Novel.
2, Berbicara
Menggunakan wacana lisan uyntuk mengungkapkan pikiran,perasaan,dan informasi dalam kegiatan perkenalan, diskusi,bercerita,presentase hasil penelitian, serta mengomentari pembacaan puisi dan pementasan drama
3. Menbaca
Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana tulis teks nonsastra berbentuk grafik,tabel artikel,tajuk rencana,teks pidato,serta teks sastra berbentuk puisi,hikayat,novel,biografi,puisi konttemporer,karya sastra berbagai angkatan dan satra Melayu klasik
4. Menulis
Menggunakan berbagai jenis wacana tulis untuk mengungkapkan pikiran,perasaan, dan informasi dalam bentuk teksnarasi, deskripsi,eksposisi,argumentasi,teks pidato,proposal,surat dinas,surat dagang,rangkuman,ringkasan,notulen, lapoaran, resensi, karaya ilmiah,dan berbagai karya sastra berbentuk puisi,cerpen,drama, dan esai
Bahasa inggris 1. Mendengarkan
Memahami makna dan wacana lisan interpersonal dan transaksional, secara formal maupun informal, dalam bentuk recount,narrative,procedure,descriptipe, news item,report, analitycal,discussion dan review, dalam konteks kehidupan sehari-hari
2. Berbicara
Mengungkapkan makna secara lisan dalam wacana interpersonal dan tarnksaksional, secara formal, dalam bentuk recount,narrative,procedure,descriptipe, news item,report, analitycal,discussion dan review, dalam konteks kehidupan sehari-hari
3. Membaca
Memahami makna wacana tertulis interpersonal dan transaksional, secara formal maupun informal dalam bentuk recont, narrative, procdure, desciptive, news item, report, analytical, explanation, discusstiuon, dan review, dalam kehidupan sehari-hari
4. Menulis
Mengungkapkan makna wacana tertulis interpersonal dan transaksional, secara formal maupun informal dalam bentuk recont, narrative, procdure, desciptive, news item, report, analytical, explanation, discusstiuon, dan review, dalam kehidupan sehari-hari
Matematika Program IPA
1. Memahami pernyataan dalam matematika dan ingkaranya,dalam menentukan nilai kebenaran pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor, serta menggunakan prinsip logika metematika dalam pemecahan masalah
2. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan aturan pangkat,akar logaritma, pungsi aljabar sederhana, pungsi kuadrat,fungsi eksponem dan grafiknya, fungsi komposisi dan pungsi invers, persamaan dan pertidaksamaan kuadrat, persamaan lingkaran dan persamaan garis singgungannya, suku banyak, algoritma dan pembagian serta teorema sisa, program linier, matriks, dan determinan, vektor, transformasi, geomentri, dan komposisinya, barisan deret, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah.
3. Menentukan kedudukan, jarak dan besar sudut yang melibatkan titi, garis dan bidang ruang dimensi tiga serta menggunakannya dalam pemecahan masalah
4. Memahami konsep perbandingan, pungsi persamaan, dan identitas trigonometri, rumus sinus dan ko sinus jumlah dan selisih dua sudut, rumus jumlah dan selisih sinus dan kosinus, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah
5. Memahami limit fungsi aljabar dan pungsi trigonometri, disuatu titik dan sipat-sipatnya turunan pungsi, nilai eksteren, integraltak tentu dan integral fungsi aljabar dan trigonometri serta menerapkannya dalam pemejahan masalah
6. Memhami dan mengakflikasikan penyajian data dalam bentuk tabel,diagram,gambar,grafik dan ogive, ukuran pemusatan ,letak ukuran penyebaran permutasi dan kombinasi, ruang sampel dan peluang kejadian dan menerapkannya dalam pemecahan masalah
7. Memiliki sikap mengahargai matematuka dan kegunaannya dalam kehidupan
8. Memiliki kemampuan berpikir logis, analitis,sistematis, kritis, dan kreatif, serta mempunyai kemampuan bekerja sama
Program IPS
1. Memahami pernyataan dalam matematika dan ingrannya menentukan nila kebenaran pernyataan mejemuk dan pernyataan berkuantor, serta menggunakan prinsif logika matematika dalam pemecahan masalah yang berakitan dengan menyatakan majemuk dan pernyataan berkuantor
2. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan aturan pangkat ,akar dan logaritma,Fungsi aljabar sederhana, fungsi kuiadrat dan grafiknya persamaan dan pertidaksamaan kuadrat, komposisi dan invers fungsi, program linier matriks dan dan diterminan,vektor transformasi geomentri dan komposisinya barisan dan deret, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah
3. Menentukan kedudukannya jarak dan besar sudut yang melibatkan titik,garis dan bidang diruang dimensi tigaserta menggunakannya dalam pemecahan masalah
4. Memahami konsep perbandingan,fungsi,persamaan dan identitas trigonometri serta menggunakan dalam pemecahan masalah
5. memahami limit fungsi aljabar dan fungsi trigonometri disudut titik dan sifat-sifatnya, turunan fungsi , nilai ekstren, integral tak tentu dan integral tentu fungsi aljabar dan trigonometri serta menerapkannya dalam pemecahan masalah
6. Mengaplikasikan penyajian data dalam bentuk tabel, diagram, gambar, grafik, ogive, ukuran pemusatan, letak dan ukuran penyebaran, permutasi dan kombinasi, ruang sampel dan peluang kejadian, dalam pemecahan masalah
7. Memiliki sikap penghargaan matematika dan kegunaannya dalam kehidupan
8. Memilki kemampuan berpikir logis analitis,sistematis, kritis dan kreatif serat mempunyai kemampuan bekerja sama
Fisika 1. Melakukan percobaan,antara lain merumus kan masalah,mengajukan dan mengguji hipotesis,menentukan pariabel,merancang dan merakit instrumen,mengumpulkan,mengolah dan menafsirkan data,menarik kesimpulan,serta mengkomunikasikan hasil percobaan dan tertulis
2. Memahami prinsif – prinsif pengukuran dan melakukan pengukuran besaran fisika secara langsung dan tidak langsung secara cermat,teliti,obyektif
3. Mengnalisis segala alam dan keteraturan nya dalam cakupan mekanika benda titik,kekekalan energi,impuls,dan momentum
4. Mendeskripsikan prinsip dan konsep konfervasi kalor sifat gas ideal,fluida dan perubahannya yang menyangkup hukum termodinamika serta penerapan nya dalam mesin kalor
5. Menerap kan konsep dan prinsip optik dan gelombang dalam berbagai penyelesaian masalah dan produk teknologi
6. Menerapkan konsep dan prinsip kelistrikkan dan kemagnetan dalam berbagai masalah dan produk teknologi
Biologi 1. Merumuskan masalah,mengajukan dan menguji ipotesis,menentukan pariabel,merancang dan merakit instrumen,menggunakan berbagai peralatan untuk melakukan pengamatan dan pengukuran yang tepat dan teliti,mengupulkan,mengolah,menafsirkan dan menyajikan data secara sistematis,dan menarik kesimpulan bukti yang di peroleh,serta berkomunikasi ilmiah hasil percobaan secara lisan dan tertulis
2. Memahami keanekaragaman hayati dan klasifikasinya,peranan keanekaragaman hayati bagi kehidupan dan upaya kelestarian
3. Menganalisis hubungan antar komponen ekosistem perubahan materi dan energi,serta peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem
4. Memahami konsep sel dan jaringan,keterkaitan antara struktur dan fungsi organ kelainan dan penyakit yang mungkin terjadi pada sistem organ serta implikasinya pada sains,lingkungan,teknologi dan masyrakat
5. Memahami faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan proses metabolisme dan hereditas,evolusi dan implikasinya dengan sains,lingkungan,teknologi dan masyarakat
6. Memahami prinsif-prinsif dasar bioteknologi serta implikasinya pada sains lingkungan,teknologi dan masyarakat
Kimia 1. Melakukan percobaan,antara lain merumuskan masalah,mengajukan dan menguji hipotesis,menentukan pariabel,merancang dan merakit instrumen,mengumpulkan,mengola dan menafsirkan data,menarik kesimpulan,serta mengkomunikasi hasil percobaan serta lisan dan tertulis
2. Memahami hukum dasar dan penerapannya,cara perhitungan dan pengukuran fenomena reaksi kimia yang terkait dengan kinetika dan keseimbangan,kekekalan masa dan kekekelan energi
3. Memahami sifat berbagai larutan asam-basa larutan koloit,larutan elektrolit-non elektrolit,termasuk cara pengukuran dan kegunaannya
4. Memahami konsep reaksi oksidasi –eduksi dan elekrto kimia serta menerapkannya dalam penomena pembentukan energi listrik,korosi logam dan pemisan bahan (elektrolisis)
5. Memahami struktur molekul dan reaksi senyawa organik yang meliputi benzena dan turunannya,lemak karbohitdrat,protein dan polimer serta kegunaannya sehari-hari
Sejarah Kelas X
1. Memahami ruang lingkup sejarah
2. Menggunakan prinsip-prinsip dasar penelitian sejarah
3. Menganalisis masa pra-aksara dan masyarakat aksara pada masyarakat indonesia
4. Menganalisis kehidupan awal masyarakat di indonesia meliputi peradapan awal,asal-usul dan persebaran manusia di wilayah nusantara/indonesia
Program IPS
1. Menganalisis kehidupan awal,peradapan manusia indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia,serta asal usul dan persebaran manusia di indonesia
2. Menganalisis perkembangan bangsa indonesia pada masa negara tradisional,meliputi perkembangan budaya,agama,dan pemerintahan masa hindu-buddha,masa islam,proses interaksi antara tradisi lokal,hindu-buddha,dan islam di indonesia
3. menganalisis kesejarahan masa kolonial hindia belanda(pengaruh barat) meliputi perubahan ekonomi,demografi,sosial,serta politik dan masa kolonial jepang yang meliputi perubahan sosial-ekonomi,politik
4. menganalisis pengaruh berbagai revolusi politik dan sosial di dunia (revolusi perancis,revolusi amerika,repolusi rusia) terhadap perubahan sosial,ekonomi,dan politik di indonesia
5. menganalisis peristiwa sekitar proklamasi 17 agustus 1945,terbentuk negara kesatuan repoblik indonesia,dan lahirnya undang-undang dasar 1945
6. menganalisis perkembangan masyarakat indonesia mulai masa kerajaan-kerajaan hindu-buddha,kerajaan-kerajaan islam,pemerintahan kolonial belanda,ingris pemerintahan penduduk jepang,meliputi politik(lahirnya gerakan pendidikan dan nasionalisme)cita-cita terbentuknya negara dan sebagainya
7. menganalisis perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan dan persatuan NKRI dari ancaman disintegrasi bangsa,antara lain peristiwa madiun 1945 pemberontakan DI/TII,peristiwa PERMESTA,peristiwa andi ajis RMS,PRRI dan gerakan G-30-S/PKI
8. menganalisis perkembangan masyarakat indonesia sejak proklamasi sampai dengan masa orde baru dan masa repormasi,meliputi masa pemerintahan demokrasi terpimpin(orde baru 1945-1967)masa demokrasi pancasila (orde baru,1997-1998),dan masa peralihan kesama repormasi,1998-sekarang)
Mata Pelajaran Standar Kompetensi Lulusan
Geografi 1. Memahami hakekat, rung lingkup Struktur, dan pendekatan geografi
2. Mempraktekkan kretrapilan dasar peta dan memanfaatkannya dalam mengakaji Geosfer
3. memahami pemanfaatan citra dan SIG sebagai wahana memvisualkan gesfer
4. mengnalisis dinamika dan kecendrungan perubahan unsur – unsur gesfer serta dampaknya terhadap kehidupan dimuka bumi
5. memahami pola dan aturan tata surya dan jagat raya dalam kaitannya dengan kehidupan dimuka bumi
6. memahami sumber daya alam dan pemanfaatnnya secara arif
7. mengana lisis pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelajutan
8. menganalisis konsep wilayah dan pewilayahan dalam kaitannya dengan perencanaan pembangunan wilayah, pedesan dan perkotaan serta negara maju dan berkembang
13.Ekonomi 1. menganalisis permasalahan ekonomi dalam kaitannya dengan kebutuhan manusia dan sistem ekonomi
2. mendeskrpsikan kegiatan ekonomi produsen,konsumen, permintaan, penawaran dan harga keseimbaang melalui mekanisme pasar
3. mendeskrpsikan kebijakan pemerintahan dalam bidang ekonomi dalam kaitannya dengan pendapatan nasional,konsumsi, tabungan dan investasi,uang dan perbankan
4. memahami pembangunan ekonomi suatu negara dalam kaitan dengan kaitannya dengan ketenagakerjaan,APBN,pasar modal dan ekonomi terbuka
5. menyusun suklus akutansi perusahaan jasa dan perusahaan dagang
6. memahami fungsi-fungsi manajemen badan usaha, koperasi dan kewirausahaan.
Sosiologi 1. memahami sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji hubungan masyarakat dan lingkungan
2. memahami proses interaksi sosial di dalam masyarakat dan norma yang mengatur hubungan tersebut serta kaitannya dengan dinamika kehidupan sosial
3. mengidentifikasi kegiatan bersosialisasi sebagai proses pembentukan kepribadian
4. mengidentifukasi berbagai perilaku menyimpang dan anti sosial dalam masyarakat
5. menganalisis hubungan antara struktur dan mobililitas sosial dalam kaitannya dengan konflik sosial
6. mendeskripsikan berbagai bentuk kelompok sosial dan perkembangannya dalam masyarakat yang multikutural
7. menjelaskan proses perubahan sosial pada masyarakat dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat
8. menjelaskan hakikat dan tipe–tipe lembaga sosial dan fungsinya dalam masyarakat
9. melakukan penelitan sosial secara sederhana dan mengkominukasikan hasilnya dalam tulisan dan lisan
Seni budaya Seni Musik
1. mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni musik tradisional dan nontradisional dengan beragamteknik, media, dan meteri musik daerah setempat
2. mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni musik tradisional dan nontradisional dengan beragam proses, teknik,prosedur,media,dan materi musik nusantara
3. mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni musik tradisional dan nontradisional dengan beragam proses,teknik,prosedur,media,dan materi musik mancanegara (NonAsia)
Seni Rupa (Program IPA)
1. Mengpresiasikan dan mengekspresikan karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat dan nusantara
2. mengapresi dan mengekspresikan karya seni terapan dengan memanfaatkan teknik mistar dan proyeksi dengan mempertimbangkan fungsi dan corak seni rupa terapan Nusantara dan mancanegara
3. mengapresikan dan mengekspresikan karya seni rupa murni dan terapan (modern /kontemporer)yang di kembangkan dari beragam unsur,corak dan teknik seni rupa nusantara
Pendidikan jasmani,olah raga dan kesehatan
1. mempraktekan ketrampilan permainan dan olah raga dengan menggunakan peraturan
2. mempraktekkan rangkain senam lantai dan irama serta nilai – nilai yang terkandung didalamnya
3. mempraktekan pengembangan mekanik sikap tubuh,kebugaran jasmani serta aktivitas lainnya
4. mempraktekkan gerak ritmik yang meliputi senam pagi,senam aerobik,dan aktivitas lainnya
5. mempraktekan kegiatan dalam air seperti renang,permainan di air dan keselamatan di air
6. mempraktekan kegiatan-kegiatan di luar kelas seperti melakukan perkemahan,penjelajahan alam sekitar,mendaki gunung dan lain-lain
7. memahami budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari seperti perawatan tubuh serta lingkungan yang sehat,mengenal berbagai penyakit dan cara mencegahna serta menghindari narkoba dan HIV
Teknologi informasi dan komunikasi 1. memahami fungsi dan proses kerja berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi yang di topang oleh sikap cermat dan menghargai hak atas kekayaan intelektual
2. menggunakan perangkat pengolah kata,pengolah angka,pembuat grafis dan pembuat presentasi dengan variasi tabel,grafik,gambar dan diagram untuk menghasilkan informasi
3. memahami prinsip dasar internet/internet dan menggunakannya untuk memperoleh imformasi,berkomunikasi dan bertukar imformasi
Bahasa Arab (program pilihan) Mendengarkan
1. Memahami bunyi huruf hijaiyah, wacana lisan berbentuk paparan atau dialog sederhana tentang Identitas Diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan keluarga dan kegemaran
Berbicara
2. Mengungkapkaninformasi sederhana secara lisan dalam bentuk paparan atau dialog tentang Identitas Diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan keluarga dan kegemaran
Membaca
3. Memahami wacana tulis berbentuk paparan atau dialog sederhana tentang Kegemaran Identitas Diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan keluarga dan kegemaran
Menulis
4. Mengungkapkan informasi sederhana secara tertulis dalam bentuk paparan atau dialog tentang Identitas Diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan keluarga dan kegemaran
B, STRUKTUR DAN MUATAN KTSP SMA NEGERI 1 NIPAH PANJANG
Kelompok Mata pelajaran
Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pindidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut
1. kelompok mata pelajaran agama dan ahlak mulia
2. kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian
3. kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi
4. kelompok mata pelajaran estetika
5. kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana di uraikan dalam PP 19/2005 pasal 7
cakupan setiap kelompok mata pelajaran disajikan sebagai berikut :
No Kelompok Mata Pelajaran Cakupan
1 Agama dan Akhlak Mulia Kelompok mata pelajaran agama dan ahlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika,budi pekerti,atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
2 Kewarganegaraan dan kepribadian Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian di maksudkan untuk peningkatan kesadarandan wawasan paserta didik akan status,hak,dan kewajibannya dalam kehidupan dalam bermasyarakat,berbangsa,dan bernegara,serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia
Kesadaran dan wawasan termasuk wawasan kebangsaan,jiwa dan patriotisme bela negara,penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia,kemajemukan bangsa,pelastarian lingkungan hidup,kesetaraan gender,demokrasi,tanggung jawab sosial,ketaatan pada hukum,ketaatan membayar pajak,dan sikap serta perilaku antara korupsi,kolusi,dan nepotisme
3 Ilmu pengetahuan dan teknologi Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMA Negeri 1 Nipah panjang di maksudkan untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis,kreatip dan mandiri.
4 Estetika Kelompok mata pelajaran estetika dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas,kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni.kemampuan dan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi,baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup,maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis.
5 Jasmani Olahraga dan Kesehatan Kelompok mata pelajaran jasmani,olahraga dan kesehatan pada SMA Negeri 1 Nipah panjang di maksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sikap sportip,disiplin,kerja sama,danhidup sehat
Budaya hidup sehat termasuk kesadaran,sikap,dan perilaku hidup sehat yang bersifatindividual ataupun yang bersifat kolektif kemasyarakatan seperti keterbebasan dari perilaku seksual bebas,kecanduan narkoba,HIV/AIDS,demam berdarah,muntaber,dan penyakit lain yang potensial untuk mewabah
D.Muatan Lokal
Muatan Lokal Merupakan Keguatan Kukikulum untuk Mengembangkan kompetensi yang di sesuaikandengan ciri khas dan potensi daerah,termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak sesuai menjandi bagian dari mata pelajaran lain dan atau terlalun banyak sehingga harus menjadi mata pelajaran tersendiri.supstasi muatan lokol di tentukan oleh satuan pendidikan,tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan.muatan lokal merupakan mata pelajaran,sehingga satuan pendidikan mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang di selenggarakan. satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran lokal setiap semester.ini berarti dalam satuan tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran
Dengan mengacu pada suptansi yang ada SMA negeri 1 Nipah Panjang memberi Kan muatan lokal berdasarkan kebutuhan dan budaya daerah yaitu memberikan wawasan dan keterampilan yang utuh terhadap penguasaan teknologi informasi dan komunikasi sesuai kebutuhan peserta didik dan tuntutan masyarakat lokal,nasional mau pun global.
Muatan yang di kembangkan di SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung Timur adalah pemenuhan kebutuhan peserta didk akan keterampilan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam menyonsong tantangan informasi yang global
N0 Kelas Mutan lokal
1 X Tata Busana
1. Mengetahui tentang kewiraswastaan
2. Memiliki pengetahuan tentang tekstil
3. mengetahui tentang pengelolaan usaha secara sederhana.
4. Mengetahui tentang perkembangan busana
5. Mengenal macam-macam alat menjahit
6. Praktek menjahit secara sederhana
2 XI Tata Busana
1. Mempergunakan alat menjahit dan merawatnya
2. Mengenal ukuran yang dipergunakan untuk membuat pola dasar
3. Praktek membuat pola dasar
4. Praktek membuat rak
3 XII Tata Boga
1. Mengenal jenis-jenis masakan khas Indonesia
2. praktek pembuatan makanan
E.Kegiatan pengembangan diri
Pengembangan diri adalahkegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan,bakat,minat,setiap peserta didik sesuai dengan kondisi SMA 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung Timur.
Kegitan pengembangan diri dilakukan melalui :
1. kKegitan pelayanan Konsling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pembentukan karier peserta didik, pengembangan diri bagi peserta didik SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung timur terutama ditujukan untuk mengembangkan kreatifitas dan bimbingan karier,
2. Kegiatan pengembangan diri dan kreatifitas siswa dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang mencakup kegiatan
A. Krida
1. Pramuka
2. PMR ( Palang Merah Remaja )
3. Paskibraka
4. Pencinta Alam
B. Karya Ilmiah Remaja ( KIR )
C. Latihan Lomba Kebakatan / Prestasi
1. Olah Raga
1. Bola Kaki
2. Bola Volly
3. Basket
4. Bulu Tangkis
5. Tenis Meja
6. Atletik
7. Bela Diri
2. Seni
1. Drumbend
2. Bend/ Seni Musik
3. Tari / Teater
4. Dakwah/Pidato
3. English Study Forum
Setiap peserta didik diberi kesmpatan untuk memilih jenis ekstrakurikuler yang ada di SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung Timur, segala aktifitas peserta didik berkenaan denga n kegiatan ekstrakurikuler dibawah pembinaan dan pengawasan guru pembina yang telah ditugasi oleh Kepala sekolah yang dikoordinir oleh Pembina Osis dan Wakil Kesiswaan.
F. Beban Belajar
Beban belajar yang diatur di SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung dengan menggunakan paket yaitu sitim penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai denga struktur kurikulum yang berlaku pada SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung Timur, Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistim paket dinyatakan dalam satuan jam pembelajaran.
Beban belajara dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengukuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka, penugasan berstruktur dan kegiatan mandiri tidak berstruktur, semua itu dimaksudkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik.
Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peaerta didik dengan pendidik. Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran di SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjung Jabung berlangsung selama 45 menit.
Jumlah jam tatap muka yang tercantum dalam struktur kurikulum sekolah adalah sebagai berikut :
No Kelas Jumlah Jam pembelajaran per Minggu
1 X 39
2 XI 39
3 XII 39
Pememanfaatan alokasi waktu kegiatan terstruktur dan terstruktur sebanyak maksimum 60 % dari jumlah alokasi waktu tatap muka per mata pelajaran disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mata pelajaran. Alokasi waktu dimaksud digunakan untuk pelaksanaan remedial dan pendalaman/pengayaan materi.
G. Ketuntasan belajar
SMA Negeri 3 Nipah Panjang Tanjab Timur menentukan ketuntasan Minimal dengan mempertimbangkan kemampuan rata-rata peserta didik, kompleksitas kompetensi, serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran dan perpedoman pada Kriteria Ketuntasa Minimal ( KKM ) pada Kurikulum Edisi 2 ( KTSP Edisi 2 ).
Kriteria Ketuntasan Minimal KTSP Edisi III ini dapat dilihat sebagai berikut :
Kelas X
Mata pelajaran Kriteria ketuntasan
PPK dan Praktek Sikap
1.Pendidikan Agama 65 / 65 Cukup
2.Kewarganegaraan 65 / 65 Baik
3.Bahasa Indonesia 63 / 63 Baik
4,Bahasa Inggris 62 / 62 Baik
5,Matematika 62 / 62 Baik
6.Fisika 60 / 60 Baik
7.Biologi 62 / 62 Baik
8.Sejarah 68 / 68 Baik
9.Geografi 65 / 65 Baik
10.Kimia 64 / 64 Baik
11,Ekonomi 65 / 65 Baik
12.Sosiologi 63 / 63 Cukup
13.Penjas 60 / 60 Cukup
14.TIK
15.Seni Budaya 67 / 67 Baik
16,Bahasa Jerman 61 / 61 Baik
17. Budi Pekerti Cukup
PROGRAM ILMU PENGATAHUN ALAM ( IPA )
Mata Pelajaran Kritrian ketuntasab Minimal
Kelas XI Kelas XII
PPK dan Praktek sikap PPK dan Praktek Sikap
1.Pendidikan
Agama 66/66 Baik 66/66 Baik
2. Kewarganegaraa 68/68 Baik 68/68 Baik
3.Bahasa Indonesia 67/67 Baik 67/67 Baik
4.Bahasa Inggris 65/65 Baik 65/65 Baik
5.Matematika Baik 60/60 Baik
6.Fisika 60/60 Baik 65/65 Baik
7.Kimia 65/65 Baik
8.Biologi 63/63 Baik 61/61 Baik
9. Sejarah 62/62 Baik 65/65 Baik
10,Seni Budaya 65/65 Baik 65/65 Baik
11.Penjas 62/62 Baik 70/70 Baik
12,TIK 68/68 Baik 68/68 Baik
13Tata Buasa/Tata
Boga/Budi pekerti 65/65 Baik 70/70 Baik
14.Bahasa Arab 60/60 Baik 60/60 Baik
PROGRAM ILMU PENGETAHUAN SOSIAL ( IPS )
Mata Pelajaran Kritrian ketuntasab Minimal
Kelas XI Kelas XII
PPK dan Praktek sikap PPK dan Praktek Sikap
1.Pendidikan
Agama 65/65 Cukup 65/65 Cukup
2. Kewarganegaraa 65/65 Cukup 65/65 Cukup
3.Bahasa Indonesia 67/67 Baik 67/67 Baik
4.Bahasa Inggris 65/65 Baik 65/65 Cukup
5.Matematika 60/60 Baik
6. Sejarah 60/60 Cukup 60/60 Cukup
7. Geografi 68/68 Baik 64/64 Cukup
8.Ekonomi 65/65 Cukup 65/65 Cukup
9. Sosiologi 63/63 Cukup 68/68 Baik
10. Seni Budaya 65/65 Baik 65/65 Cukup
11. Penjas 62/62 Baik 70/70 Baik
12. TIK 68/68 Baik 68/68 Baik
13. Bhs Arab 60/60 Baik 60/60 Baik
14. Tata Busana/
Tata Boga/budi
pekerti
Dari data yang ada SMA Negeri 1 nIpah Panjang Meningkatkan kroteria ketutasan belajar secara bertahap dan terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan idial yaitu 75.
H. Kenaikan Kelas, Penjurusan,Kelulusan dan Mutasi
EVALUASI BELAJAR
1. Siswa wajib mengikuti KBM 75 % setiap mata pelajaran
2. Siswa yang kehadirannya kurang dari 75 % tidak berhak ikut ujian semester/Blok
3. Apabila Butir 1 dan 2 tidak terpenuhi diserahkan kepada Tim yang dipim[pin oleh kepala sekolah
Kenaikan Kelas
Kenaikan kelas dilaksanakan setiap akhir tahun pelajaran, kriteria kenaikan kelas diatur sebagai berikut :
1. Peserta didik harus menyelesaikan seluruh program pembelajaran dikelas yang bersangkutan
2. Peserta didik dinyatakan tidak naik kelas XI, apabila yang bersangkutan tidak mencapai ketuntasan belajar minimal lebih dari 3 ( tiga ) mata pelajaran
3. Peserta didik dinyatakan tidak naik kelas XII apabila yang bersangkutan tidak mencapai ketuntasan minimal, lebih dari 3 ( tiga ) mata pelajaran yang bukan mata pelajaran ciri khas program studi
Yang merupakan ciri khas bidang studi:
Program IPA, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi
Program IPS, Matematika IPS, Ekonomi, Geografi, Sosiologi
4. Peserta didik memperoleh nilai minimal baik pada penilaian
akhir tahun pelajaran untuk seluruh mata pelajaran
kelompok mata pelajaran Agama dan akhlak muli, kelompok
kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata
pelajaran
estetika dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga dan
kesehatan
5. Siswa dinyatakan tidak naik kelas, apabila memilki lebih 70
point dalam pelanggaran tata tertip
Penjurusan
1. Waktu Penjurusan
a. Penentuan penjurusan program IPA dan IPS dilakukan mulai akhir semester 2 kelas X
b. Pelakasanaan penjurusan program studi disemester 1 kelas XI
2. Kriteria Penjurusan
a. Nilai Akdemik Peserta didik naik kekelas XI dan akan mengambil program studi tertentu : yaitu IPA atau IPS boleh memiliki nilai yang tidak kompeten paling banyak 3 ( tiga ) mata pelajaran- mata pelajaran yang bukan menjadi ciri khas program studi tersebut ( lihat struktur Kurikulum), penjurusan peserta didik yang memasuki program IPA adalah peserta didik yang memilki nilai mata pelajaran program ilmi Alam ( fisika, kimia, biologi, Matematika ) rata-rata 65.
b. Minat Peserta didik, Untuk mengetahui minat peserta didik dapat dilakukan melalui angket/kuesioner dan wawancara yang dilakukan guru BK dan Wali Kela, atau cara lain yang dapar digunakan untuk mendektesi minat dan bakat
c. Batas Waktu untuk pindah program paling lambat satu minggu dengan memperhatikan pertimbangan dari Tim
Kelulusan
Kelulusan diatur dengan ketentuan Peraturan Pemerintah yang berlaku pada tahun tersebut, dengan ketentuan dari sekolah sebagai berikut :
1. Menyelesaikan seluruh program pengajaran
2. Lulusan ujian Nasional dengan ketentuan yang diatur dalam peraturan Mentri dan prosedur operasi Standar ( POS ) tentang ujian Nasional
3. Lulus Ujian sekolah. Yang ditentukan oleh sekolah melalui rapar mejelis Guru
Mutasi
SMA Negeri 1 Nipah Panjang, menentukan persyaratan pindah / mutasi peserta didik sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah,melalui suatu mekanisme yang objektif dan transparan antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut :
a. Memenuhi persratan yang ditentukan
1. Surat permohonan yang bersangkutan
2. Memiliki laporan hasil belajar ( lapor ) dengan nilai lengkap dari sekolah asal
3. Memiliki ajajah sekolah menengah pertama/sederajat
4. Memiliki nomor induk Nasional
5. Memiliki surat pindah dari sekolah asal
6. Ketentuan Mutasi
a. Untuk semester Ganjil, kelas X tidak menerima Pindahan dan kelas XI dan XII menerima siswa pindahan paling lambat dimulai pada bulan Agustus sampai dengan bulan September
b. Untuk Semester Genab, kelas X dan XI menerima siswa Pindahan dan XII tidak doterima lagi dengan ketentuan yang sama yang dilaksanakan pada paling lambat Bulan Februari
7. Proses penerimaan melalui Teim
Penerimaan Siswa Baru ( PSB )
Syarat Pendaftaran
1. Lulus SMP/ MTS/ Paket B dengan membawa Photo Copy Ijajah/STK atau keterangan lulus dari kepsek yang asli
2. Mengisi Formulir Pendaftaran, dengan biaya pendaftaran Rp 20.000 ( dua puluh Ribu Rupiah )
3. Seleksi penerimaan dengan menggunakan Test ujian tertulis
4. Beban Kelas Maksimal 32 Orang Siswa
KELENDER PENDIDIKAN
A. Alokasi waktu
No kegiatan Alokasi Waktu Keterangan
1 Minggu Efektif Belajar Minimum 34 minggu dan maksimum 38 minggu Digunakan kegiatan pembelajaran pada setiap satuan pendidikan
2 Jedah Tengah Semester Maksimum 2 Minggu Satu Minggu setiap semester
`3 Jedah Antar semester Maksimum 2 Minggu Antar semester 1 dan 2
4 Libur Akhir Tahun Pelajaran Maksimum 3 Minggu Digunakan untuk persiapan kegiatan adminitrasi akhir awal tahun pelajaran
5 Hari libur Keagamaan 2-4 MInggu Dari Minggu Efektif
6 Hari Libur Umum Maksimum 2 Minggu Disesuaikan dengan peraturan pemerintah
7 Libur Khusus Maksimum 1 MInggu Disesuaikan dengan Kekhususan sekolah
8 Kegiatan Khusus sekolaj Maksimum 2 Minggu Digunakan untuk kegiatan Program sekolah
B. Penetapan Kelender Pendidikan
1. Permulaan Tahunpelajaran adalah Bulan Juli Setiap Tahun
Dan berakhir Bulan Juni Tahun Berikutnya
2. hari Libur Ditetapkan Berdasarkan Keputusan Menteri
Pendidikan Agama, Kepala Daerah Kabupten atau Dinas
Pendidikan Kabupaten
Saturday, December 5, 2009
Kelas rangkap
1. Latar Belakang diadakannya Pembelajaran Kelas Rangkap
Pembelajaran kelas rangkap sering dikaitkan dengan sekolah kecil di daerah terpencil yang berpenduduk sedikit. Di sekolah seperti ini biasanya hanya ada satu sampai dengan tiga orang guru untuk melayani seluruh siswa kelas I sampai kelas VI. Jumlah siswa di setiap sekolah juga sedikit. Guru tersebut harus menggabungkan kelas agar bisa mengajar semua siswa di sekolah, artinya dalam satu ruangan ditempati oleh siswa dari dua kelas. Pola penggabungan umumnya adalah kelas 1 dengan kelas 2, kelas 3 dengan kelas 4, dan kelas 5 dengan kelas 6.
Pembelajaran kelas rangkap juga terdapat di banyak sekolah perkotaan, karena jumlah siswa tidak seimbang dengan jumlah kelas. Kelas harus digabung untuk mendapatkan jumlah siswa seperti biasa. Jadi alasan dibentuknya kelas rangkap bukan karena kekurangan guru saja melainkan juga alasan efisiensi. Misalnya jika di kelas 1 hanya ada 9 siswa dan kelas 2 hanya ada 10 siswa maka tidak perlu masing-masing kelas diajar oleh seorang guru. Dengan prinsip efisiensi sumber daya maka cukup diperlukan satu guru yang merangkap mengajar kelas 1 dan kelas 2.
2. Data Sekolah yang menerapkan Pembelajaran Kelas Rangkap
a. SDN Ma’lengu Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa
SDN Ma’lengu di Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa. Sekolah ini hanya memiliki 4 gedung yang terdiri dari 3 gedung (3 ruang) untuk proses belajar mengajar, dan 1 gedung untuk ruang kepala sekolah dan administrasi. Guru yang mengajar terdiri dari 4 guru kelas, 1 guru olah raga, 1 guru agama dengan 1 kepala sekolah. Rata-rata jumlah siswa per kelas adalah 23 anak
Secara geografis, letak SDN Ma’lengu berada di daerah dataran tinggi sekitar 70 km sebelah timur kota Sungguminasa sehingga jauh dari keramaian. Selain itu, SDN Ma’lengu juga termasuk salah satu sekolah terpencil di Kab. Gowa yang terletak jauh di pelosok pedalaman yang baru berumur sekitar 4 tahun disebabkan karena sekolah ini sebelumnya adalah kelas jauh yang kemudian mati (tidak ada aktifitas belajar) disebabkan karena tidak ada tenaga pengajar yang mau ke daerah tersebut. Kemudian baru pada tahun 2005 dirintis kembali dengan kondisi tenaga pengajar yang hanya terdiri dari 3 orang dan ruang belajar terdiri dari 2 kelas. Baru pada tahun 2008 mendapatkan tambahan ruang belajar sebanyak 2 buah sehingga sudah ada 3 ruang belajar. Terus guru yang mengajar pada sekolah tersebut terdiri atas 4 orang guru yang berstatus PNS termasuk kepala sekolah, 3 orang guru berstatus honorer. Dan di sekolah tersebut juga terdapat 8 rombongan belajar dan sekolah ini termasuk sekolah satu atap. Siswa yang bersekolah di SDN Ma’lengu adalah anak-anak dari Dusun yang tidak memungkinkan untuk bersekolah di sekolah lainnya. Oleh sebab itu tepatlah jika sekolah ini dikategorikan sebagai sekolah terpencil
Tabel I : Data Jumlah Siswa SDN Ma’lengu Tahun 2009
Kelas Jumlah Siswa
L P Jumlah
I 9 13 22
II 11 14 25
III 10 12 22
IV 10 13 23
V 13 11 24
VI 15 12 27
Tabel II : Data Guru SDN Ma’lengu Tahun 2009
No. Nama Guru / Jabatan Status Mengajar di kelas
1. M. Yusuf T., S.Pd (Kepala Sekolah) PNS
2. Ayatollah Hidayat, A.Ma (Guru Kelas) PNS V dan VI
3. Abd. Azis, S.Pd (Guru Kelas) PNS III dan IV
4. Syarifuddin, S.Pdi (Guru Agama) PNS I – VI
5. Syamsualam, S.Pd (Guru Penjaskes) Honorer I - VI
6. Normayanti, A.Ma (Guru Kelas) Honorer I
7. Rahmat, A.Ma (Guru Kelas) Honorer II
Tugas Kelompok
KELOMPOK IV (EMPAT)
Ketua : Nuramelia
Sekretaris : Hamdana
Anggota : Yulianti
Andi Ina Andriana
Sulihin
S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2 0 0 9
Pembelajaran kelas rangkap sering dikaitkan dengan sekolah kecil di daerah terpencil yang berpenduduk sedikit. Di sekolah seperti ini biasanya hanya ada satu sampai dengan tiga orang guru untuk melayani seluruh siswa kelas I sampai kelas VI. Jumlah siswa di setiap sekolah juga sedikit. Guru tersebut harus menggabungkan kelas agar bisa mengajar semua siswa di sekolah, artinya dalam satu ruangan ditempati oleh siswa dari dua kelas. Pola penggabungan umumnya adalah kelas 1 dengan kelas 2, kelas 3 dengan kelas 4, dan kelas 5 dengan kelas 6.
Pembelajaran kelas rangkap juga terdapat di banyak sekolah perkotaan, karena jumlah siswa tidak seimbang dengan jumlah kelas. Kelas harus digabung untuk mendapatkan jumlah siswa seperti biasa. Jadi alasan dibentuknya kelas rangkap bukan karena kekurangan guru saja melainkan juga alasan efisiensi. Misalnya jika di kelas 1 hanya ada 9 siswa dan kelas 2 hanya ada 10 siswa maka tidak perlu masing-masing kelas diajar oleh seorang guru. Dengan prinsip efisiensi sumber daya maka cukup diperlukan satu guru yang merangkap mengajar kelas 1 dan kelas 2.
2. Data Sekolah yang menerapkan Pembelajaran Kelas Rangkap
a. SDN Ma’lengu Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa
SDN Ma’lengu di Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa. Sekolah ini hanya memiliki 4 gedung yang terdiri dari 3 gedung (3 ruang) untuk proses belajar mengajar, dan 1 gedung untuk ruang kepala sekolah dan administrasi. Guru yang mengajar terdiri dari 4 guru kelas, 1 guru olah raga, 1 guru agama dengan 1 kepala sekolah. Rata-rata jumlah siswa per kelas adalah 23 anak
Secara geografis, letak SDN Ma’lengu berada di daerah dataran tinggi sekitar 70 km sebelah timur kota Sungguminasa sehingga jauh dari keramaian. Selain itu, SDN Ma’lengu juga termasuk salah satu sekolah terpencil di Kab. Gowa yang terletak jauh di pelosok pedalaman yang baru berumur sekitar 4 tahun disebabkan karena sekolah ini sebelumnya adalah kelas jauh yang kemudian mati (tidak ada aktifitas belajar) disebabkan karena tidak ada tenaga pengajar yang mau ke daerah tersebut. Kemudian baru pada tahun 2005 dirintis kembali dengan kondisi tenaga pengajar yang hanya terdiri dari 3 orang dan ruang belajar terdiri dari 2 kelas. Baru pada tahun 2008 mendapatkan tambahan ruang belajar sebanyak 2 buah sehingga sudah ada 3 ruang belajar. Terus guru yang mengajar pada sekolah tersebut terdiri atas 4 orang guru yang berstatus PNS termasuk kepala sekolah, 3 orang guru berstatus honorer. Dan di sekolah tersebut juga terdapat 8 rombongan belajar dan sekolah ini termasuk sekolah satu atap. Siswa yang bersekolah di SDN Ma’lengu adalah anak-anak dari Dusun yang tidak memungkinkan untuk bersekolah di sekolah lainnya. Oleh sebab itu tepatlah jika sekolah ini dikategorikan sebagai sekolah terpencil
Tabel I : Data Jumlah Siswa SDN Ma’lengu Tahun 2009
Kelas Jumlah Siswa
L P Jumlah
I 9 13 22
II 11 14 25
III 10 12 22
IV 10 13 23
V 13 11 24
VI 15 12 27
Tabel II : Data Guru SDN Ma’lengu Tahun 2009
No. Nama Guru / Jabatan Status Mengajar di kelas
1. M. Yusuf T., S.Pd (Kepala Sekolah) PNS
2. Ayatollah Hidayat, A.Ma (Guru Kelas) PNS V dan VI
3. Abd. Azis, S.Pd (Guru Kelas) PNS III dan IV
4. Syarifuddin, S.Pdi (Guru Agama) PNS I – VI
5. Syamsualam, S.Pd (Guru Penjaskes) Honorer I - VI
6. Normayanti, A.Ma (Guru Kelas) Honorer I
7. Rahmat, A.Ma (Guru Kelas) Honorer II
Tugas Kelompok
KELOMPOK IV (EMPAT)
Ketua : Nuramelia
Sekretaris : Hamdana
Anggota : Yulianti
Andi Ina Andriana
Sulihin
S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2 0 0 9
Konsep Manajemen Kelas
KONSEP MANAJEMEN KELAS
1. MANAJEMEN
Istilah manajemen, terjemahannya dalam bahasa Indonesia hingga saat ini belum ada keseragaman. Selanjutnya, bila kita mempelajari literatur manajemen, maka akan ditemukan bahwa istilah manajemen mengandung tiga pengertian yaitu :
a. Manajemen sebagai suatu proses,
b. Manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen,
c. Manajemen sebagai suatu seni (Art) dan sebagai suatu ilmu pengetahuan (Science)
Menurut pengertian yang pertama, yakni manajemen sebagai suatu proses, berbeda-beda definisi yang diberikan oleh para ahli. Untuk memperlihatkan tata warna definisi manajemen menurut pengertian yang pertama itu, dikemukakan tiga buah definisi.
Dalam Encylopedia of the Social Sience dikatakan bahwa manajemen adalah suatu proses dengan mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi. Selanjutnya, Hilman mengatakan bahwa manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama. Menurut pengertian yang kedua, manajemen adalah kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen. Jadi dengan kata lain, segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam suatu badan tertentu disebut manajemen.
Menurut pengertian yang ketiga, manajemen adalah seni (Art) atau suatu ilmu pnegetahuan. Mengenai inipun sesungguhnya belum ada keseragaman pendapat, segolongan mengatakan bahwa manajemen adalah seni dan segolongan yang lain mengatakan bahwa manajemen adalah ilmu. Sesungguhnya kedua pendapat itu sama mengandung kebenarannya. Menurut G.R. Terry manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. Manajemen juga adalah suatu ilmu pengetahuan maupun seni. Seni adalah suatu pengetahuan bagaimana mencapai hasil yang diinginkan atau dalm kata lain seni adalah kecakapan yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan dan pelajaran serta kemampuan untuk menggunakan pengetahuan manajemen.
Menurut Mary Parker Follet manajemen adalah suatu seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang lain. Definisi dari mary ini mengandung perhatian pada kenyataan bahwa para manajer mencapai suatu tujuan organisasi dengan cara mengatur orang-orang lain untuk melaksanakan apa saja yang pelu dalam pekerjaan itu, bukan dengan cara melaksanakan pekerjaan itu oleh dirinya sendiri. Itulah manajemen, tetapi menurut Stoner bukan hanya itu saja. Masih banyak lagi sehingga tak ada satu definisi saja yang dapat diterima secara universal. Menurut James A.F.Stoner, manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dari gambar di atas menunjukkan bahwa manajemen adalah Suatu keadaan terdiri dari proses yang ditunjukkan oleh garis (line) mengarah kepada proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian, yang mana keempat proses tersebut saling mempunyai fungsi masing-masing untuk mencapai suatu tujuan organisasi. http://elqorni.wordpress.com/2009/03/15/pengertian-manajemen-dan-fungsi-fungsinya-definition-and-functions-of-management/
Secara etimologi Kata manajemen mungkin berasal dari bahasa Italia (1561) maneggiare yang berarti "mengendalikan," terutamanya "mengendalikan kuda" yang berasal dari bahasa latin manus yang berati "tangan". Kata ini mendapat pengaruh dari bahasa Perancis manège yang berarti "kepemilikan kuda" (yang berasal dari Bahasa Inggris yang berarti seni mengendalikan kuda), dimana istilah Inggris ini juga berasal dari bahasa Italia.[1] Bahasa Prancis lalu mengadopsi kata ini dari bahasa Inggris menjadi ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.
Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal. http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen
Fungsi-Fungsi Manajemen (Management Functions)
Sampai saat ini, masih belum ada consensus baik di antara praktisi maupun di antara teoritis mengenai apa yang menjadi fungsi-fungsi manajemen, sering pula disebut unsur-unsur manajemen. fungsi-fungsi manajemen adalah sebagai berikut:
Planning
Berbagai batasan tentang planning dari yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat rumit. Misalnya yang sederhana saja merumuskan bahwa perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Pembatasan yang terakhir merumuskan perencaan merupakan penetapan jawaban kepada enam pertanyaan berikut :
1. Tindakan apa yang harus dikerjakan ?
2. Apakah sebabnya tindakan itu harus dikerjakan ?
3. Di manakah tindakan itu harus dikerjakan ?
4. kapankah tindakan itu harus dikerjakan ?
5. Siapakah yang akan mengerjakan tindakan itu ?
6. Bagaimanakah caranya melaksanakan tindakan itu ?
Menurut Stoner Planning adalah proses menetapkan sasaran dan tindakan yang perlu untuk mencapai sasaran tadi.
Organizing, Organizing (organisasi) adalah dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam cara yang terstruktur untuk mencapai sasaran spesifik atau sejumlah sasaran.
Leading , Pekerjaan leading meliputi lima kegiatan yaitu :
• Mengambil keputusan
• Mengadakan komunikasi agar ada saling pengertian antara manajer dan bawahan.
• Memberi semangat, inspirasi, dan dorongan kepada bawahan supaya mereka bertindak.
• Memilih orang-orang yang menjadi anggota kelompoknya, serta memperbaiki pengetahuan dan sikap-sikap bawahan agar mereka terampil dalam usaha mencapai tujuan yang ditetapkan.
Directing/Commanding, Directing atau Commanding adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha memberi bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi kepada bawahan dalam melaksanakan tugas masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan benar-benar tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan semula.
Motivating, Motivating atau pemotivasian kegiatan merupakan salah satu fungsi manajemen berupa pemberian inspirasi, semangat dan dorongan kepada bawahan, agar bawahan melakukan kegiatan secara suka rela sesuai apa yang diinginkan oleh atasan.
Coordinating, Coordinating atau pengkoordinasian merupakan salah satu fungsi manajemen untuk melakukan berbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, percekcokan, kekosongan kegiatan, dengan jalan menghubungkan, menyatukan dan menyelaraskan pekerjaan bawahan sehingga terdapat kerja sama yang terarahdalam upaya mencapai tujuan organisasi.
Controlling, Controlling atau pengawasan, sering juga disebut pengendalian adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud dengan tujuan yang telah digariskan semula.
Reporting, Adalah salah satu fungsi manajemen berupa penyampaian perkembangan atau hasil kegiatan atau pemberian keterangan mengenai segala hal yang bertalian dengan tugas dan fungsi-fungsi kepada pejabat yang lebih tinggi.
Staffing, Staffing merupakan salah satu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia pada suatu organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangannya sampai dengan usaha agar setiap tenaga memberi daya guna maksimal kepada organisasi.
Forecasting, Forecasting adalah meramalkan, memproyrksikan, atau mengadakan taksiran terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebelum suatu rancana yang lebih pasti dapat dilakukan.
Tingkatan Manajemen (Manajemen Level).
Tingkatan manajemen dalam organisasi akan membagi tingkatan manajer menjadi 3 tingkatan
1. Manajer lini garis-pertama (first line) adalah tingkatan manajemen paling rendah dalam suatu organisasi yang memimpin dan mengawasi tenaga-tenaga operasional. Dan mereka tidak membawahi manajer yang lain.
2. Manajer menengah (Middle Manager) adalah manajemen menengah dapat meliputi beberapa tingkatan dalam suatu organisasi. Para manajer menengah membawahi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan para manajer lainnya kadang-kadang juga karyawan operasional.
3. Manajer Puncak (Top Manager) terdiri dari kelompok yang relative kecil, manager puncak bertanggung jawab atas manajemen keseluruhan dari organisasi.
http://elqorni.wordpress.com/2009/03/15/pengertian-manajemen-dan-fungsi-fungsinya-definition-and-functions-of-management/
2. KELAS
Sebuah kelas tidak boleh sekedar diartikan sebagai tempat siswa berkumpul untuk mempelajari sejumlah ilmu pengetahuan. Demikian juga sebuah sekolah bukanlah sekedar sebuah gedung tempat murid mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Sekolah dan kelas diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam mendidik anak-anak, yang tidak hanya harus didewasakan dari aspek intelektualnya saja, akan tetapi dalam seluruh aspek kepribadiannya. Untuk itu bagi setiap tingkat dan jenis sekolah diperlukan kurikulum yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dalam perkembangannya. Kurikulum yang dipergunakan di sekolah sangat besar pengaruhnya terhadap aktivitas kelas dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang berdaya guna bagi pembentukan pribadi siswa. Dengan kata lain aktivitas sebuah kelas sangat dipengaruhi oleh kurikulum yang dipergunakan di sekolah. Suatu kelas akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat apabila kurikulum yang dipergunakan di sekolah dirancangkan sesuai dengan dinamika masyarakat.
Sekolah yang kurikulumnya dirancangkan secara tradisional akan mengakibatkan aktivitas kelas berlangsung secara statis. Kurikulum tradisional diartikan sebga sejumlah materi pengetahuan dan kebudayaan hasil masa lalu yang harus dikuasai murid untuk mencapai suatu tingkat tertentu, yang dinyatakan dengan ketentuan kenaikan kelas atau pemberian ijazah kepada murid tersebut. Di dalam kurikulum seperti itu mata pelajaran diberikan secara terpisah-pisah (subject certerd curriculum yang pada umumnya bersifat intelektualistis.
http://www.idonbiu.com/2009/07/pengertian-kurikulum-belajar.html
Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas. Pengelolaan itu sendiri akar katanya adalah “kelola”, ditambah awalan “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari pengelolaan adalah “manajemen”. Manajemen adalah kata yang aslinya dari bahasa Inggris, yaitu management yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan.(Djamarah 2006:175)
“Pengelolaan adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan dan pencapaian tujuan”Dekdibud (dalam Rachman 1997:11). Pengelolaan dalam pengertian umum menurut Arikunto (dalam Djamarah 2006:175) adalah pengadministrasian pengaturan atau penataan suatu kegiatan. Menurut Hamalik (dalam Djamarah 2006:175) ”kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru” sedangkan menurut Ahmad (1995:1) “kelas ialah ruangan belajar dan atau rombongan belajar”
Hadari Nawawi memandang kelas dari dua sudut, yaitu:
1. Kelas dalam arti sempit yakni, ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini mengandung sifat statis karena sekadar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangan yang antara lain didasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.
2. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai suatu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan (Djamarah2006:176).
“Pengelolaan kelas merupakan ketrampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.” (Mulyasa 2006:91). Sedangkan menurut Sudirman (dalam Djamarah 2006:177) ”Pengelolaan kelas adalah upaya mendayagunakan potensi kelas.” Ditambahkan lagi oleh Nawawi (dalam Djamarah 2006:177) ”Manajemen atau pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegitan-kegiatan yang kreatif dan terarah .” Arikunto (dalam Djamarah 2006:177) juga berpendapat “ bahwa penelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agardicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar yang seperti diharapkan.” Pengelolaan dapat dilihat dari dua segi, yaitu pengelolaan yang menyangkut siswa dan pengelolaan fisik (ruangan, perabot, alat pelajaran). http://sekolah-dasar.blogspot.com/2009/01/pengertian-pengeloaan-kelas.html
Ruang Kelas adalah suatu ruangan dalam bangunan sekolah, yang berfungsi sebagai tempat untuk kegiatan tatap muka dalam proses kegiatan belajar mengajar(KBM). Mebeler dalam ruangan ini terdiri dari meja siswa, kursi siswa, meja guru, lemari kelas, papan tulis, serta aksesoris ruangan lainnya yang sesuai. Ukuran yang umum adalah 9m x 8m.
Ruang kelas memiliki syarat kelayakan dan standar tertentu, misalnya ukuran, pencahayaan alami, sirkulasi udara, dan persaratan lainnya yang telah dibakukan oleh pihak berwenang terkait.
Dalam peranya sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkunagn belajar serat merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan pendidikan. Lingkungan yang baik adalah yang bersifat menantang, dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan.
Sebagai manajer guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fiisk kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses intelektual dan social dalam kelasnya. Salah satu manajemen kelas yang baik adalah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk sedikit demi sedikit mengurangi ketergantunganya pada guru sehingga mereka mampu membimbing kegiatanya sendiri.
Sebagai manajer lingkungan guru hendaknya mampu mempergunakan pengetahuan tentang teori-teori belajar mengajar dan teori perkembangan sehingga kemungkinan untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang menimbulkan kegiatan belajar pada siswa akan mudah dilaksanakan dan sekaligus memudahkan pencapaian tujuan yang diharapkan.
PERAN guru sebagai ujung tombak pendidikan amat strategis dalam mengembangkan potensi siswa. Karena itu penguasaan pengelolaan kelas mutlak harus dikuasai. Pengelolaan kelas meliputi ruang, waktu, bahan ajar bersama metode pembelajarannya serta perangkat evaluasinya. Berangkat dari penyusunan perangkat persiapan hingga terwujudnya rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), yang telah dicontohkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), instrumen ini sudah dapat menggambarkan keadaan kelas dan memprediksi bagaimana guru menjalankan fungsinya di depan kelas. Beranjak dari pengamatan di lapangan, RPP yang telah dibuat oleh beberapa guru dilihat dari sisi pengelolaan waktunya, rupanya beragam seperti yang tercantum dalam kop lembarannya. Ada yang tertulis 2 x 45 menit, ada pula 8 x 45 menit, sampai 20 x 45 menit. http://blog.beswandjarum.com/soikhurojib/2009/10/05/peran-guru-dalam-menciptakan-kehidupan-sekolah/
3. MANAJEMEN KELAS
Membahas mengenai pengelolaan kelas perspektif baru dan selanjutnya kita akan membahas masalah manajemen kelas. Manajemen kelas merupakan bagian integral pengajaran efektif yang mencegah masalah perilaku melalui perencanaan, pengelolaan, dan penataan kegiatan belajar yang lebih baik, pemberian materi pengajaran yang lebih baik, dan interaksi guru siswa yang lebih baik, membidik pada pengoptimalan keterlibatan dan kerjasama siswa dalam belajar. Teknik kontrol perilaku atau pendisiplinan pada akhirnya akan tidak terlalu efektif karena teknik tersebut tidak mendorong perkembangan disiplin diri atau tanggung jawab anak sendiri atas tindakannya. Nilai-nilai dan ketrampilan sosial harus diajarkan dan dicontohkan oleh guru.
Seorang pendidik atau guru perlu menguasai banyak faktor yang mempengaruhi motivasi, prestasi dan perilaku siswa mereka. Lingkungan fisik di kelas, level kenyamanan emosi yang dialami siswa dan kualitas komunikasi antar guru dan siswa merupakan faktor penting yang bisa memampukan atau menghambat pembelajaran yang optimal. Guru bertanggung jawab untuk berbagai siswa, termasuk mereka dari keluarga yang tidak mampu atau kurang beruntung, siswa yang mungkin harus bekerja setelah sekolah, atau mereka yang berasal dari kelompok minoritas etnis, agama atau bahasa atau mereka dengan berbagai kesulitan atau kecacatan belajar. Tak satupun dari situasi atau faktor ini harus menyebabkan masalah pendidikan, namun anak-anak ini mungkin beresiko mendapatkan pengalaman sekolah yang negatif dan tak bermakna jika guru tidak responsif terhadap kebutuhan dan kemampuan mereka atau mampu menggunakan pengajaran dan strategi kelas yang efektif dan disesuaikan menurut individu. http://id.shvoong.com/social-sciences/education/1940780-manajemen-kelas/
Pengelolaan kelas ( classroom management ) berdasarkan pendekatan menurut Weber diklasifikasikan kedalam dua pengertian, yaitu berdasarkan pendekatan otoriter dan pendekatan permisif. Berikut dijelaskan pengertian dari masing-masing pendekatan tersebut
Pertama, berdasarkan pendekatan otoriter pengelolaan kelas adalah kegiatan guru untuk mengkontrol tingkah laku siswa, guru berperan menciptakan dan memelihara aturan kelas melalui penerapan disiplin secara ketat ( Weber )
Bagi sekolah atau guru yang menganut pendekatan otoriter, maka dalam mengelola kelas guru atau sekolah tersebut menciptakan iklim sekolah dengan berbagai aturan atau ketentuan-ketentuan zang harus ditaati oleh warga sekolah/ kelas. Walaupun menggunakan pendekatan otoriter, berbagai aturan zang dirumuskan tentu saja tidak hanza didasarkan pada kemauan sepihak dari pengelola sekolah /kelas saja, melainkan dengan memasukan aspirasi dari siswa. Hal ini penting mengingat aturan zang dibuat diperuntukan bagi kepentingan bersama, zaitu untuk menunjang terjadinya proses pembelajaran zang efektif dan efisien.
Kedua pendekatan permisif mengartikan pengelolaan kelas adalah uapaya zang dilakukan oleh guru untuk memberi kebebasan untuk siswa melekukan berbagai aktivitas sesuai dengan zang mereka inginkan. Pengertian kedua ini tentu saja bertolak belakang dengan pendapat pertama. Menurut pandangan permisif, fungsi guru adalah bagaimana menciptakan kondisi siswa merasa aman untuk melakukan aktivitas di dalam kelas, tanpa aharus merasa takut dan tertekan
Ada lima definisi tentang pengelolaan kelas.
Definisi pertama, memandang bahwa pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Pandangan ini bersifat otoritatif. Dalam kaitan ini tugas guru ialah menciptakan dan memelihara ketertiban suasana kelas. Penggunaan disiplin amat diutamakan. Menurut pandangan ini istilah pengelolaan kelas dan disiplin kelas dipakai sebagai sinonim. Secara lebih khusus, definisi pertama ini dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas.
Definisi kedua bertolak belakang dengan definisi pertama diatas, yaitu yang didasarkan atas pandangan yang bersifat permisif. Pandangan ini menekankan bahwa tugas guru ialah memaksimalkan perwujudan kebebasan siswa. Dalam hal ini guru membantu siswa untuk merasa bebas melakukan hal yang ingin dilakukannya. Berbuat sebaliknya berarti guru menghambat atau menghalangi perkembangan anak secara alamiah. Dengan demikian, definisi kedua dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa. Meskipun kedua pandangan diatas, pandangan otortatif dan permisif, mempunyai sejumlah pengikut, namun keduanya dianggap kurang efektif bahkan kurang bertanggungjawab. Pandangan otoritatif adalah kurang manusiawi sedangkan pandangan permisif kurang realistik.
Definisi ketiga didasarkan pada prinsip-prinsip pengubahan tingkah laku (behavioral modification). Dalam kaitan ini pengelolaan kelas dipandang sebagai proses pengubahan tingkah laku siswa. Peranan guru ialah mengembangkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan. Secara singkat, guru membantu siswa dalam mempelajari tingkah laku yang tepat melalui penerapan prinsip-prinsip yang diambil dari teori penguatan (reinforcement). Definisi yang didasarkan pada pandangan ini dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan.
Definisi keempat memandang pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim sosio-emosional yang positif didalam kelas. Pandangan ini mempunyai anggaran dasar bahwa kegiatan belajar akan berkembang secara maksimal di dalam kelas yang beriklim positif, yaitu suasana hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Untuk terciptanya suasana seperti ini guru memegang peranan kunci. Dengan demikian peranan guru ialah mengembangkan iklim sosio-emosional kelas yang positif melalui pertumbuhan hubungan interpersonal yang sehat. Dalam kaitan ini definisi keempat dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif.
Definisi kelima bertolak dari anggapan bahwa kelas merupakan sistem sosial dengan proses kelompok (group process) sebagai intinya. Dalam kaitan ini dipakailah anggapan dasar bahwa pengajaran berlangsung dalam kaitannya dengan suatu kelompok. Dengan demikian, kehidupan kelas sebagai kelompok dipandang mempunyai pengaruh yang amat berarti terhadap kegiatan belajar, meskipun belajar dianggap sebagai proses individual. Peranan guru ialah mendorong berkembangnya dan berprestasinya sistem kelas yang efektif. Definisi kelima dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.
Ketiga definisi yang terakhir tersebut diatas masing-masing bertitik tolak dari dasar pandangan yang berbeda. Manakah yang terbaik diantara ketiga definisi itu? Dari ketiga pandangan itu tidak satupun pernah dibuktikan sebagai pandangan yang terbaik. Oleh karena itu adalah bermanfaat apabila guru mampu membentuk suatu pandangan yang bersifat pluralistic, yaitu pandangan tersebut. Perlu dicatat bahwa pandangan pluralistic yang merangkum tiga dasar pandangan itu (pandangan tentang pengubahan tingkah laku, iklim sosio-emosional, dan proses kelompok) tidak mungkin merangkum juga pandangan yang bersifat otoritatif dan permisif. Pandangan yang otoritatif dan permisif itu justru dapat berlawanan dengan pandangan pluralistic yang dimaksud.
Definisi yang pluralistic itu dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio-emosional yang positif, serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan produktif.
Guru-guru perlu memahami dan memegang salah satu definisi tersebut diatas yang akan menjadi pedoman bagi tingkah laku dan kegiatan guru didalam kelas dalam rangka mengelola kelasnya. Definisi yang lebih tepat bagi guru-guru kiranya adalah definisi yang bersifat pluralistic. http://www.infodiknas.com/materi-diklat-4/
Pengelolaan dan Pembelajaran
Pengelolaan dan pembelajaran dapat dibedakan tapi memilki fungsi zang sama. Pengelolaan tekannya lebih kuat pada aspek pengaturan ( management ) lingkungan pembelajaran, sementara pembelajaran ( instruction ) lebih kuat berkenaan dengan aspek mengelola atau memproses materi pelajaran. Pada akhirnya dari kedua aktivitas tersebut, keduanya dilakukan dalam rangka untuk mencapai tujuan yang sama yaitiu tujuan pembelajaran
Contoh aspek pengelolaan, jika di dalam kelas terdapat gambar yang di anggap kurang baik atau tidak apada tempatnya untuk ditempelkan di dinding karena akan menggangu konsentrasi siswa dalam belajar, maka guru tersebut memindahkannya dan menempatkan pada tempat yang di anggap paling cocok. Adapun pembelajaran, jika diperoleh siswa yang mengelami kesulitan belajar untuk materi-materi tertentu, maka guru mengidentifikasi sebab-sebabnya, dan membantu siswa mengahadapi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya itu
Komponen-Komponen Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas dilakukan untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran zang lebih berkualitas. Oleh karena itu pendekatan atau teori apapun zang dipilih dan zang dijadikan dasar dalam pengelolaan kelas, harus diorientasikan pada terciptanya proses pembelajaran secara aktif dan produktif. Untuk mendukung proses pembelajaran tersebut, maka aunsur-unsur pengelolaan meliputi dua tindakan, yaitu ;
1. Model tindakan
a.Preventif , yaitu upaya yang dilakukan oleh guru untuk mencegah terjadinza gangguan dalam pembelajaran. Mencegah lebih baik dari pada mengobati. . Implikasi bagi guru melalui kegiatan preventif ini yaitu sedini mungkin guru mengidentifikasi hal-hal atau gejala-gejala zang dianggap akan mengganggu pembelajaran
Beberapa upaya atau keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk mendukung terhadap tindakan prteventis antara lain ;
1. Tanggap /peka, sikap tanggap ini ditunjukan oleh kemampuan guru secara dini mampu dengan segera merespon terhadap berbagai perilaku atau aktivitas yang di anggap akan mengganggu pembelajaran atau berkembangnza sikap maupun sifat negatif dari siswa maupun lingkungan pembelajaran lainnya
2. Perhatian yaitu selalu mencurahkan perhatian pada berbagai aktivitas, lingkungan maupun segala sesuatu zang muncul. Perhatian merupakan salah satu bentuk keterampilan dan kebiasaan zang harus dimiliki oleh guru.
b. Refrensif, keterampilan refrensif tidak diartikan sebagai tindakan kekerasan seperti halnya penanganan dalam gangguan keamanan. Keterampilan refrensif sebagai salah satu unsur dari keterampilan pengelolaan kelas
c. Modifikasi tingkah laku
• Modifikasi tingkah laku yaitu bahwa setiap tingkah laku dapat diamati. Oleh karena itu bagaimana dengan tingkah laku yang muncul dengan positif, guru memberi respon positif agar kebiasaan baik itu lebih kuat dan dapat dipelihara
• Pengelolaan kelompok, untuk menangani permasalahan hendaknya dilakukan secara kolaborasi dan mengikutsertakan beberapa komponen atau unsur yang terkait
• Diagnisis yaitu suatu keterampilan untuk mencari unsur-unsur yang akan menjadi penyebab gangguan maupun unsur-unsur yang menjadi kekuatan bagi peningkatan proses pembelajaran
http://apadefinisinya.blogspot.com/2008/06/hakikat-pengelolaan-kelas.html
Keberhasilan guru mengajar di kelas tidak cukup bila hanya berbekal pada pengetahuan tentang kurikulum, metode mengajar, media pengajaran, dan wawasan tentang materi yang akan disampaikan kepada anak didik. Di samping itu guru harus menguasai kiat manajemen kelas. Guru hendaknya dapat menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang menguntungkan bagi anak didik supaya tumbuh iklim pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM).
Hampir seluruh hasil survei mengenai keefektifan guru ( teacher effectiveness ) melaporkan bahwa keterampilan manajemen kelas menentukan keberhasilan proses belajar siswa atau peringkat yang dicapainya. Dengan demikian keterampilan manajemen kelas sangat krusial dan fudemental dalam mendukung proses pembelajaran. Guru – guru yang rendah keterampilannya dalam bidang manajemen kelas, barangkali tidak dapat menyelesaikan banyak hal yang menjadi tugas pokoknya. Pendapat ini dikemukakan oleh Brophy dan Evertson dalam Learning from Teaching, tahun 1976. Menurut beberapa pendapat yang dapat saya simpulkan konsep manajemen kelas lebih luas dari pada sebatas menciptakan iklim untuk menegakkan disiplin siswa. Konsep manajemen kelas mencakup segala hal, yaitu guru harus merangsang keterlibatan dan kerjasama siswa di dalam keseluruhan aktivitas kelas dan menata lingkungan kerja menjadi lebih produktif lagi bagi proses pendidikan dan pembelajaran.
Guru yang melaksanakan manajemen kelas sebagai proses pemapanan dan pemeliharaan ( establishing and maintaining ) lingkungan belajar yang efektif cendrung lebih sukses dari pada guru – guru yang memposisikan atau memerankan diri sebagai figure otoritas atau penegak disiplin ( authority figures or disciplinarians ) belaka. Kinerja manajemen kelas yang efektif memungkinkan lahirnya roda penggerak bagi penciptaan pemahaman diri, evaluasi diri dan internalisasi control diri pada kalangan siswa.
Dalam keseharian tugas dinasnya bahwa siswa paling banyak berhubungan dengan guru dan demikian juga sebaliknya merupakan perwajahan sekolah yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Dalam tugas kesehariannya, guru berhadapan dengan siswa yang berbadan tinggi, sedang atau rendah prestasi akademiknya. Ida pun juga berhadapan dengan siswa yang baik – baik, santun arogan, cuek, pengganggu bahkan kuat, sedang atau lemah fisiknya. Belum lagi keragaman tersebut dilihat dari perspektif social, ekonomi, kultur, kebiasaan, agama, kepedulian dan derajat kohensifitasnya dan lain sebagainya.
Siswa yang bermasalah biasanya menjadi beban si guru dalam mengajar di kelas dan merupakan kepedulian tindakan yang menjadi beban dari tugas si guru. Bentuk kenakalan dan prilaku menyimpang para siswa beragam, dari permasalah sampah,berisik dikelas, mencuri, berkelahi, bolos, pecandu narkoba, dan tidak disiplin dalam belajar.
Mengapa siswa cendrung berprilaku buruk? Ada banyak faktor penyebab hal tersebut, antaranya adalah faktor sosial, ekonomi, kultural, agama, jenis kelamin, ras, tempat tinggal, perbedaan potensial kognitif, kesehatan, kebiasaan hidup dan lain – lain. Faktor yang lain adalah penyebabnya yaitu sekolah sendiri. Tidak semua sekolah dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran secara kondusif, misalnya adalah sekolah lebih dekat dengan tempat keramaian, bangunan yang sudah terlalu tua, ruang kelas yangmengundang gerah, disiplin guru yang tidak memadai, manajemen sekolah yang buruk, terlalu banyak pungutan dan lain sebagainya.Ini berarti ada tantangan serius bagi sekolah. Kedua, menetapkan tata aturan dan prosedur disiplin yang jelas dan standar, serta mengikat semua anak didik.Ketiga, melembagakan dan memberi keteladanan mengenai norma – norma etik yang menjadi pemandu hubungan antar subjek di lingkungan sekolah. http://pak-gunawan.blogspot.com/2009/02/peranan-manajemen-kelas.html
DAFTAR PUSTAKA
http://pak-gunawan.blogspot.com/2009/02/peranan-manajemen-kelas.html
http://apadefinisinya.blogspot.com/2008/06/hakikat-pengelolaan-kelas.html
http://www.infodiknas.com/materi-diklat-4/
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/1940780-manajemen-kelas/
http://blog.beswandjarum.com/soikhurojib/2009/10/05/peran-guru-dalam-menciptakan-kehidupan-sekolah/
http://sekolah-dasar.blogspot.com/2009/01/pengertian-pengeloaan-kelas.html
http://elqorni.wordpress.com/2009/03/15/pengertian-manajemen-dan-fungsi-fungsinya-definition-and-functions-of-management/
http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen
http://www.idonbiu.com/2009/07/pengertian-kurikulum-belajar.html
1. MANAJEMEN
Istilah manajemen, terjemahannya dalam bahasa Indonesia hingga saat ini belum ada keseragaman. Selanjutnya, bila kita mempelajari literatur manajemen, maka akan ditemukan bahwa istilah manajemen mengandung tiga pengertian yaitu :
a. Manajemen sebagai suatu proses,
b. Manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen,
c. Manajemen sebagai suatu seni (Art) dan sebagai suatu ilmu pengetahuan (Science)
Menurut pengertian yang pertama, yakni manajemen sebagai suatu proses, berbeda-beda definisi yang diberikan oleh para ahli. Untuk memperlihatkan tata warna definisi manajemen menurut pengertian yang pertama itu, dikemukakan tiga buah definisi.
Dalam Encylopedia of the Social Sience dikatakan bahwa manajemen adalah suatu proses dengan mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi. Selanjutnya, Hilman mengatakan bahwa manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama. Menurut pengertian yang kedua, manajemen adalah kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen. Jadi dengan kata lain, segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam suatu badan tertentu disebut manajemen.
Menurut pengertian yang ketiga, manajemen adalah seni (Art) atau suatu ilmu pnegetahuan. Mengenai inipun sesungguhnya belum ada keseragaman pendapat, segolongan mengatakan bahwa manajemen adalah seni dan segolongan yang lain mengatakan bahwa manajemen adalah ilmu. Sesungguhnya kedua pendapat itu sama mengandung kebenarannya. Menurut G.R. Terry manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. Manajemen juga adalah suatu ilmu pengetahuan maupun seni. Seni adalah suatu pengetahuan bagaimana mencapai hasil yang diinginkan atau dalm kata lain seni adalah kecakapan yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan dan pelajaran serta kemampuan untuk menggunakan pengetahuan manajemen.
Menurut Mary Parker Follet manajemen adalah suatu seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang lain. Definisi dari mary ini mengandung perhatian pada kenyataan bahwa para manajer mencapai suatu tujuan organisasi dengan cara mengatur orang-orang lain untuk melaksanakan apa saja yang pelu dalam pekerjaan itu, bukan dengan cara melaksanakan pekerjaan itu oleh dirinya sendiri. Itulah manajemen, tetapi menurut Stoner bukan hanya itu saja. Masih banyak lagi sehingga tak ada satu definisi saja yang dapat diterima secara universal. Menurut James A.F.Stoner, manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dari gambar di atas menunjukkan bahwa manajemen adalah Suatu keadaan terdiri dari proses yang ditunjukkan oleh garis (line) mengarah kepada proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian, yang mana keempat proses tersebut saling mempunyai fungsi masing-masing untuk mencapai suatu tujuan organisasi. http://elqorni.wordpress.com/2009/03/15/pengertian-manajemen-dan-fungsi-fungsinya-definition-and-functions-of-management/
Secara etimologi Kata manajemen mungkin berasal dari bahasa Italia (1561) maneggiare yang berarti "mengendalikan," terutamanya "mengendalikan kuda" yang berasal dari bahasa latin manus yang berati "tangan". Kata ini mendapat pengaruh dari bahasa Perancis manège yang berarti "kepemilikan kuda" (yang berasal dari Bahasa Inggris yang berarti seni mengendalikan kuda), dimana istilah Inggris ini juga berasal dari bahasa Italia.[1] Bahasa Prancis lalu mengadopsi kata ini dari bahasa Inggris menjadi ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.
Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal. http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen
Fungsi-Fungsi Manajemen (Management Functions)
Sampai saat ini, masih belum ada consensus baik di antara praktisi maupun di antara teoritis mengenai apa yang menjadi fungsi-fungsi manajemen, sering pula disebut unsur-unsur manajemen. fungsi-fungsi manajemen adalah sebagai berikut:
Planning
Berbagai batasan tentang planning dari yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat rumit. Misalnya yang sederhana saja merumuskan bahwa perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Pembatasan yang terakhir merumuskan perencaan merupakan penetapan jawaban kepada enam pertanyaan berikut :
1. Tindakan apa yang harus dikerjakan ?
2. Apakah sebabnya tindakan itu harus dikerjakan ?
3. Di manakah tindakan itu harus dikerjakan ?
4. kapankah tindakan itu harus dikerjakan ?
5. Siapakah yang akan mengerjakan tindakan itu ?
6. Bagaimanakah caranya melaksanakan tindakan itu ?
Menurut Stoner Planning adalah proses menetapkan sasaran dan tindakan yang perlu untuk mencapai sasaran tadi.
Organizing, Organizing (organisasi) adalah dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam cara yang terstruktur untuk mencapai sasaran spesifik atau sejumlah sasaran.
Leading , Pekerjaan leading meliputi lima kegiatan yaitu :
• Mengambil keputusan
• Mengadakan komunikasi agar ada saling pengertian antara manajer dan bawahan.
• Memberi semangat, inspirasi, dan dorongan kepada bawahan supaya mereka bertindak.
• Memilih orang-orang yang menjadi anggota kelompoknya, serta memperbaiki pengetahuan dan sikap-sikap bawahan agar mereka terampil dalam usaha mencapai tujuan yang ditetapkan.
Directing/Commanding, Directing atau Commanding adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha memberi bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi kepada bawahan dalam melaksanakan tugas masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan benar-benar tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan semula.
Motivating, Motivating atau pemotivasian kegiatan merupakan salah satu fungsi manajemen berupa pemberian inspirasi, semangat dan dorongan kepada bawahan, agar bawahan melakukan kegiatan secara suka rela sesuai apa yang diinginkan oleh atasan.
Coordinating, Coordinating atau pengkoordinasian merupakan salah satu fungsi manajemen untuk melakukan berbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, percekcokan, kekosongan kegiatan, dengan jalan menghubungkan, menyatukan dan menyelaraskan pekerjaan bawahan sehingga terdapat kerja sama yang terarahdalam upaya mencapai tujuan organisasi.
Controlling, Controlling atau pengawasan, sering juga disebut pengendalian adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud dengan tujuan yang telah digariskan semula.
Reporting, Adalah salah satu fungsi manajemen berupa penyampaian perkembangan atau hasil kegiatan atau pemberian keterangan mengenai segala hal yang bertalian dengan tugas dan fungsi-fungsi kepada pejabat yang lebih tinggi.
Staffing, Staffing merupakan salah satu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia pada suatu organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangannya sampai dengan usaha agar setiap tenaga memberi daya guna maksimal kepada organisasi.
Forecasting, Forecasting adalah meramalkan, memproyrksikan, atau mengadakan taksiran terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebelum suatu rancana yang lebih pasti dapat dilakukan.
Tingkatan Manajemen (Manajemen Level).
Tingkatan manajemen dalam organisasi akan membagi tingkatan manajer menjadi 3 tingkatan
1. Manajer lini garis-pertama (first line) adalah tingkatan manajemen paling rendah dalam suatu organisasi yang memimpin dan mengawasi tenaga-tenaga operasional. Dan mereka tidak membawahi manajer yang lain.
2. Manajer menengah (Middle Manager) adalah manajemen menengah dapat meliputi beberapa tingkatan dalam suatu organisasi. Para manajer menengah membawahi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan para manajer lainnya kadang-kadang juga karyawan operasional.
3. Manajer Puncak (Top Manager) terdiri dari kelompok yang relative kecil, manager puncak bertanggung jawab atas manajemen keseluruhan dari organisasi.
http://elqorni.wordpress.com/2009/03/15/pengertian-manajemen-dan-fungsi-fungsinya-definition-and-functions-of-management/
2. KELAS
Sebuah kelas tidak boleh sekedar diartikan sebagai tempat siswa berkumpul untuk mempelajari sejumlah ilmu pengetahuan. Demikian juga sebuah sekolah bukanlah sekedar sebuah gedung tempat murid mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Sekolah dan kelas diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam mendidik anak-anak, yang tidak hanya harus didewasakan dari aspek intelektualnya saja, akan tetapi dalam seluruh aspek kepribadiannya. Untuk itu bagi setiap tingkat dan jenis sekolah diperlukan kurikulum yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dalam perkembangannya. Kurikulum yang dipergunakan di sekolah sangat besar pengaruhnya terhadap aktivitas kelas dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang berdaya guna bagi pembentukan pribadi siswa. Dengan kata lain aktivitas sebuah kelas sangat dipengaruhi oleh kurikulum yang dipergunakan di sekolah. Suatu kelas akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat apabila kurikulum yang dipergunakan di sekolah dirancangkan sesuai dengan dinamika masyarakat.
Sekolah yang kurikulumnya dirancangkan secara tradisional akan mengakibatkan aktivitas kelas berlangsung secara statis. Kurikulum tradisional diartikan sebga sejumlah materi pengetahuan dan kebudayaan hasil masa lalu yang harus dikuasai murid untuk mencapai suatu tingkat tertentu, yang dinyatakan dengan ketentuan kenaikan kelas atau pemberian ijazah kepada murid tersebut. Di dalam kurikulum seperti itu mata pelajaran diberikan secara terpisah-pisah (subject certerd curriculum yang pada umumnya bersifat intelektualistis.
http://www.idonbiu.com/2009/07/pengertian-kurikulum-belajar.html
Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas. Pengelolaan itu sendiri akar katanya adalah “kelola”, ditambah awalan “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari pengelolaan adalah “manajemen”. Manajemen adalah kata yang aslinya dari bahasa Inggris, yaitu management yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan.(Djamarah 2006:175)
“Pengelolaan adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan dan pencapaian tujuan”Dekdibud (dalam Rachman 1997:11). Pengelolaan dalam pengertian umum menurut Arikunto (dalam Djamarah 2006:175) adalah pengadministrasian pengaturan atau penataan suatu kegiatan. Menurut Hamalik (dalam Djamarah 2006:175) ”kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru” sedangkan menurut Ahmad (1995:1) “kelas ialah ruangan belajar dan atau rombongan belajar”
Hadari Nawawi memandang kelas dari dua sudut, yaitu:
1. Kelas dalam arti sempit yakni, ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini mengandung sifat statis karena sekadar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangan yang antara lain didasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.
2. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai suatu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan (Djamarah2006:176).
“Pengelolaan kelas merupakan ketrampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.” (Mulyasa 2006:91). Sedangkan menurut Sudirman (dalam Djamarah 2006:177) ”Pengelolaan kelas adalah upaya mendayagunakan potensi kelas.” Ditambahkan lagi oleh Nawawi (dalam Djamarah 2006:177) ”Manajemen atau pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegitan-kegiatan yang kreatif dan terarah .” Arikunto (dalam Djamarah 2006:177) juga berpendapat “ bahwa penelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agardicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar yang seperti diharapkan.” Pengelolaan dapat dilihat dari dua segi, yaitu pengelolaan yang menyangkut siswa dan pengelolaan fisik (ruangan, perabot, alat pelajaran). http://sekolah-dasar.blogspot.com/2009/01/pengertian-pengeloaan-kelas.html
Ruang Kelas adalah suatu ruangan dalam bangunan sekolah, yang berfungsi sebagai tempat untuk kegiatan tatap muka dalam proses kegiatan belajar mengajar(KBM). Mebeler dalam ruangan ini terdiri dari meja siswa, kursi siswa, meja guru, lemari kelas, papan tulis, serta aksesoris ruangan lainnya yang sesuai. Ukuran yang umum adalah 9m x 8m.
Ruang kelas memiliki syarat kelayakan dan standar tertentu, misalnya ukuran, pencahayaan alami, sirkulasi udara, dan persaratan lainnya yang telah dibakukan oleh pihak berwenang terkait.
Dalam peranya sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkunagn belajar serat merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan pendidikan. Lingkungan yang baik adalah yang bersifat menantang, dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan.
Sebagai manajer guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fiisk kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses intelektual dan social dalam kelasnya. Salah satu manajemen kelas yang baik adalah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk sedikit demi sedikit mengurangi ketergantunganya pada guru sehingga mereka mampu membimbing kegiatanya sendiri.
Sebagai manajer lingkungan guru hendaknya mampu mempergunakan pengetahuan tentang teori-teori belajar mengajar dan teori perkembangan sehingga kemungkinan untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang menimbulkan kegiatan belajar pada siswa akan mudah dilaksanakan dan sekaligus memudahkan pencapaian tujuan yang diharapkan.
PERAN guru sebagai ujung tombak pendidikan amat strategis dalam mengembangkan potensi siswa. Karena itu penguasaan pengelolaan kelas mutlak harus dikuasai. Pengelolaan kelas meliputi ruang, waktu, bahan ajar bersama metode pembelajarannya serta perangkat evaluasinya. Berangkat dari penyusunan perangkat persiapan hingga terwujudnya rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), yang telah dicontohkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), instrumen ini sudah dapat menggambarkan keadaan kelas dan memprediksi bagaimana guru menjalankan fungsinya di depan kelas. Beranjak dari pengamatan di lapangan, RPP yang telah dibuat oleh beberapa guru dilihat dari sisi pengelolaan waktunya, rupanya beragam seperti yang tercantum dalam kop lembarannya. Ada yang tertulis 2 x 45 menit, ada pula 8 x 45 menit, sampai 20 x 45 menit. http://blog.beswandjarum.com/soikhurojib/2009/10/05/peran-guru-dalam-menciptakan-kehidupan-sekolah/
3. MANAJEMEN KELAS
Membahas mengenai pengelolaan kelas perspektif baru dan selanjutnya kita akan membahas masalah manajemen kelas. Manajemen kelas merupakan bagian integral pengajaran efektif yang mencegah masalah perilaku melalui perencanaan, pengelolaan, dan penataan kegiatan belajar yang lebih baik, pemberian materi pengajaran yang lebih baik, dan interaksi guru siswa yang lebih baik, membidik pada pengoptimalan keterlibatan dan kerjasama siswa dalam belajar. Teknik kontrol perilaku atau pendisiplinan pada akhirnya akan tidak terlalu efektif karena teknik tersebut tidak mendorong perkembangan disiplin diri atau tanggung jawab anak sendiri atas tindakannya. Nilai-nilai dan ketrampilan sosial harus diajarkan dan dicontohkan oleh guru.
Seorang pendidik atau guru perlu menguasai banyak faktor yang mempengaruhi motivasi, prestasi dan perilaku siswa mereka. Lingkungan fisik di kelas, level kenyamanan emosi yang dialami siswa dan kualitas komunikasi antar guru dan siswa merupakan faktor penting yang bisa memampukan atau menghambat pembelajaran yang optimal. Guru bertanggung jawab untuk berbagai siswa, termasuk mereka dari keluarga yang tidak mampu atau kurang beruntung, siswa yang mungkin harus bekerja setelah sekolah, atau mereka yang berasal dari kelompok minoritas etnis, agama atau bahasa atau mereka dengan berbagai kesulitan atau kecacatan belajar. Tak satupun dari situasi atau faktor ini harus menyebabkan masalah pendidikan, namun anak-anak ini mungkin beresiko mendapatkan pengalaman sekolah yang negatif dan tak bermakna jika guru tidak responsif terhadap kebutuhan dan kemampuan mereka atau mampu menggunakan pengajaran dan strategi kelas yang efektif dan disesuaikan menurut individu. http://id.shvoong.com/social-sciences/education/1940780-manajemen-kelas/
Pengelolaan kelas ( classroom management ) berdasarkan pendekatan menurut Weber diklasifikasikan kedalam dua pengertian, yaitu berdasarkan pendekatan otoriter dan pendekatan permisif. Berikut dijelaskan pengertian dari masing-masing pendekatan tersebut
Pertama, berdasarkan pendekatan otoriter pengelolaan kelas adalah kegiatan guru untuk mengkontrol tingkah laku siswa, guru berperan menciptakan dan memelihara aturan kelas melalui penerapan disiplin secara ketat ( Weber )
Bagi sekolah atau guru yang menganut pendekatan otoriter, maka dalam mengelola kelas guru atau sekolah tersebut menciptakan iklim sekolah dengan berbagai aturan atau ketentuan-ketentuan zang harus ditaati oleh warga sekolah/ kelas. Walaupun menggunakan pendekatan otoriter, berbagai aturan zang dirumuskan tentu saja tidak hanza didasarkan pada kemauan sepihak dari pengelola sekolah /kelas saja, melainkan dengan memasukan aspirasi dari siswa. Hal ini penting mengingat aturan zang dibuat diperuntukan bagi kepentingan bersama, zaitu untuk menunjang terjadinya proses pembelajaran zang efektif dan efisien.
Kedua pendekatan permisif mengartikan pengelolaan kelas adalah uapaya zang dilakukan oleh guru untuk memberi kebebasan untuk siswa melekukan berbagai aktivitas sesuai dengan zang mereka inginkan. Pengertian kedua ini tentu saja bertolak belakang dengan pendapat pertama. Menurut pandangan permisif, fungsi guru adalah bagaimana menciptakan kondisi siswa merasa aman untuk melakukan aktivitas di dalam kelas, tanpa aharus merasa takut dan tertekan
Ada lima definisi tentang pengelolaan kelas.
Definisi pertama, memandang bahwa pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Pandangan ini bersifat otoritatif. Dalam kaitan ini tugas guru ialah menciptakan dan memelihara ketertiban suasana kelas. Penggunaan disiplin amat diutamakan. Menurut pandangan ini istilah pengelolaan kelas dan disiplin kelas dipakai sebagai sinonim. Secara lebih khusus, definisi pertama ini dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas.
Definisi kedua bertolak belakang dengan definisi pertama diatas, yaitu yang didasarkan atas pandangan yang bersifat permisif. Pandangan ini menekankan bahwa tugas guru ialah memaksimalkan perwujudan kebebasan siswa. Dalam hal ini guru membantu siswa untuk merasa bebas melakukan hal yang ingin dilakukannya. Berbuat sebaliknya berarti guru menghambat atau menghalangi perkembangan anak secara alamiah. Dengan demikian, definisi kedua dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa. Meskipun kedua pandangan diatas, pandangan otortatif dan permisif, mempunyai sejumlah pengikut, namun keduanya dianggap kurang efektif bahkan kurang bertanggungjawab. Pandangan otoritatif adalah kurang manusiawi sedangkan pandangan permisif kurang realistik.
Definisi ketiga didasarkan pada prinsip-prinsip pengubahan tingkah laku (behavioral modification). Dalam kaitan ini pengelolaan kelas dipandang sebagai proses pengubahan tingkah laku siswa. Peranan guru ialah mengembangkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan. Secara singkat, guru membantu siswa dalam mempelajari tingkah laku yang tepat melalui penerapan prinsip-prinsip yang diambil dari teori penguatan (reinforcement). Definisi yang didasarkan pada pandangan ini dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan.
Definisi keempat memandang pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim sosio-emosional yang positif didalam kelas. Pandangan ini mempunyai anggaran dasar bahwa kegiatan belajar akan berkembang secara maksimal di dalam kelas yang beriklim positif, yaitu suasana hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Untuk terciptanya suasana seperti ini guru memegang peranan kunci. Dengan demikian peranan guru ialah mengembangkan iklim sosio-emosional kelas yang positif melalui pertumbuhan hubungan interpersonal yang sehat. Dalam kaitan ini definisi keempat dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif.
Definisi kelima bertolak dari anggapan bahwa kelas merupakan sistem sosial dengan proses kelompok (group process) sebagai intinya. Dalam kaitan ini dipakailah anggapan dasar bahwa pengajaran berlangsung dalam kaitannya dengan suatu kelompok. Dengan demikian, kehidupan kelas sebagai kelompok dipandang mempunyai pengaruh yang amat berarti terhadap kegiatan belajar, meskipun belajar dianggap sebagai proses individual. Peranan guru ialah mendorong berkembangnya dan berprestasinya sistem kelas yang efektif. Definisi kelima dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.
Ketiga definisi yang terakhir tersebut diatas masing-masing bertitik tolak dari dasar pandangan yang berbeda. Manakah yang terbaik diantara ketiga definisi itu? Dari ketiga pandangan itu tidak satupun pernah dibuktikan sebagai pandangan yang terbaik. Oleh karena itu adalah bermanfaat apabila guru mampu membentuk suatu pandangan yang bersifat pluralistic, yaitu pandangan tersebut. Perlu dicatat bahwa pandangan pluralistic yang merangkum tiga dasar pandangan itu (pandangan tentang pengubahan tingkah laku, iklim sosio-emosional, dan proses kelompok) tidak mungkin merangkum juga pandangan yang bersifat otoritatif dan permisif. Pandangan yang otoritatif dan permisif itu justru dapat berlawanan dengan pandangan pluralistic yang dimaksud.
Definisi yang pluralistic itu dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio-emosional yang positif, serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan produktif.
Guru-guru perlu memahami dan memegang salah satu definisi tersebut diatas yang akan menjadi pedoman bagi tingkah laku dan kegiatan guru didalam kelas dalam rangka mengelola kelasnya. Definisi yang lebih tepat bagi guru-guru kiranya adalah definisi yang bersifat pluralistic. http://www.infodiknas.com/materi-diklat-4/
Pengelolaan dan Pembelajaran
Pengelolaan dan pembelajaran dapat dibedakan tapi memilki fungsi zang sama. Pengelolaan tekannya lebih kuat pada aspek pengaturan ( management ) lingkungan pembelajaran, sementara pembelajaran ( instruction ) lebih kuat berkenaan dengan aspek mengelola atau memproses materi pelajaran. Pada akhirnya dari kedua aktivitas tersebut, keduanya dilakukan dalam rangka untuk mencapai tujuan yang sama yaitiu tujuan pembelajaran
Contoh aspek pengelolaan, jika di dalam kelas terdapat gambar yang di anggap kurang baik atau tidak apada tempatnya untuk ditempelkan di dinding karena akan menggangu konsentrasi siswa dalam belajar, maka guru tersebut memindahkannya dan menempatkan pada tempat yang di anggap paling cocok. Adapun pembelajaran, jika diperoleh siswa yang mengelami kesulitan belajar untuk materi-materi tertentu, maka guru mengidentifikasi sebab-sebabnya, dan membantu siswa mengahadapi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya itu
Komponen-Komponen Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas dilakukan untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran zang lebih berkualitas. Oleh karena itu pendekatan atau teori apapun zang dipilih dan zang dijadikan dasar dalam pengelolaan kelas, harus diorientasikan pada terciptanya proses pembelajaran secara aktif dan produktif. Untuk mendukung proses pembelajaran tersebut, maka aunsur-unsur pengelolaan meliputi dua tindakan, yaitu ;
1. Model tindakan
a.Preventif , yaitu upaya yang dilakukan oleh guru untuk mencegah terjadinza gangguan dalam pembelajaran. Mencegah lebih baik dari pada mengobati. . Implikasi bagi guru melalui kegiatan preventif ini yaitu sedini mungkin guru mengidentifikasi hal-hal atau gejala-gejala zang dianggap akan mengganggu pembelajaran
Beberapa upaya atau keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk mendukung terhadap tindakan prteventis antara lain ;
1. Tanggap /peka, sikap tanggap ini ditunjukan oleh kemampuan guru secara dini mampu dengan segera merespon terhadap berbagai perilaku atau aktivitas yang di anggap akan mengganggu pembelajaran atau berkembangnza sikap maupun sifat negatif dari siswa maupun lingkungan pembelajaran lainnya
2. Perhatian yaitu selalu mencurahkan perhatian pada berbagai aktivitas, lingkungan maupun segala sesuatu zang muncul. Perhatian merupakan salah satu bentuk keterampilan dan kebiasaan zang harus dimiliki oleh guru.
b. Refrensif, keterampilan refrensif tidak diartikan sebagai tindakan kekerasan seperti halnya penanganan dalam gangguan keamanan. Keterampilan refrensif sebagai salah satu unsur dari keterampilan pengelolaan kelas
c. Modifikasi tingkah laku
• Modifikasi tingkah laku yaitu bahwa setiap tingkah laku dapat diamati. Oleh karena itu bagaimana dengan tingkah laku yang muncul dengan positif, guru memberi respon positif agar kebiasaan baik itu lebih kuat dan dapat dipelihara
• Pengelolaan kelompok, untuk menangani permasalahan hendaknya dilakukan secara kolaborasi dan mengikutsertakan beberapa komponen atau unsur yang terkait
• Diagnisis yaitu suatu keterampilan untuk mencari unsur-unsur yang akan menjadi penyebab gangguan maupun unsur-unsur yang menjadi kekuatan bagi peningkatan proses pembelajaran
http://apadefinisinya.blogspot.com/2008/06/hakikat-pengelolaan-kelas.html
Keberhasilan guru mengajar di kelas tidak cukup bila hanya berbekal pada pengetahuan tentang kurikulum, metode mengajar, media pengajaran, dan wawasan tentang materi yang akan disampaikan kepada anak didik. Di samping itu guru harus menguasai kiat manajemen kelas. Guru hendaknya dapat menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang menguntungkan bagi anak didik supaya tumbuh iklim pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM).
Hampir seluruh hasil survei mengenai keefektifan guru ( teacher effectiveness ) melaporkan bahwa keterampilan manajemen kelas menentukan keberhasilan proses belajar siswa atau peringkat yang dicapainya. Dengan demikian keterampilan manajemen kelas sangat krusial dan fudemental dalam mendukung proses pembelajaran. Guru – guru yang rendah keterampilannya dalam bidang manajemen kelas, barangkali tidak dapat menyelesaikan banyak hal yang menjadi tugas pokoknya. Pendapat ini dikemukakan oleh Brophy dan Evertson dalam Learning from Teaching, tahun 1976. Menurut beberapa pendapat yang dapat saya simpulkan konsep manajemen kelas lebih luas dari pada sebatas menciptakan iklim untuk menegakkan disiplin siswa. Konsep manajemen kelas mencakup segala hal, yaitu guru harus merangsang keterlibatan dan kerjasama siswa di dalam keseluruhan aktivitas kelas dan menata lingkungan kerja menjadi lebih produktif lagi bagi proses pendidikan dan pembelajaran.
Guru yang melaksanakan manajemen kelas sebagai proses pemapanan dan pemeliharaan ( establishing and maintaining ) lingkungan belajar yang efektif cendrung lebih sukses dari pada guru – guru yang memposisikan atau memerankan diri sebagai figure otoritas atau penegak disiplin ( authority figures or disciplinarians ) belaka. Kinerja manajemen kelas yang efektif memungkinkan lahirnya roda penggerak bagi penciptaan pemahaman diri, evaluasi diri dan internalisasi control diri pada kalangan siswa.
Dalam keseharian tugas dinasnya bahwa siswa paling banyak berhubungan dengan guru dan demikian juga sebaliknya merupakan perwajahan sekolah yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Dalam tugas kesehariannya, guru berhadapan dengan siswa yang berbadan tinggi, sedang atau rendah prestasi akademiknya. Ida pun juga berhadapan dengan siswa yang baik – baik, santun arogan, cuek, pengganggu bahkan kuat, sedang atau lemah fisiknya. Belum lagi keragaman tersebut dilihat dari perspektif social, ekonomi, kultur, kebiasaan, agama, kepedulian dan derajat kohensifitasnya dan lain sebagainya.
Siswa yang bermasalah biasanya menjadi beban si guru dalam mengajar di kelas dan merupakan kepedulian tindakan yang menjadi beban dari tugas si guru. Bentuk kenakalan dan prilaku menyimpang para siswa beragam, dari permasalah sampah,berisik dikelas, mencuri, berkelahi, bolos, pecandu narkoba, dan tidak disiplin dalam belajar.
Mengapa siswa cendrung berprilaku buruk? Ada banyak faktor penyebab hal tersebut, antaranya adalah faktor sosial, ekonomi, kultural, agama, jenis kelamin, ras, tempat tinggal, perbedaan potensial kognitif, kesehatan, kebiasaan hidup dan lain – lain. Faktor yang lain adalah penyebabnya yaitu sekolah sendiri. Tidak semua sekolah dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran secara kondusif, misalnya adalah sekolah lebih dekat dengan tempat keramaian, bangunan yang sudah terlalu tua, ruang kelas yangmengundang gerah, disiplin guru yang tidak memadai, manajemen sekolah yang buruk, terlalu banyak pungutan dan lain sebagainya.Ini berarti ada tantangan serius bagi sekolah. Kedua, menetapkan tata aturan dan prosedur disiplin yang jelas dan standar, serta mengikat semua anak didik.Ketiga, melembagakan dan memberi keteladanan mengenai norma – norma etik yang menjadi pemandu hubungan antar subjek di lingkungan sekolah. http://pak-gunawan.blogspot.com/2009/02/peranan-manajemen-kelas.html
DAFTAR PUSTAKA
http://pak-gunawan.blogspot.com/2009/02/peranan-manajemen-kelas.html
http://apadefinisinya.blogspot.com/2008/06/hakikat-pengelolaan-kelas.html
http://www.infodiknas.com/materi-diklat-4/
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/1940780-manajemen-kelas/
http://blog.beswandjarum.com/soikhurojib/2009/10/05/peran-guru-dalam-menciptakan-kehidupan-sekolah/
http://sekolah-dasar.blogspot.com/2009/01/pengertian-pengeloaan-kelas.html
http://elqorni.wordpress.com/2009/03/15/pengertian-manajemen-dan-fungsi-fungsinya-definition-and-functions-of-management/
http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen
http://www.idonbiu.com/2009/07/pengertian-kurikulum-belajar.html
guru dan administrasi pendidikan
GURU DAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN
A. Guru dan Administrasi Pendidikan
1. Partisipasi Guru dalam Administrasi Pendidikan
Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Partisipasi guru dalam administrasi sekolah sangat penting dan menjadi keharusan.
Partisipasi dimaksud hendaknya ditafsirkan sebagai kesempatan-kesempatan kepada para guru dan kepala sekolah untuk memberi contoh tentang bagaimana demokrasi dapat diterapkan untuk memecahkan berbagai masalah pendidikan.
Secara berangsur-angsur tekanan diberikan kepada partisipasi guru dalam administrasi pendidikan/sekolah, yaitu penyelenggaraan dan manajemen sekolah.
Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik,melainkan juga sebagai administrator pada bidang pendidikan. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur yang segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu diadministrasikan secara baik.
Hal itu semua dilakukan agar guru benar-benar menjadi seorang pengajar serta pembimbing yang professional yang dituntut pada era ini.
http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/fungsi-dan-tanggung-jawab-guru- sebagai.html
Dalam banyak hal pekerjaannya berhubungan erat sekali dengan pekerjaan seorang pengawas, kepala sekolah, pegawai tata usha sekolah, dan berbagai pejabat inspeksi lainnya. Secara berangsur-angsur tekanan makin di berikan kepada partisipasi guru dalam administrasi pendidikan dalam hidup sekolah, yakni menyelenggarakan dan memenejemen sekolah.
Tokoh-tokoh pendidikan sekarang menekankan kepada gagasan tentang demokrasi dalam hidup sekolah : Guru-guru hendaknya didorong untuk ikut serta dalam pemecahan masalah-masalah administrative yang langsung mempengaruhi status profesional guru. Kegiatan partisipasi guru dalam administrasi sekolah itu ialah seperti sumbangan-sumbangan guru terhadap perbaikan kesejahteraan guru dan murid, penyempurnaan kurikulum, pilihan buku-buku dan alat-alat pelajaran dan sebagainya.
Sehubungan dengan itu, sangat penting di bicarakan dalam rangka administrasi pendidikan ini tentang peranan dan tanggung jawab guru di dalam organisasi dan administrasi sekolah tempat kegiatan-kegiatan meliputi lebih dari khusus mengajar di dalam kelas.
Untuk itu pula maka partisipasi guru dalam administrasi sekolah sangat penting dan menjadi keharusan. Partisipasi dimaksud hendaknya ditafsirkan sebagai kesempatan-kesempatan kepada para guru dan kepala sekolah untuk memberi contoh tentang bagaimana demokrasi dapat diterapkan untuk memecahkan berbagai masalah pendidikan.
Harus diakui, bahwa disebabkan oleh berbagai factor, proses pendemokrasian administrasi dan pengawasan sekolah-sekolah itu meminta waktu, dan hanya dapat di capai secara berangsur-angsur. Kebiasaan-kebiasaan yang tradisional pada para petugas pendidikan dan para guru, sukar sekali mengubah dan membuangnya.
Banyak usaha pembaharuan telah di jalankan, seperti dalam bentuk dan isi kurikulum, cara-cara atau metode-metode mengajar yang baik dan efisien, adanya pembinaan dan penyuluhan, kegiatan-kegiatan ekstrakulekuler, dan sebagainya. Tetapi, semua itu tidak hanya mendatangkan hasil yang sedikit sekali, kadang-kadang tidak kelihatan sama sekali hasilnya. Hal ini di sebabkan antara lain oleh adanya konservatisme dan sifat-sifat tradisional di dalam praktek kehidupan pendidikan yang sangat kuat. Juga disebabkan karena kurang atau tidak diikut sertakannya guru-guru dalam usaha-usaha pembaharuan pendidikan.
Ada bermacam-macam kesempatan yang dapat digunakan untuk menikutsertakan guru-guru dalam kegiatan-kegiatan sekolah di antaranya ialah :
a. Mengembangkan Filsafat Pendidikan
Mengembangkan filsafat pendidikan berarti bahwa dalam setiap langkah kegiatan mendidik selalu berusaha hendak menjawab apakah yang sedang kita lakukan?, bagaimana kita melakukannya?, apa sebab kita melakukannya?, dan untuk apakah kita melakukannya?.
Filsafat pendidikan seorang guru mencakup dari semua unsur yang telah membentuk kehidupannya, pengalaman-pengalamannya, cita-citanya, sikapnya, pendapatnya, keberhasilan dan kegagalan-kegagalannya. Filsafat pendidikan akan berkembang terus pada orang-orang yang hidup di tengah-tengah murid, tumbuh di dalam praktek, senantiasa berubah dan bertambah, dan tidak pernah lengkap dan selesai.
Apabila sekolah ingin memiliki suatu filsafat yang didukung oleh semua orang yang berada di belakang programnya, maka langkah-langkah yang harus di ambil oleh pemimpin dan guru-guru ialah membicarakan secara terbuka apa yang mereka yakini sehingga mencapai pengertian-pengertian dasar mengenai hakikat anak, fungsi dan tujuan sekolah dalam masyarakat, dan bagaimana cara mengajar-belajar yang baik.
b. Memperbaiki dan Menyesuaikan Kurikulum.
Biasanya penyusunan kurikulum serta perubahan dan penyesuaiannya di lakukan pada tingkat kanwil dengan bantuan para ahli dalam mata pelajaran-pelajaran khusus.
Prosedur itu menghadapi berbagai kesulitan dalam praktek perbaikan pendidikan dan pengajaran. Kita masih ingat akan mata pelajaran civics, krida, dan prakarya yang di tambahkan pada kurikulum “gaya baru”, dan kegiatan-kegiatan pembaharuan seperti mengajar secara unit teaching, diskusi kelompok, memimpin community survey, menyusun objective test, serta pengelolahan hasilnya dan lain-lain, pada umumnya mengalami kesukaran atau kemacetan dalam pelaksanaannya, sebab hal-hal tersebut hanya ditentukan dari atas, guru-guru tidak diikut sertakan. Keadaan yang demikian mengakibatkan banyak usaha perbaikan pengajaran yang hanya tinggal di atas kertas saja.
Hal yang demikian menimbulkan pengertian tentang keharusan untuk mengikutsertakan guru-guru dalam usaha memperbaiki dan menyesuaikan kurikulum.
c. Merencanakan Program Supervisi
Bentuk supervisi ini maksudnya ialah kegiatan-kegiatan pengawasan yang langsung ditunjukanuntuk memperbaiki situasi belajar-mengajar di dalam kelas. Tujuannya ialah membantu para guru untuk tumbuh secara pribadi dan professional, dan untuk belajar memecahkan sendiri masalah-masalah yang mereka hadapi dalam tugasnya.
d. Merencanakan Kebijakan-kebijakan Kepegawaian
Adapun kebijakan-kebijkan kepegawaian yang memerlukan ikut sertanya guru-guru dalam perencanaannya tentu saja harus memulai permusyawaratan perwakilan, antara lain ialah masalah penempatan, orientasi, promosi (kenaikan pangkat/jabatan), pemberhentian (pensiun pemecatan, dsb), pemindahan, pemberian tugas mengajar, cuti, konduite, masalah gaji, pengobatan, dan kesejahteraan guru-guru dan petugas-petugas pendidikan pada umumnya.
e. Kesempatan-Kesempatan Berpartisipasi lainnya
Masih banyak kesempatan-kesempatan lainnya yang mengharuskan ikutsertanya guru-guru dalam administrasi sekolah. Beberapa diantaranya ialah, sebagai berikut :
1) Menyelidiki buku-buku sumber bagi guru dan buku-buku pelajaran bagi murid-murid.
2) Menentukan dan menyusun tata tertib sekolah.
3) Menetapkan syarat-syarat penerimaan murid baru.
4) Merumuskan kebijakan tentang pembagian tugas mengajar guru-guru.
5) Menyusun daftar pelajaran umum dan khusus.
6) Merencanakan penilaian kemajuan-kemajuan program sekolah.
7) Menetapkan pengawasan dan bimbingan kegiatan-kegiatan organisasi murid agar terarah.
8) Merencanakan dan memimpin rapat-rapat guru.
9) Memikirkan usaha-usaha memajukan kesejahteraan guru, pegawai, dan murid-murid.
10) Merencanakan dan membantu kelancaran ketatausahaan sekolah.
Adapun untuk berpartisipasi menanamkan sifat dan kehidupan yang demokratis pada murid-murid, tidak cukup hanya dengan ceramah-ceramah atau kata-kata saja. Perkembangan tingkah laku yang demokratis pada anak didik pada asasnya bergantung pada hubungan anak didik dengan guru dan pada sifat dari pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari yang ada dilingkungan sekolah. Untuk itu, guru harus memahami arti demokrasi dan percaya pada nilai-nilainya dan pada tingkah laku menjadi contoh sebagai jiwa pribadi yang benar-benar demokratis. http://wwwfikriyansyah.blogspot.com/
2. Arti Demokrasi dalam Administrasi Pendidikan
Penerapan demokrasi dalam administrasi sekolah hendakriya diartikan bahwa administrasi sebagai kegiatan atau rangkaian kegiatan kepemim¬pinan; dengan itu tujuan-tujuan sekolah dan cara-cara untuk mencapai nya dikembangkan dan dijalankan. Kegiatan-kegiatan kepemimpinan ini meliputi: kegiatan mengorganisasi personel dan material, merencanakan program/kegiatan-kegiatan, membangun semangat guru-guru dan inisiatif perscorangan/kelom¬pok ke arah tercapainya tujuan-tujuan. menilai hasil-hasil dari rencana-rencana, prosedur-prosedur, serta pelaksanaannya oleh perseorangan dan kelompok.
Apabila administrasi dipandang sebagai proses bekerja dengan orang¬orang dan mengoordinasi usaha-usaha mereka ke dalam keseluruhan yang bekerja efisien dan produktif, maka jclas bahwa tanggung jawab tidak dapat lagi dipusatkan pada hanya satu orang belaka. Tanggung jawab hams disalurkan secara luas di antara semua orang yang mengambil bagian dalam program sekolah.
Dengan demikian, tekanan berpindah dari kekuasaan untuk menen¬tukan dan memerintah kepada proses mengembangkan semangat, pikir¬an, dan perbuatan yang koorperatif, dan kepada kesempatan-kesempat¬an yang diciptakan bagi pertumbuhan kepemimpinan perseorangan dan kelompok.
Masalah mcmimpin dan mengatur sekolah sccara derrokratis menim¬bulkan masalah tentang pe..lunya kesempatan-kesempatan bagi partisi¬pasi bagi guru-guru secara penuh, juga pegawai-pegawai sekolah, murid¬murid dan orang-orang tua murid, dalam memikirkan cara-cara memaju¬kan program dan kesejahteraan sekolah. Persetujuan semua inerupakan ciri khas bagi demokrasi di dalam administrasi sekolah.
Di samping itu, hendaklah dipahami bahwa untuk menanamkan sifat dan kehidupan yang demokratis pada murid-murid, tidal: cuk up hanya dengan ceramah-ccramah atau kata-kata saja. Perkembangan tingkah laku yang demokratis pada anak didik pada asasnya bergantung nada hubungan anak didik dengan guru dan pada sifat dari pengalaman¬pengalaman hidup sehari-hari yang disediakan oleh sekolah. Adapun pola-pola tingkah laku yang demokratis yang seyogyanya dimiliki oleh guru ialah:
1) Menghormati kepribadian orang-scorang;
2) Memperhatikan hak kebebasan orang lain;
3) Kerja sama dengan orang lain;
4) Menggunakan kecakapan-kecakapan mereka untuk memajukan kese¬jahteaau umum dan kemajuan social;
5) Lebih menghargai penggunaan kecerdasan secara efektif dalam meme¬cahkan masalah-masalah daripada penggunaan kekerasan atau emosi;
6) Menyelidiki, menemukan, dan menerima kekurangan-kekurangan diri sendiri dan berusaha memperbaikinya;
7) Mereka memimpin atau mengikuti sesuai dengan kcsanggupan mereka bagi keuntungan kelompok/bersama;
8) Memikul tanggung jawab terhadap tercapainya cita-cita dan tujuan¬tujuan bersama dan mendahulukan kewajiban daripada hak;
9) Mereka memerintah diri sendiri untuk kebaikan semua,
10) Bersikap toleran;
11) Menghargai musyawarah untuk memperolch kata sepakat;
12) Senantiasa berusaha untuk mencapai cara hidup demokratis yang pa¬ling efektif;
13) Berusaha dengan contoh sendiri untuk membimbing orang-orang lain supaya hidup secara demokratis,
14) Menyesuaikan diri kepada kondisi-kondisi yang selalu berubah dan berkembang ke arah perbailtan dan kemajuan.
http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/fungsi-dan-tanggung-jawab-guru-sebagai.html
3. Orientasi bagi Guru – Guru Baru
Bagi guru-guru yang baru mulai menjalankan tugasnya sebagai guru, adanya masa orientasi sangat diperlukan. Yang dimaksud dengan titasa orientasi ialah suatu kesempatan yang diberikan kepada seorang pegawai atas guru yang baru mulai bekerja, untuk mengadakan onservasi dan ber - partisipasi langsung dengan kegiatan-kegiatan yang berhuhungan dengan tugasnya sebagai guru di sekolah itu, agar dalam waktu yang relatif singkat is dapat segera mengenal dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat ia mengajar.
Masa orientasi sangat diperlukan karena setiap pegawai atau guru yang baru pada umumnva menghadapi problema, baik problema yang me¬nyangkut dirinya sendiri maupun problema yang berhubungan dengan tugas-tugas pekerjaan yang akan dilakukannya. la memerlukan bantuan dan bimbingan dari pimpinan sekolah dan guru-garu senior untuk dapat mengenal dan mengatasi problema-problema tersebut.
Hampir bagi setiap guru baru pengalaman pertama waktu permulaan mengajar merupakan pengalaman yang penuh frustrasi dan keragu-ragu¬an. Di dalam dirinya timbul bermacam-macam pertanyaan, seperti: Bagai¬mana reaksi murid-murid terhadap diri saya? Apakah saya akan meng¬alami kesukaran dalam hal menguasai disiplin anak-anak? Bagaimana sikap orang tua murid terhadap pelajarannya yang saya berikan? Dapatkah saya menjadi guru yang disenangi anak-anak? Pertolongan atau bantuan apa yang dapat saya terima dari guru-guru lain?
Semua itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang sering timbul pada guru-guru yang baru saja mulai mengajar. Dan itu semua perlu mendapat perhatian dari para supervisor dan kepala sekolah dalam rangka meng¬adakan orientasi bagi guru-guru baru. Tentu saja tidak mungkin sekali - gus semua itu dapat dilayani, tetapi harus dilakukan secara berangsur-angsur.
Seperti dikatakan oleh Chamberlain dan Kindred, setiap guru baru memerlukan bantuan antara lain dalam hal mempelajari masyarakat, lingkungan fisik sekitar sekolah dan fasilitas-fasilitas yang ada di lingkungan tersebut, mengenal dan mempelajari tentang teman sejawat, murid-murid, kebi¬jakan pelaksanaan sistem sekolah, dan macam-macam tugas yang akan mereka kerjakan. Mereka memerlukan bantuan dalam pemecahan masalah-masalah yang timbul dan bimbingan dalam mengarahkan.
Tujuan orientasi yang terutama ialah membawa guru barn untuk dapat segera mengenal situasi dan kondisi serta kehidupan sekolah pada umumnya, agar selanjutnya dapat mendorong memberi motivasi kepada meraka untuk bekerja baik dan bergairah.
(Elsbree dan Reutterx) mengemukakan bahwa tujuan oricntasi; yang terutama adalah mcmberikan perhatian (attention) kepada guru barn dan mendorong mereka agar memiliki kualitas mengajar yang tinggi. Untuk mencapai tujuan pokok ini maka program orientasi paling sedik:t haruslah berisi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1) Mengenalkan kepada guru-guru baru itu secepat mungkin agar mereka segera dapat mengenal sistem sekolah dan masyarakat lingkungan sekolah.
2) Menyediakan bantuan secukupnya agar mereka segera dapat mengenal dan menyesuaikan diri dengan personel sckolah (guru-guru dan pc¬gawai).
3) Memberikan bimbingan yang konstruktif dalam mengembangkan kecakapan-kecakapan mengajar dan sikap-sikap profesional mereka.
4) Menyediakan kesempatan kepada guru barn untuk turut berpartisipasi langsung dalam kegiatan-kegiatan sekoiah pada urnumnya.
Kegiatan-kegiatan orientasi
Berdasarkan arti dan tujuan orientasi scperti telah diuraikan di atas, maka kegiatan-kegiatan orientasi yang penting bagi guru baru yang perlu kita uraikan lebih Ianjut adalah seperti berikut:
1) Bantuan mendapat perumahan/tempat tinggal yang sesuai
Bagi beberapa orang guru baru, masalah perumahan/tempat tinggal se- ring merupakan masalah yang sangat urgen. Bantuan untuk mendapat perumahan/tempat tinggal yang layak dan wajar bagi seorang guru perlu mendapat perhatian. Tempat tinggal guru-guru yang berdekatan dengan sekolah pada umumnya lebih menguntungkan bagi kelancaran jalannya sekolah. Beberapa usaha yang dapat dilakukan sekolah dalam rangka memberi ban¬tuan tersebut antara lain dengan jalan:
• Bekerja sama dengan masyarakat setempat, khususnya POM atau Panitia Penyelenggara Sckolah yang bersangkutan.
• Dengan mencarikan rumah sewaan.
• Membantu meminjami uang dengan pengembalian secara diangsur sesuai dengan kemampuan guru yang bersangkutan.
• Menyediakan perumahan guru-guru.
• Meminjamkan perabot rumah yang diperlukan, dsb.
Tentu saja bantuan tersebut disesuaikan dengan kemampuan sekolah masing-masing, dan dipertimbangkan apakah guru tersebut benar-benar sangat memerlukannya demi kepentingan kelancaran jalannya sekolah.
2) Mengenalkan guru baru kepada sistem dan tujuan sekolah
Untuk dapat memberikan. kesempatan kepada guru baru dalam orienta¬sinya terhadap sistem dan tujuan sekolah, pada permulaan sebaiknya guru itu jangan terlalu banyak dibebani tugas-tugas. Dengan demikian, guru tersebut diberi kesempatan untuk bergaul dan mcngamati serta mengenal jalannya sekolah secara umum. Usaha-usaha lain yang dapat dilakukan ialah dengan yaitu 1) Memberi kesempatan kepada guru baru mempelajari buku-buku. kurikulum dan silabus yang berlaku di sekolah itu. 2) Kepala sckolah, guru-guru, serta pegawai sekolah mernbantunya de¬ngan memberikan informasi-informasi yang diperlukan tentarig ad¬ministrasi sekolah, jalannya sckolah atau sistem yang berlaku di sekolah itu. 3) Mengadakan tanya-jawab dan diskusi-diskusi dengan guru baru, balk secara formal maupun informal.
3) Mengenalkan guru baru kepada kondisi dan situasi masyarakat ling¬kungan sekolah
Caranya ialah dengan jalan memberikan informasi-informasi bilamana ia memerlkannya. Beberapa hal yang perlu diperkenalkan untuk diketahui oleh guru-guru baru antara lain:
• Letak dan macam-macam kantor atau instansi lain yang ada di sekitar sekolah itu; seperti kantor pemerintahan setempat, kantor pos, mas¬jid, gereja, pasar, terminal bus, stasiun kereta api, kantor polisi, rumah sakit, kantor pemadam kebakaran, dll. Jika mungkin dengan nomor telepon dan nama pemimpin masing-masing.
• Kehidupan, adat-istiadat serta sifat-sifat masyarakat setempat, antara lain bagaimana kepadatan dan komposisi penduduknya, mata pen¬cahariannya, kebiasaan-kebiasaan yang berlaku, sikap dan perhatian¬nya terhadap sekolah serta pendidikan pada umumnya.
4) Membantu guru baru dalam perkenalan dan penycsuaiannya terhadap personel sekolah
Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan jalan:
• Memperkenalkan kepada semua guru dan pcgawai sekolah claim suatu pertemuan.
• Mengadakan pertemuan ramah-iamah di sekolah atau di rumah salah seorang guru, yang dihadiri oleh semua guru dan staf
Dalam hal ini sangat penting dan perlu diperhatikan terutama sikap ke¬pala sekolah itu scndiri dalam mclayani dan mcnerima guru yang baru tersebut. Yang kedua ialah sikap guru-guru dan pegawai sekolah lainnya. Sikap ramah-tamah, hormat-merighormati, dan rasa kekeluargaan yang baik, sangat diperlukan oleh setiap guru baru.
5) Membantu guru baru dalam usaha memperbaiki dan mengetnbang¬kan kecakapan-kecakapan mengajarnya
Tidak semua guru baru sudah pandai mengajar clan memiliki sikap pro¬fesional yang sesuai dengan tuntutan jabatannya. Apalagi guru yang baru saja keluar dari sekolah guru. Mereka masih perlu bimbingan dan bantuan dalam menjalankan tugas pekerjaannya.
Beberapa usaha yang perlu dilakukan kepala sekolah dan supervisor dalam rangka memperbaiki dan mengembangkan kecakapan-kecakapan mengajar para guru baru antara lain : Mengadakan evaluasi dengan jalan mengobservasi kegiatan-kegiatan mengajar pada guru baru, dan membuat catatan-catatan harian. Memberikan kesempatan kepada guru baru untuk mengadakan obser¬vation visit atau kunjungan observasi, yakni mengainati demonstrasi mcngajar yang dilakukan olch guru yang telah berpengalaman, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi di antara mereka. Memberi bimbingan dalam membuat dan merencanakan pekerjaan mereka, seperti bimbingan dalam membuat persiapan mengajar, me¬milih bahan pelajaran, mcmilih metode mengajar yang sesuai, menen¬tukan kesempatan-kesempatan apa yang diperlukan untuk meneada¬kan hubungan sekolah dan masyarakat atau orang tua murid, cara¬cara menggunakan alat-alat peraga dalam mengajar, cara membuat dan menyusun tes atau soal-soal ulangan dalam rangka mengevaluasi hasil belajar murid-murid.
6) Membangkitkan sikap-sikap dan minat profesional
Pekerjaan sebagai guru (mengajar) bukan hanya sekadar bekerja untuk mencari nafkah. Mengajar dan mendidik adalah profesi yang memerlukan straw keahlian khusus serta bakat ataupun minat yang bcsar. Pekerjaan sebagai pendidik adalah juga tugas yang bersifat sosial dan amal. Tidak semua orang yang telah menyelesaikan pendidikannya di suatu lembaga pendidikan guru atau sekolah guru akan dengan sendirinya telah dapat dan suka serta mempunyai minat yang besar terhadap pekerjaannya sebagai guru.
Minat dan kesukaan ternadap suatu pekerjaan akan timbul dari pe¬ngalaman dan kcbiasaan, terutama pengalaman yang menyenangkan. Ka¬rena berkali-kali mengalami dan melakukan pekerjaan itu, lama-kclamaan timbullali minat dan rasa cintanya kepada pekerjaan tersebut. Minat terhadap suatu pekerjaan menimbulkan rasa suka terhadap pekerjaan itu.
B. Kode Etik Guru
Kode etik berasal dan kata kode dan etik. Kode bisa berarti simbol dan tanda, sedangkan etik bila ditelusuri berasal dan bahasa latin ethica dan bahasa Yunam ethos. Dalam kedua bahasa tersebut, etik berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku yang baik.
Kode etik guru adalah norma-norma yang mengatur tingkah laku guru, dan oleh karena itu haruslah ditaati oleh guru. Ia diciptakan oleh, dan dan untuk guru. Kode etik dipandang tidak tepat jika berupa peraturan yang dititik beratkan kepada sangsinya bagi mereka yang melanggar; melainkan tanpa sangsi apapun justru ditaati oleh anggotanya. Kode etik adalah persetujuan bersama yang timbul dari diri anggota.
Oleh karena kode etik adalah norma-norma yang harus ditaati oleh seseorang yang bermaksud diikatnya, maka tujuan kode etik guru adalah :
1. Agar guru mempunyai rambu-rambu yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam bertingkah laku sehari hari sebagai pendidik.
2. Agar guru-guru dapat bercermin diri mengenai tingkah lakunya, apakah sudah sesuai dengan profesi pendidik yang disandangnya ataukah belum.
3. Agar guru-guru dapat menjaga (mengambil langkah preventif), jangan sampai tingkah lakunya dapat menurunkan martabatnya sebagai seorang profesional yang bertugas utama sebagai pendidik.
4. Agar guru selekasnya dapat kembali (mengambil langkah kuratif), jika ternyata apa yang mereka lakukan selama ini bertentangan atau tidak sesuai dengan norma-norma yang telah dirumuskan dan disepakati sebagai kode etik guru.
5. Agar segala tingkah laku guru, senantiasa selaras atau paling tidak, tidak bertentangan dengan profesi yang disandangnya, ialah sebagai seorang pendidik. Lebih lanjut, dapat diteladani oleh anak didiknya dan oleh masyarakat umum.
Sedangkan fungsi kode etik guru, dapat digolongkan menjadi, fungsi yang bertalian dengan tugas guru sendiri, fungsi yang bertalian dengan tujuan pendidikan pada umumnya dan fungsi yang bertalian dengan masa depan profesi. Fungsi yang bertalian dengan tugas guru sendiri adalah:
1. Sebagai pedoman untuk melaksanakan tugas-tugas keguruan khususnya yang berkaitan dengan muatan normatif pendidikan.
2. Sebagai pedoman dalam bertingkah laku, karena profesi guru menuntut para penyandangnya untuk bertingkah laku yang dapat dijadikan contoh oleh anak didik dan masyarakat pada umumnya.
3. Sebagai pedoman untuk bergaul dan berhubungan, baik hubungan dan pergaulan antar sesama pendidik, dengan anak didik dan dengan staf sekolah lain maupun dengan masyarakat pada umunmya.
Sementara itu, fungsi kode etik guru yang bertalian dengan masa depan profesi keguruan sendiri adalah sebagai berikut :
1. Bahwa profesi guru adalah suatu profesi yang tidak saja menjunjung tinggi tata norma dan tata nilai masyarakat, melainkan juga sekaligus juga mewariskannya. Oleh karena itu, maka perlu ada kaidah dan tata susila keguruan yang harus mengikat kepada, dan dijadikan sebagai pedoman oleh para anggotanya.
2. Bahwa perkembangan tuntutan, aspirasi, tata norma dan tata nilai di masyarakat demikian dinamis. Hal ini bisa membawa konsekuensi semakin terpolarisasinya pandangan masyarakat mengenai tuntutan, aspirasi, harapan, tata norma dan tata nilai yang dianut oleh masyarakat. Besar atau kecil perkembangan yang demikian dinamis tersebut pasti berpengaruh terhadap etika-etika yang berlangsung di masyarakat. Kode etik guru, sebagai pedoman tingkah laku guru dálam melaksanakan tugasnya, dapat dijadikan sebagai arahan dalam mengantisipasi perkeinbangan tersebut. Ia menawarkan standar tingkah laku, setidak-tidaknya kepada para anggotanya, agar keberadaan profesi keguruan tersebut tetap eksis.
Kode Etik Guru pada Umumnya
1. Untuk mencapai tujuan sebagaimana termaktub pada Preambul UUD 1945, maka diperlukan syarat-syarat pokok dan tiap guru, yaitu berkepribdian, berilmu serta terampil dalam melaksanakan tugasnya.
2. Guru adalah setiap orang yang bertugas dan berwenang dalaiu dunia pendidikan dan pengajaran pada lembaga pendidkan formal.
3. Untuk melaksanakan tugasnya, maka prinsip-prinsip tentang tingkah laku yang diinginkan dan diharapkan dari setiap guru dalam. jabatannya terhadap orang lain dalam situasi pendidikan adalah berjiwa Pancasila berilmu pengetahuan serta terampil dalam menyampaikannya, yang dapat dipertanggungjawabkan secara didaktis dan metodis, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai.
4. Berdasarkan prinsip-prinsip unum di atas, maka petunjuk petunjuk yang merupakan tata cara akhlak itu wajib diamalkan oleh setiap guru dalam antar hubungan dengan manusia lain dalam lingkurigan jabatannya.
http://maswanispdyahoocoid.blogspot.com/2007/05/disiplin-guru.html
Guru Indonesia menyadari bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bangsa, dan Negara serta pada kemanusiaan pada umumnya. Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan setia pada UUD 1945, turut bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, oleh kerena itu, Guru Indonesia terpangil untuk menunaikan karyanya dengan memedomani dasar-dasar sebagai berikut:
1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
a. Guru menghormati hak individu dan kepribadian anak didiknya masing-masing
b. Guru berusaha mensusseskan pendidikan yang serasi (jasmaniyah dan rohaniyah) bagi anak didiknya
c. Guru harus menghayati dan mengamalkan pancasila
d. Guru dengan bersunguh-sunguh mengintensifkan Pendidikan Moral Pancasila bagi anak didiknya
e. Guru melatih dalam memecahkan masalah-masalah dan membina daya krasai anak didik agar kelak dapat menunjang masyarakat yang sedang membangun
f. Guru membantu sekolah didalam usaha menanamkan pengetahuan keterampilan kepada anak didik.
2. Guru memiliki kejujuran professional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
a. Guru menghargai dan memperhatikan perbedaan dan kebutuhan anak didiknya masing-masing
b. Guru hendaknya luwes didalam menerapkan kurikulum sesuai dengan klebutuhan anak didik masing-masing
c. Guru memberi pelajaran di dalam dan di luar sekolah berdasarkan kurikulum tanpa membeda-bedakan Janis dan posisi orang tua muridnya
3. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik,. Tetapi menghindarkan diri dari segtsala bentuk penyalah gunaan
a. Komunikasi Guru dan anak didik didalam dan diluar sekolah dilandaskan pada rasa kasih sayang
b. Untuk berhasilnya pendidikan, maka Guru harus mengetahui kepribadian anak dan latar belakangt keluarganya masing-masing.
c. Komunikasi Guru ini hanya diadakan semata-mata untuk kepentingan pendidikan anak didik
4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik
a. Guru menciptakan suasana kehidupan sekol;ah sehingga anak didik betah berada dan belajar di sekolah
b. Guru menciptakan hubungan baik dengan orang tua murid sehingga dapat terjalin pertukaran informasi timbale balik untuk kepentingan anak didik
c. Guru senantiasa menerima dengan lapang dada setiap kritik membangun yang disampaikan orang tua murid/ masyarakat terhadap kehidupan sekolahnya.
d. Pertemuan dengan orang tua murid harus diadakan secara teratur
5. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat disekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan
a. Guru memperluas pengetahuan masyarakat mengenai profesi keguruan
b. Guru turut menyebarkan program-progaram pendidikan dan lkebudayaan kepada masyarakat seketernya, sehingga sekolah tersebut turut berfubgsi sebagai pusat pembinaan dan pengembangan pendidikan dan kebudayaan ditempat itu
c. Guru harus berperan agar dirinya dan sekolahnya dapat berfungsi sebagai unsur pembaru bagi kehidupan dan kemajuan daerahnya.
d. Guru turut bersama-sama masyarakat sekitarnya didalam berbagai aktifitas
e. Guru menusahakan terciptanya kerjasama yang sebaik-bainya antara sekolah, orang tua murid, dan masyarakat bagi kesempurnaan usaha pendidikan atas dasar kesadaran bahwa pendidikan merupakan tangung jawab nersama antara pemerintah, orang t5ua murid dan masyarakat.
6. Guru secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
a. Guru melanjutkan setudinya dengan :
• Membaca buku-buku
• Mengikuti loka karya, seminar, gterakan koperasi, dan pertemuan-pertemuan pendidikan dan keilmuan lainnya
• Mengikuti penataran
• Mengadakan kegiatan-kegiatan penelitian
b. Guru selalu bicara, bersikap dan bertindak sesuai dengan martabat profesinya,
7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesame guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun didalam hubungan keseluruhan.
a. Guru senantiasa saling bertukar informasi pendapat, salung menasehatri dan Bantu-membantu satu sama lainnya, baik dalam hubungan kepentingan pribadi maupun dalam menuaikan tugas profgesinya
b. Guru tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan nama baik rekan-rekan seprofesinya dan menunjang martabat guru baik secara keseluruhan maupun secara pribadi
8. Guru secara bersama-sama memelihara, membina, dan meningkatkan organisasi guru professional sebagai sarana pengabdiannya.
a. Guru menjadi anggota dan membantu organisasi Guru yang bermaksud membina profesi dan pendidikan pada umumnya
b. Guru senantiasa berusaha bagi peningkatan persatuan diantara sesame pengabdi pendidikan
c. Guru senantiasa berusaha agar menghindarkan diri dari sikap-sikap ucapan, dan tindakan yag merugikan organisasi
9. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan
a. Guru senantiasa tunduk terhadap kebijaksanaan dan ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang pendidikan
b. Guru melakukan tugas profesinya dengan disiplin dan rasa pengabdian
c. Guru berusaha membantu menyebarkan kebijak sanaan dan program pemerintah dalam bidang pendidikan kepada orang tua murid dan masyarakat sekitarnya
d. Guru berusaha menunjang terciptanya kepemimpinan pendidikan dilingkungan atau didaerahnya sebaik-baiknya.
Menurut uraian diatas mengenai Kode Etik Guru, kita perlu melihat pula:
Kualitas guru-guru di Indonesia- khususnya yang berstatus PNS dan guru sekolah swasta yang “hidup segan mati takmau”, juga saat ini berada dalam titik “rendah”. Para guru juga tidak hanya gagap dalam beradaptasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan fenomena sosial kemasyarakatan, mereka juga terjebak dalam kebiasaan menjadi “robot” kurikulum pendidikan. Prakarsa inisiatif para guru untuk belajar mengalimetode, bahan ajar dan pola relasi belajar-mengajar yang baru sangat minimalis.
Tidak mengherankan ketika Depdiknas merekonsepsikan dan mengimplementasikan kerangka kurikulum pembaruan, KBK (kurikulum berbasis kopetensi), banyak guru yang sangat sulit memahami. Banyak yang menggerutu dan beranggapan KBK hanya sebagai wujud kurikulum yang “ngayawara” (tidak realistik).
Rendahnya mutu atau kapabilitas guru di Indonesia, selama ini disebabkan oleh beberapa factor. factor structural: para guru selama tiga dekada Orde Baru dijadikan “bemper” politik bagi kekuatan partai Golkar.
Guru dijadikan agen politik pembagunanisme dan juga agen pemenangan program partai golkar. Melelui organisasi Korpri dan PGRI, mereka dijadikan proyek korporatisme Negara. kuatnya politik pendidikan, yang mengontrol arah dan system pendidikan selama tiga decade membuat para guru seperti “robot” yang dipenjara melelui tuggas-tugas kedinasan yang stagnan. rendahnya tingkat kesejahteraan guru Indonesia membuat mereka tidak bisa optimal dalam menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar karena selalu mengurusi persoalan ekonomi keluarga. kuatnya kultur feodalistik dalam dunia pendidikan, sehingga tidak terjadi proses “social clustering” dan regenerasi ekskusif komunitas guru muda.
Pola regenerasi bukan atas dasar kemampuan akademik dan kemampuan mengajar guru, namun level kepangkatan. Pemerintah selama ini tidak memiliki kerangka acuan untuk meningkatkan kualitas sosial dan intelektual para guru. Berbagai upaya internal di birokrasi pendidikan yang konon untuk meningkatkan kapabilitas profesi guru, justru lebih banyak pada lkegiatan pembinaan dan pendisiplinan guru dalam optic pemahaman kekuasaan. Para guru dibina dan disiplinkan pengetahuan, dan sikapnya selaras dengan kehendak penguasa, agar tidak mengajarkan sesuatu yang berbeda dengan doktri Negara. http://wwwcakep39.blogspot.com/2007/12/kode-etik-guru-indonesia.html
DAFTAR PUSTAKA
http://wwwfikriyansyah.blogspot.com/
http://yatana.files.wordpress.com/2009/06/administrasi-pendidikan.ppt
http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/fungsi-dan-tanggung-jawab-guru-sebagai.html
Drs. M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervise Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2002
http://smkn1-raya.sch.id/en/200811/10/peran-guru-dalam-pendidikan/
http://wwwcakep39.blogspot.com/2007/12/kode-etik-guru-indonesia.html
TUGAS KELOMPOK
Disusun Oleh :
Kelompok I (Satu)
1. Edward Sarlito 10540 0011 06
2. Indrawaty S. D. 10540 0015 06
3. Yulianti 10540 0020 06
4. Wahyu Eti Edi S. 10540 0030 06
S1 pendidikan guru sekolah dasar
Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan
Universitas muhammadiyah Makassar
2 0 0 9
Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan.untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.
Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila. Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggurfg jawab sosial tingkah laku sosial anak. Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas sehingga anak memiliki pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dianut oleh bangsa dan negaranya, mempunyai pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan kemampuannya lebih lanjut.
Peran guru sebagai pelajar (leamer). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman. Pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan.
Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru diharapkan dapat membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kemampuannya. Bantuan dapat secara langsung melalui pertemuan-pertemuan resmi maupun pertemuan insidental.
Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan kemampuannya pada bidang-bidang dikuasainya.
Guru sebagai administrator. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu diadministrasikan secara baik. Sebab administrasi yang dikerjakan seperti membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik.
Diposkan oleh Muslimin di 08:52 0 komentar
Manajemen Sekolah di Masa Kini
Dalam era kemandirian sekolah dan era Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), tugas dan tanggung jawab yang pertama dan yang utama dari para pimpinan sekolah adalah menciptakan sekolah yang mereka pimpin menjadi semakin efektif, dalam arti menjadi semakin bermanfaat bagi sekolah itu sendiri dan bagi masyarakatluas penggunanya. Agar tugas dan tanggung jawab para pimpinan sekolah tersebut menjadi nyata, kiranya mereka perlu memahami, mendalami, dan menerapkan beberapa konsep ilmu manajemen yang dewasa ini telah dikembang-mekarkan oleh pemikir-pemikir dalam dunia bisnis. Manakala diperdalam secara sungguh-sungguh, kiranya konsep-konsep ilmu manajemen tersebut memiliki nilai (dalam arti values) yang tidak akan menjerumuskan dunia pendidikan kita ke arah bisnis yang dapat merugikan atau mengecewakan masyarakat luas penggunanya.
Secara luas, penerapan konsep-konsep ilmu manajemen untuk bidang administrasi sekolah sudah dimulai semenjak dua hingga tiga dekade yang lalu, namun hal tersebut belum cukup mendapat perhatian dari dunia kependidikan di negara kita. Salah satu bukti yang memperjelas pemikiran itu adalah masih langkanya Jurusan Manajemen Kependidikan (Educational Management Department) di perguruan-perguruan tinggi di Indonesia yang membuka program kependidikan (IKIP atau FKIP). Dahulu, sebelum dihapuskan di tahun 1980an, ada sebuah jurusan yang bernaung di bawah IKIP yang bernama AP atau Administrasi Pendidikan (Educational Administration) meski lingkup yang dibahas berbeda dengan bidang atau jurusan Manajemen Kependidikan.
Di dalam kelangkaan, manakala jurusan Administrasi Pendidikan tersebut dapat berkembang, kiranya bahasan tentang cara-cara pengelolaan (atau manajemen) untuk lembaga-lembaga pendidikan (misalnya sekolah) juga dapat berkembang. Jurusan Manajemen Kependidikan yang telah berkembang di beberapa negara itu sendiri kiranya juga merupakan pengembangan dari Jurusan Administrasi Pendidikan. Menurut sebuah sumber, berkembangnya Jurusan Manajemen Kependidikan tersebut bermula dari sebuah seminar yang dilakukan di Universitas Harvard di tahun 1970an yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga yang bernama Institute of Educational Management (Borromeo, 1995). Pokok penting yang dibahas dalam Jurusan Manajemen Kependidikan tersebut antara lain adalah aplikasi konsep-konsep atau model-model manajemen (bisnis) untuk dunia kependidikan, antara lain konsep pengembangan budaya dan iklim organisasional, penerapan konsep transformational leadership, penggunaan konsep TQM, penerapan konsep perencanaan strategik (strategic planning), dan lain sebagainya.
Dalam era kemandirian sekolah dan era Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) kiranya pemahaman, pendalaman, dan aplikasi konsep-konsep ilmu manajemen yang telah banyak sekali dikembangkan oleh para pemikir di bidang bisnis perlu mendapatkan perhatian para pimpinan sekolah untuk memanajemeni sekolah-sekolah yang mereka pimpin di masa kini. Kesempatan untuk mengembangkan sebuah sekolah hingga menjadi sebuah sekolah yang sungguh efektif kiranya membutuhkan kreativitas kepemimpinan yang memadai. Kreativitas kepemimpinan semacam itu dapat terlihat atau dapat muncul manakala para pimpinan sekolah mampu dan mau melakukan perubahan-perubahan tentang cara dan metoda yang mereka pergunakan untuk memanajemeni sekolah. Kemampuan serta kemauan tersebut akan muncul manakala para pimpinan sekolah dapat membuka diri secara luas untuk mencari dan menyerap sumber-sumber yang dapat mendorong perubahan manajerial, dan… kiranya konsep-konsep dasar untuk melakukan perubahan tersebut tersedia luas dalam bidang di luar bidang pendidikan itu sendiri, yakni bidang manajemen bisnis.
A. Guru dan Administrasi Pendidikan
1. Partisipasi Guru dalam Administrasi Pendidikan
Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Partisipasi guru dalam administrasi sekolah sangat penting dan menjadi keharusan.
Partisipasi dimaksud hendaknya ditafsirkan sebagai kesempatan-kesempatan kepada para guru dan kepala sekolah untuk memberi contoh tentang bagaimana demokrasi dapat diterapkan untuk memecahkan berbagai masalah pendidikan.
Secara berangsur-angsur tekanan diberikan kepada partisipasi guru dalam administrasi pendidikan/sekolah, yaitu penyelenggaraan dan manajemen sekolah.
Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik,melainkan juga sebagai administrator pada bidang pendidikan. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur yang segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu diadministrasikan secara baik.
Hal itu semua dilakukan agar guru benar-benar menjadi seorang pengajar serta pembimbing yang professional yang dituntut pada era ini.
http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/fungsi-dan-tanggung-jawab-guru- sebagai.html
Dalam banyak hal pekerjaannya berhubungan erat sekali dengan pekerjaan seorang pengawas, kepala sekolah, pegawai tata usha sekolah, dan berbagai pejabat inspeksi lainnya. Secara berangsur-angsur tekanan makin di berikan kepada partisipasi guru dalam administrasi pendidikan dalam hidup sekolah, yakni menyelenggarakan dan memenejemen sekolah.
Tokoh-tokoh pendidikan sekarang menekankan kepada gagasan tentang demokrasi dalam hidup sekolah : Guru-guru hendaknya didorong untuk ikut serta dalam pemecahan masalah-masalah administrative yang langsung mempengaruhi status profesional guru. Kegiatan partisipasi guru dalam administrasi sekolah itu ialah seperti sumbangan-sumbangan guru terhadap perbaikan kesejahteraan guru dan murid, penyempurnaan kurikulum, pilihan buku-buku dan alat-alat pelajaran dan sebagainya.
Sehubungan dengan itu, sangat penting di bicarakan dalam rangka administrasi pendidikan ini tentang peranan dan tanggung jawab guru di dalam organisasi dan administrasi sekolah tempat kegiatan-kegiatan meliputi lebih dari khusus mengajar di dalam kelas.
Untuk itu pula maka partisipasi guru dalam administrasi sekolah sangat penting dan menjadi keharusan. Partisipasi dimaksud hendaknya ditafsirkan sebagai kesempatan-kesempatan kepada para guru dan kepala sekolah untuk memberi contoh tentang bagaimana demokrasi dapat diterapkan untuk memecahkan berbagai masalah pendidikan.
Harus diakui, bahwa disebabkan oleh berbagai factor, proses pendemokrasian administrasi dan pengawasan sekolah-sekolah itu meminta waktu, dan hanya dapat di capai secara berangsur-angsur. Kebiasaan-kebiasaan yang tradisional pada para petugas pendidikan dan para guru, sukar sekali mengubah dan membuangnya.
Banyak usaha pembaharuan telah di jalankan, seperti dalam bentuk dan isi kurikulum, cara-cara atau metode-metode mengajar yang baik dan efisien, adanya pembinaan dan penyuluhan, kegiatan-kegiatan ekstrakulekuler, dan sebagainya. Tetapi, semua itu tidak hanya mendatangkan hasil yang sedikit sekali, kadang-kadang tidak kelihatan sama sekali hasilnya. Hal ini di sebabkan antara lain oleh adanya konservatisme dan sifat-sifat tradisional di dalam praktek kehidupan pendidikan yang sangat kuat. Juga disebabkan karena kurang atau tidak diikut sertakannya guru-guru dalam usaha-usaha pembaharuan pendidikan.
Ada bermacam-macam kesempatan yang dapat digunakan untuk menikutsertakan guru-guru dalam kegiatan-kegiatan sekolah di antaranya ialah :
a. Mengembangkan Filsafat Pendidikan
Mengembangkan filsafat pendidikan berarti bahwa dalam setiap langkah kegiatan mendidik selalu berusaha hendak menjawab apakah yang sedang kita lakukan?, bagaimana kita melakukannya?, apa sebab kita melakukannya?, dan untuk apakah kita melakukannya?.
Filsafat pendidikan seorang guru mencakup dari semua unsur yang telah membentuk kehidupannya, pengalaman-pengalamannya, cita-citanya, sikapnya, pendapatnya, keberhasilan dan kegagalan-kegagalannya. Filsafat pendidikan akan berkembang terus pada orang-orang yang hidup di tengah-tengah murid, tumbuh di dalam praktek, senantiasa berubah dan bertambah, dan tidak pernah lengkap dan selesai.
Apabila sekolah ingin memiliki suatu filsafat yang didukung oleh semua orang yang berada di belakang programnya, maka langkah-langkah yang harus di ambil oleh pemimpin dan guru-guru ialah membicarakan secara terbuka apa yang mereka yakini sehingga mencapai pengertian-pengertian dasar mengenai hakikat anak, fungsi dan tujuan sekolah dalam masyarakat, dan bagaimana cara mengajar-belajar yang baik.
b. Memperbaiki dan Menyesuaikan Kurikulum.
Biasanya penyusunan kurikulum serta perubahan dan penyesuaiannya di lakukan pada tingkat kanwil dengan bantuan para ahli dalam mata pelajaran-pelajaran khusus.
Prosedur itu menghadapi berbagai kesulitan dalam praktek perbaikan pendidikan dan pengajaran. Kita masih ingat akan mata pelajaran civics, krida, dan prakarya yang di tambahkan pada kurikulum “gaya baru”, dan kegiatan-kegiatan pembaharuan seperti mengajar secara unit teaching, diskusi kelompok, memimpin community survey, menyusun objective test, serta pengelolahan hasilnya dan lain-lain, pada umumnya mengalami kesukaran atau kemacetan dalam pelaksanaannya, sebab hal-hal tersebut hanya ditentukan dari atas, guru-guru tidak diikut sertakan. Keadaan yang demikian mengakibatkan banyak usaha perbaikan pengajaran yang hanya tinggal di atas kertas saja.
Hal yang demikian menimbulkan pengertian tentang keharusan untuk mengikutsertakan guru-guru dalam usaha memperbaiki dan menyesuaikan kurikulum.
c. Merencanakan Program Supervisi
Bentuk supervisi ini maksudnya ialah kegiatan-kegiatan pengawasan yang langsung ditunjukanuntuk memperbaiki situasi belajar-mengajar di dalam kelas. Tujuannya ialah membantu para guru untuk tumbuh secara pribadi dan professional, dan untuk belajar memecahkan sendiri masalah-masalah yang mereka hadapi dalam tugasnya.
d. Merencanakan Kebijakan-kebijakan Kepegawaian
Adapun kebijakan-kebijkan kepegawaian yang memerlukan ikut sertanya guru-guru dalam perencanaannya tentu saja harus memulai permusyawaratan perwakilan, antara lain ialah masalah penempatan, orientasi, promosi (kenaikan pangkat/jabatan), pemberhentian (pensiun pemecatan, dsb), pemindahan, pemberian tugas mengajar, cuti, konduite, masalah gaji, pengobatan, dan kesejahteraan guru-guru dan petugas-petugas pendidikan pada umumnya.
e. Kesempatan-Kesempatan Berpartisipasi lainnya
Masih banyak kesempatan-kesempatan lainnya yang mengharuskan ikutsertanya guru-guru dalam administrasi sekolah. Beberapa diantaranya ialah, sebagai berikut :
1) Menyelidiki buku-buku sumber bagi guru dan buku-buku pelajaran bagi murid-murid.
2) Menentukan dan menyusun tata tertib sekolah.
3) Menetapkan syarat-syarat penerimaan murid baru.
4) Merumuskan kebijakan tentang pembagian tugas mengajar guru-guru.
5) Menyusun daftar pelajaran umum dan khusus.
6) Merencanakan penilaian kemajuan-kemajuan program sekolah.
7) Menetapkan pengawasan dan bimbingan kegiatan-kegiatan organisasi murid agar terarah.
8) Merencanakan dan memimpin rapat-rapat guru.
9) Memikirkan usaha-usaha memajukan kesejahteraan guru, pegawai, dan murid-murid.
10) Merencanakan dan membantu kelancaran ketatausahaan sekolah.
Adapun untuk berpartisipasi menanamkan sifat dan kehidupan yang demokratis pada murid-murid, tidak cukup hanya dengan ceramah-ceramah atau kata-kata saja. Perkembangan tingkah laku yang demokratis pada anak didik pada asasnya bergantung pada hubungan anak didik dengan guru dan pada sifat dari pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari yang ada dilingkungan sekolah. Untuk itu, guru harus memahami arti demokrasi dan percaya pada nilai-nilainya dan pada tingkah laku menjadi contoh sebagai jiwa pribadi yang benar-benar demokratis. http://wwwfikriyansyah.blogspot.com/
2. Arti Demokrasi dalam Administrasi Pendidikan
Penerapan demokrasi dalam administrasi sekolah hendakriya diartikan bahwa administrasi sebagai kegiatan atau rangkaian kegiatan kepemim¬pinan; dengan itu tujuan-tujuan sekolah dan cara-cara untuk mencapai nya dikembangkan dan dijalankan. Kegiatan-kegiatan kepemimpinan ini meliputi: kegiatan mengorganisasi personel dan material, merencanakan program/kegiatan-kegiatan, membangun semangat guru-guru dan inisiatif perscorangan/kelom¬pok ke arah tercapainya tujuan-tujuan. menilai hasil-hasil dari rencana-rencana, prosedur-prosedur, serta pelaksanaannya oleh perseorangan dan kelompok.
Apabila administrasi dipandang sebagai proses bekerja dengan orang¬orang dan mengoordinasi usaha-usaha mereka ke dalam keseluruhan yang bekerja efisien dan produktif, maka jclas bahwa tanggung jawab tidak dapat lagi dipusatkan pada hanya satu orang belaka. Tanggung jawab hams disalurkan secara luas di antara semua orang yang mengambil bagian dalam program sekolah.
Dengan demikian, tekanan berpindah dari kekuasaan untuk menen¬tukan dan memerintah kepada proses mengembangkan semangat, pikir¬an, dan perbuatan yang koorperatif, dan kepada kesempatan-kesempat¬an yang diciptakan bagi pertumbuhan kepemimpinan perseorangan dan kelompok.
Masalah mcmimpin dan mengatur sekolah sccara derrokratis menim¬bulkan masalah tentang pe..lunya kesempatan-kesempatan bagi partisi¬pasi bagi guru-guru secara penuh, juga pegawai-pegawai sekolah, murid¬murid dan orang-orang tua murid, dalam memikirkan cara-cara memaju¬kan program dan kesejahteraan sekolah. Persetujuan semua inerupakan ciri khas bagi demokrasi di dalam administrasi sekolah.
Di samping itu, hendaklah dipahami bahwa untuk menanamkan sifat dan kehidupan yang demokratis pada murid-murid, tidal: cuk up hanya dengan ceramah-ccramah atau kata-kata saja. Perkembangan tingkah laku yang demokratis pada anak didik pada asasnya bergantung nada hubungan anak didik dengan guru dan pada sifat dari pengalaman¬pengalaman hidup sehari-hari yang disediakan oleh sekolah. Adapun pola-pola tingkah laku yang demokratis yang seyogyanya dimiliki oleh guru ialah:
1) Menghormati kepribadian orang-scorang;
2) Memperhatikan hak kebebasan orang lain;
3) Kerja sama dengan orang lain;
4) Menggunakan kecakapan-kecakapan mereka untuk memajukan kese¬jahteaau umum dan kemajuan social;
5) Lebih menghargai penggunaan kecerdasan secara efektif dalam meme¬cahkan masalah-masalah daripada penggunaan kekerasan atau emosi;
6) Menyelidiki, menemukan, dan menerima kekurangan-kekurangan diri sendiri dan berusaha memperbaikinya;
7) Mereka memimpin atau mengikuti sesuai dengan kcsanggupan mereka bagi keuntungan kelompok/bersama;
8) Memikul tanggung jawab terhadap tercapainya cita-cita dan tujuan¬tujuan bersama dan mendahulukan kewajiban daripada hak;
9) Mereka memerintah diri sendiri untuk kebaikan semua,
10) Bersikap toleran;
11) Menghargai musyawarah untuk memperolch kata sepakat;
12) Senantiasa berusaha untuk mencapai cara hidup demokratis yang pa¬ling efektif;
13) Berusaha dengan contoh sendiri untuk membimbing orang-orang lain supaya hidup secara demokratis,
14) Menyesuaikan diri kepada kondisi-kondisi yang selalu berubah dan berkembang ke arah perbailtan dan kemajuan.
http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/fungsi-dan-tanggung-jawab-guru-sebagai.html
3. Orientasi bagi Guru – Guru Baru
Bagi guru-guru yang baru mulai menjalankan tugasnya sebagai guru, adanya masa orientasi sangat diperlukan. Yang dimaksud dengan titasa orientasi ialah suatu kesempatan yang diberikan kepada seorang pegawai atas guru yang baru mulai bekerja, untuk mengadakan onservasi dan ber - partisipasi langsung dengan kegiatan-kegiatan yang berhuhungan dengan tugasnya sebagai guru di sekolah itu, agar dalam waktu yang relatif singkat is dapat segera mengenal dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat ia mengajar.
Masa orientasi sangat diperlukan karena setiap pegawai atau guru yang baru pada umumnva menghadapi problema, baik problema yang me¬nyangkut dirinya sendiri maupun problema yang berhubungan dengan tugas-tugas pekerjaan yang akan dilakukannya. la memerlukan bantuan dan bimbingan dari pimpinan sekolah dan guru-garu senior untuk dapat mengenal dan mengatasi problema-problema tersebut.
Hampir bagi setiap guru baru pengalaman pertama waktu permulaan mengajar merupakan pengalaman yang penuh frustrasi dan keragu-ragu¬an. Di dalam dirinya timbul bermacam-macam pertanyaan, seperti: Bagai¬mana reaksi murid-murid terhadap diri saya? Apakah saya akan meng¬alami kesukaran dalam hal menguasai disiplin anak-anak? Bagaimana sikap orang tua murid terhadap pelajarannya yang saya berikan? Dapatkah saya menjadi guru yang disenangi anak-anak? Pertolongan atau bantuan apa yang dapat saya terima dari guru-guru lain?
Semua itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang sering timbul pada guru-guru yang baru saja mulai mengajar. Dan itu semua perlu mendapat perhatian dari para supervisor dan kepala sekolah dalam rangka meng¬adakan orientasi bagi guru-guru baru. Tentu saja tidak mungkin sekali - gus semua itu dapat dilayani, tetapi harus dilakukan secara berangsur-angsur.
Seperti dikatakan oleh Chamberlain dan Kindred, setiap guru baru memerlukan bantuan antara lain dalam hal mempelajari masyarakat, lingkungan fisik sekitar sekolah dan fasilitas-fasilitas yang ada di lingkungan tersebut, mengenal dan mempelajari tentang teman sejawat, murid-murid, kebi¬jakan pelaksanaan sistem sekolah, dan macam-macam tugas yang akan mereka kerjakan. Mereka memerlukan bantuan dalam pemecahan masalah-masalah yang timbul dan bimbingan dalam mengarahkan.
Tujuan orientasi yang terutama ialah membawa guru barn untuk dapat segera mengenal situasi dan kondisi serta kehidupan sekolah pada umumnya, agar selanjutnya dapat mendorong memberi motivasi kepada meraka untuk bekerja baik dan bergairah.
(Elsbree dan Reutterx) mengemukakan bahwa tujuan oricntasi; yang terutama adalah mcmberikan perhatian (attention) kepada guru barn dan mendorong mereka agar memiliki kualitas mengajar yang tinggi. Untuk mencapai tujuan pokok ini maka program orientasi paling sedik:t haruslah berisi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1) Mengenalkan kepada guru-guru baru itu secepat mungkin agar mereka segera dapat mengenal sistem sekolah dan masyarakat lingkungan sekolah.
2) Menyediakan bantuan secukupnya agar mereka segera dapat mengenal dan menyesuaikan diri dengan personel sckolah (guru-guru dan pc¬gawai).
3) Memberikan bimbingan yang konstruktif dalam mengembangkan kecakapan-kecakapan mengajar dan sikap-sikap profesional mereka.
4) Menyediakan kesempatan kepada guru barn untuk turut berpartisipasi langsung dalam kegiatan-kegiatan sekoiah pada urnumnya.
Kegiatan-kegiatan orientasi
Berdasarkan arti dan tujuan orientasi scperti telah diuraikan di atas, maka kegiatan-kegiatan orientasi yang penting bagi guru baru yang perlu kita uraikan lebih Ianjut adalah seperti berikut:
1) Bantuan mendapat perumahan/tempat tinggal yang sesuai
Bagi beberapa orang guru baru, masalah perumahan/tempat tinggal se- ring merupakan masalah yang sangat urgen. Bantuan untuk mendapat perumahan/tempat tinggal yang layak dan wajar bagi seorang guru perlu mendapat perhatian. Tempat tinggal guru-guru yang berdekatan dengan sekolah pada umumnya lebih menguntungkan bagi kelancaran jalannya sekolah. Beberapa usaha yang dapat dilakukan sekolah dalam rangka memberi ban¬tuan tersebut antara lain dengan jalan:
• Bekerja sama dengan masyarakat setempat, khususnya POM atau Panitia Penyelenggara Sckolah yang bersangkutan.
• Dengan mencarikan rumah sewaan.
• Membantu meminjami uang dengan pengembalian secara diangsur sesuai dengan kemampuan guru yang bersangkutan.
• Menyediakan perumahan guru-guru.
• Meminjamkan perabot rumah yang diperlukan, dsb.
Tentu saja bantuan tersebut disesuaikan dengan kemampuan sekolah masing-masing, dan dipertimbangkan apakah guru tersebut benar-benar sangat memerlukannya demi kepentingan kelancaran jalannya sekolah.
2) Mengenalkan guru baru kepada sistem dan tujuan sekolah
Untuk dapat memberikan. kesempatan kepada guru baru dalam orienta¬sinya terhadap sistem dan tujuan sekolah, pada permulaan sebaiknya guru itu jangan terlalu banyak dibebani tugas-tugas. Dengan demikian, guru tersebut diberi kesempatan untuk bergaul dan mcngamati serta mengenal jalannya sekolah secara umum. Usaha-usaha lain yang dapat dilakukan ialah dengan yaitu 1) Memberi kesempatan kepada guru baru mempelajari buku-buku. kurikulum dan silabus yang berlaku di sekolah itu. 2) Kepala sckolah, guru-guru, serta pegawai sekolah mernbantunya de¬ngan memberikan informasi-informasi yang diperlukan tentarig ad¬ministrasi sekolah, jalannya sckolah atau sistem yang berlaku di sekolah itu. 3) Mengadakan tanya-jawab dan diskusi-diskusi dengan guru baru, balk secara formal maupun informal.
3) Mengenalkan guru baru kepada kondisi dan situasi masyarakat ling¬kungan sekolah
Caranya ialah dengan jalan memberikan informasi-informasi bilamana ia memerlkannya. Beberapa hal yang perlu diperkenalkan untuk diketahui oleh guru-guru baru antara lain:
• Letak dan macam-macam kantor atau instansi lain yang ada di sekitar sekolah itu; seperti kantor pemerintahan setempat, kantor pos, mas¬jid, gereja, pasar, terminal bus, stasiun kereta api, kantor polisi, rumah sakit, kantor pemadam kebakaran, dll. Jika mungkin dengan nomor telepon dan nama pemimpin masing-masing.
• Kehidupan, adat-istiadat serta sifat-sifat masyarakat setempat, antara lain bagaimana kepadatan dan komposisi penduduknya, mata pen¬cahariannya, kebiasaan-kebiasaan yang berlaku, sikap dan perhatian¬nya terhadap sekolah serta pendidikan pada umumnya.
4) Membantu guru baru dalam perkenalan dan penycsuaiannya terhadap personel sekolah
Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan jalan:
• Memperkenalkan kepada semua guru dan pcgawai sekolah claim suatu pertemuan.
• Mengadakan pertemuan ramah-iamah di sekolah atau di rumah salah seorang guru, yang dihadiri oleh semua guru dan staf
Dalam hal ini sangat penting dan perlu diperhatikan terutama sikap ke¬pala sekolah itu scndiri dalam mclayani dan mcnerima guru yang baru tersebut. Yang kedua ialah sikap guru-guru dan pegawai sekolah lainnya. Sikap ramah-tamah, hormat-merighormati, dan rasa kekeluargaan yang baik, sangat diperlukan oleh setiap guru baru.
5) Membantu guru baru dalam usaha memperbaiki dan mengetnbang¬kan kecakapan-kecakapan mengajarnya
Tidak semua guru baru sudah pandai mengajar clan memiliki sikap pro¬fesional yang sesuai dengan tuntutan jabatannya. Apalagi guru yang baru saja keluar dari sekolah guru. Mereka masih perlu bimbingan dan bantuan dalam menjalankan tugas pekerjaannya.
Beberapa usaha yang perlu dilakukan kepala sekolah dan supervisor dalam rangka memperbaiki dan mengembangkan kecakapan-kecakapan mengajar para guru baru antara lain : Mengadakan evaluasi dengan jalan mengobservasi kegiatan-kegiatan mengajar pada guru baru, dan membuat catatan-catatan harian. Memberikan kesempatan kepada guru baru untuk mengadakan obser¬vation visit atau kunjungan observasi, yakni mengainati demonstrasi mcngajar yang dilakukan olch guru yang telah berpengalaman, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi di antara mereka. Memberi bimbingan dalam membuat dan merencanakan pekerjaan mereka, seperti bimbingan dalam membuat persiapan mengajar, me¬milih bahan pelajaran, mcmilih metode mengajar yang sesuai, menen¬tukan kesempatan-kesempatan apa yang diperlukan untuk meneada¬kan hubungan sekolah dan masyarakat atau orang tua murid, cara¬cara menggunakan alat-alat peraga dalam mengajar, cara membuat dan menyusun tes atau soal-soal ulangan dalam rangka mengevaluasi hasil belajar murid-murid.
6) Membangkitkan sikap-sikap dan minat profesional
Pekerjaan sebagai guru (mengajar) bukan hanya sekadar bekerja untuk mencari nafkah. Mengajar dan mendidik adalah profesi yang memerlukan straw keahlian khusus serta bakat ataupun minat yang bcsar. Pekerjaan sebagai pendidik adalah juga tugas yang bersifat sosial dan amal. Tidak semua orang yang telah menyelesaikan pendidikannya di suatu lembaga pendidikan guru atau sekolah guru akan dengan sendirinya telah dapat dan suka serta mempunyai minat yang besar terhadap pekerjaannya sebagai guru.
Minat dan kesukaan ternadap suatu pekerjaan akan timbul dari pe¬ngalaman dan kcbiasaan, terutama pengalaman yang menyenangkan. Ka¬rena berkali-kali mengalami dan melakukan pekerjaan itu, lama-kclamaan timbullali minat dan rasa cintanya kepada pekerjaan tersebut. Minat terhadap suatu pekerjaan menimbulkan rasa suka terhadap pekerjaan itu.
B. Kode Etik Guru
Kode etik berasal dan kata kode dan etik. Kode bisa berarti simbol dan tanda, sedangkan etik bila ditelusuri berasal dan bahasa latin ethica dan bahasa Yunam ethos. Dalam kedua bahasa tersebut, etik berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku yang baik.
Kode etik guru adalah norma-norma yang mengatur tingkah laku guru, dan oleh karena itu haruslah ditaati oleh guru. Ia diciptakan oleh, dan dan untuk guru. Kode etik dipandang tidak tepat jika berupa peraturan yang dititik beratkan kepada sangsinya bagi mereka yang melanggar; melainkan tanpa sangsi apapun justru ditaati oleh anggotanya. Kode etik adalah persetujuan bersama yang timbul dari diri anggota.
Oleh karena kode etik adalah norma-norma yang harus ditaati oleh seseorang yang bermaksud diikatnya, maka tujuan kode etik guru adalah :
1. Agar guru mempunyai rambu-rambu yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam bertingkah laku sehari hari sebagai pendidik.
2. Agar guru-guru dapat bercermin diri mengenai tingkah lakunya, apakah sudah sesuai dengan profesi pendidik yang disandangnya ataukah belum.
3. Agar guru-guru dapat menjaga (mengambil langkah preventif), jangan sampai tingkah lakunya dapat menurunkan martabatnya sebagai seorang profesional yang bertugas utama sebagai pendidik.
4. Agar guru selekasnya dapat kembali (mengambil langkah kuratif), jika ternyata apa yang mereka lakukan selama ini bertentangan atau tidak sesuai dengan norma-norma yang telah dirumuskan dan disepakati sebagai kode etik guru.
5. Agar segala tingkah laku guru, senantiasa selaras atau paling tidak, tidak bertentangan dengan profesi yang disandangnya, ialah sebagai seorang pendidik. Lebih lanjut, dapat diteladani oleh anak didiknya dan oleh masyarakat umum.
Sedangkan fungsi kode etik guru, dapat digolongkan menjadi, fungsi yang bertalian dengan tugas guru sendiri, fungsi yang bertalian dengan tujuan pendidikan pada umumnya dan fungsi yang bertalian dengan masa depan profesi. Fungsi yang bertalian dengan tugas guru sendiri adalah:
1. Sebagai pedoman untuk melaksanakan tugas-tugas keguruan khususnya yang berkaitan dengan muatan normatif pendidikan.
2. Sebagai pedoman dalam bertingkah laku, karena profesi guru menuntut para penyandangnya untuk bertingkah laku yang dapat dijadikan contoh oleh anak didik dan masyarakat pada umumnya.
3. Sebagai pedoman untuk bergaul dan berhubungan, baik hubungan dan pergaulan antar sesama pendidik, dengan anak didik dan dengan staf sekolah lain maupun dengan masyarakat pada umunmya.
Sementara itu, fungsi kode etik guru yang bertalian dengan masa depan profesi keguruan sendiri adalah sebagai berikut :
1. Bahwa profesi guru adalah suatu profesi yang tidak saja menjunjung tinggi tata norma dan tata nilai masyarakat, melainkan juga sekaligus juga mewariskannya. Oleh karena itu, maka perlu ada kaidah dan tata susila keguruan yang harus mengikat kepada, dan dijadikan sebagai pedoman oleh para anggotanya.
2. Bahwa perkembangan tuntutan, aspirasi, tata norma dan tata nilai di masyarakat demikian dinamis. Hal ini bisa membawa konsekuensi semakin terpolarisasinya pandangan masyarakat mengenai tuntutan, aspirasi, harapan, tata norma dan tata nilai yang dianut oleh masyarakat. Besar atau kecil perkembangan yang demikian dinamis tersebut pasti berpengaruh terhadap etika-etika yang berlangsung di masyarakat. Kode etik guru, sebagai pedoman tingkah laku guru dálam melaksanakan tugasnya, dapat dijadikan sebagai arahan dalam mengantisipasi perkeinbangan tersebut. Ia menawarkan standar tingkah laku, setidak-tidaknya kepada para anggotanya, agar keberadaan profesi keguruan tersebut tetap eksis.
Kode Etik Guru pada Umumnya
1. Untuk mencapai tujuan sebagaimana termaktub pada Preambul UUD 1945, maka diperlukan syarat-syarat pokok dan tiap guru, yaitu berkepribdian, berilmu serta terampil dalam melaksanakan tugasnya.
2. Guru adalah setiap orang yang bertugas dan berwenang dalaiu dunia pendidikan dan pengajaran pada lembaga pendidkan formal.
3. Untuk melaksanakan tugasnya, maka prinsip-prinsip tentang tingkah laku yang diinginkan dan diharapkan dari setiap guru dalam. jabatannya terhadap orang lain dalam situasi pendidikan adalah berjiwa Pancasila berilmu pengetahuan serta terampil dalam menyampaikannya, yang dapat dipertanggungjawabkan secara didaktis dan metodis, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai.
4. Berdasarkan prinsip-prinsip unum di atas, maka petunjuk petunjuk yang merupakan tata cara akhlak itu wajib diamalkan oleh setiap guru dalam antar hubungan dengan manusia lain dalam lingkurigan jabatannya.
http://maswanispdyahoocoid.blogspot.com/2007/05/disiplin-guru.html
Guru Indonesia menyadari bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bangsa, dan Negara serta pada kemanusiaan pada umumnya. Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan setia pada UUD 1945, turut bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, oleh kerena itu, Guru Indonesia terpangil untuk menunaikan karyanya dengan memedomani dasar-dasar sebagai berikut:
1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
a. Guru menghormati hak individu dan kepribadian anak didiknya masing-masing
b. Guru berusaha mensusseskan pendidikan yang serasi (jasmaniyah dan rohaniyah) bagi anak didiknya
c. Guru harus menghayati dan mengamalkan pancasila
d. Guru dengan bersunguh-sunguh mengintensifkan Pendidikan Moral Pancasila bagi anak didiknya
e. Guru melatih dalam memecahkan masalah-masalah dan membina daya krasai anak didik agar kelak dapat menunjang masyarakat yang sedang membangun
f. Guru membantu sekolah didalam usaha menanamkan pengetahuan keterampilan kepada anak didik.
2. Guru memiliki kejujuran professional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
a. Guru menghargai dan memperhatikan perbedaan dan kebutuhan anak didiknya masing-masing
b. Guru hendaknya luwes didalam menerapkan kurikulum sesuai dengan klebutuhan anak didik masing-masing
c. Guru memberi pelajaran di dalam dan di luar sekolah berdasarkan kurikulum tanpa membeda-bedakan Janis dan posisi orang tua muridnya
3. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik,. Tetapi menghindarkan diri dari segtsala bentuk penyalah gunaan
a. Komunikasi Guru dan anak didik didalam dan diluar sekolah dilandaskan pada rasa kasih sayang
b. Untuk berhasilnya pendidikan, maka Guru harus mengetahui kepribadian anak dan latar belakangt keluarganya masing-masing.
c. Komunikasi Guru ini hanya diadakan semata-mata untuk kepentingan pendidikan anak didik
4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik
a. Guru menciptakan suasana kehidupan sekol;ah sehingga anak didik betah berada dan belajar di sekolah
b. Guru menciptakan hubungan baik dengan orang tua murid sehingga dapat terjalin pertukaran informasi timbale balik untuk kepentingan anak didik
c. Guru senantiasa menerima dengan lapang dada setiap kritik membangun yang disampaikan orang tua murid/ masyarakat terhadap kehidupan sekolahnya.
d. Pertemuan dengan orang tua murid harus diadakan secara teratur
5. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat disekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan
a. Guru memperluas pengetahuan masyarakat mengenai profesi keguruan
b. Guru turut menyebarkan program-progaram pendidikan dan lkebudayaan kepada masyarakat seketernya, sehingga sekolah tersebut turut berfubgsi sebagai pusat pembinaan dan pengembangan pendidikan dan kebudayaan ditempat itu
c. Guru harus berperan agar dirinya dan sekolahnya dapat berfungsi sebagai unsur pembaru bagi kehidupan dan kemajuan daerahnya.
d. Guru turut bersama-sama masyarakat sekitarnya didalam berbagai aktifitas
e. Guru menusahakan terciptanya kerjasama yang sebaik-bainya antara sekolah, orang tua murid, dan masyarakat bagi kesempurnaan usaha pendidikan atas dasar kesadaran bahwa pendidikan merupakan tangung jawab nersama antara pemerintah, orang t5ua murid dan masyarakat.
6. Guru secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
a. Guru melanjutkan setudinya dengan :
• Membaca buku-buku
• Mengikuti loka karya, seminar, gterakan koperasi, dan pertemuan-pertemuan pendidikan dan keilmuan lainnya
• Mengikuti penataran
• Mengadakan kegiatan-kegiatan penelitian
b. Guru selalu bicara, bersikap dan bertindak sesuai dengan martabat profesinya,
7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesame guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun didalam hubungan keseluruhan.
a. Guru senantiasa saling bertukar informasi pendapat, salung menasehatri dan Bantu-membantu satu sama lainnya, baik dalam hubungan kepentingan pribadi maupun dalam menuaikan tugas profgesinya
b. Guru tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan nama baik rekan-rekan seprofesinya dan menunjang martabat guru baik secara keseluruhan maupun secara pribadi
8. Guru secara bersama-sama memelihara, membina, dan meningkatkan organisasi guru professional sebagai sarana pengabdiannya.
a. Guru menjadi anggota dan membantu organisasi Guru yang bermaksud membina profesi dan pendidikan pada umumnya
b. Guru senantiasa berusaha bagi peningkatan persatuan diantara sesame pengabdi pendidikan
c. Guru senantiasa berusaha agar menghindarkan diri dari sikap-sikap ucapan, dan tindakan yag merugikan organisasi
9. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan
a. Guru senantiasa tunduk terhadap kebijaksanaan dan ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang pendidikan
b. Guru melakukan tugas profesinya dengan disiplin dan rasa pengabdian
c. Guru berusaha membantu menyebarkan kebijak sanaan dan program pemerintah dalam bidang pendidikan kepada orang tua murid dan masyarakat sekitarnya
d. Guru berusaha menunjang terciptanya kepemimpinan pendidikan dilingkungan atau didaerahnya sebaik-baiknya.
Menurut uraian diatas mengenai Kode Etik Guru, kita perlu melihat pula:
Kualitas guru-guru di Indonesia- khususnya yang berstatus PNS dan guru sekolah swasta yang “hidup segan mati takmau”, juga saat ini berada dalam titik “rendah”. Para guru juga tidak hanya gagap dalam beradaptasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan fenomena sosial kemasyarakatan, mereka juga terjebak dalam kebiasaan menjadi “robot” kurikulum pendidikan. Prakarsa inisiatif para guru untuk belajar mengalimetode, bahan ajar dan pola relasi belajar-mengajar yang baru sangat minimalis.
Tidak mengherankan ketika Depdiknas merekonsepsikan dan mengimplementasikan kerangka kurikulum pembaruan, KBK (kurikulum berbasis kopetensi), banyak guru yang sangat sulit memahami. Banyak yang menggerutu dan beranggapan KBK hanya sebagai wujud kurikulum yang “ngayawara” (tidak realistik).
Rendahnya mutu atau kapabilitas guru di Indonesia, selama ini disebabkan oleh beberapa factor. factor structural: para guru selama tiga dekada Orde Baru dijadikan “bemper” politik bagi kekuatan partai Golkar.
Guru dijadikan agen politik pembagunanisme dan juga agen pemenangan program partai golkar. Melelui organisasi Korpri dan PGRI, mereka dijadikan proyek korporatisme Negara. kuatnya politik pendidikan, yang mengontrol arah dan system pendidikan selama tiga decade membuat para guru seperti “robot” yang dipenjara melelui tuggas-tugas kedinasan yang stagnan. rendahnya tingkat kesejahteraan guru Indonesia membuat mereka tidak bisa optimal dalam menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar karena selalu mengurusi persoalan ekonomi keluarga. kuatnya kultur feodalistik dalam dunia pendidikan, sehingga tidak terjadi proses “social clustering” dan regenerasi ekskusif komunitas guru muda.
Pola regenerasi bukan atas dasar kemampuan akademik dan kemampuan mengajar guru, namun level kepangkatan. Pemerintah selama ini tidak memiliki kerangka acuan untuk meningkatkan kualitas sosial dan intelektual para guru. Berbagai upaya internal di birokrasi pendidikan yang konon untuk meningkatkan kapabilitas profesi guru, justru lebih banyak pada lkegiatan pembinaan dan pendisiplinan guru dalam optic pemahaman kekuasaan. Para guru dibina dan disiplinkan pengetahuan, dan sikapnya selaras dengan kehendak penguasa, agar tidak mengajarkan sesuatu yang berbeda dengan doktri Negara. http://wwwcakep39.blogspot.com/2007/12/kode-etik-guru-indonesia.html
DAFTAR PUSTAKA
http://wwwfikriyansyah.blogspot.com/
http://yatana.files.wordpress.com/2009/06/administrasi-pendidikan.ppt
http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/fungsi-dan-tanggung-jawab-guru-sebagai.html
Drs. M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervise Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2002
http://smkn1-raya.sch.id/en/200811/10/peran-guru-dalam-pendidikan/
http://wwwcakep39.blogspot.com/2007/12/kode-etik-guru-indonesia.html
TUGAS KELOMPOK
Disusun Oleh :
Kelompok I (Satu)
1. Edward Sarlito 10540 0011 06
2. Indrawaty S. D. 10540 0015 06
3. Yulianti 10540 0020 06
4. Wahyu Eti Edi S. 10540 0030 06
S1 pendidikan guru sekolah dasar
Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan
Universitas muhammadiyah Makassar
2 0 0 9
Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan.untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.
Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila. Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggurfg jawab sosial tingkah laku sosial anak. Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas sehingga anak memiliki pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dianut oleh bangsa dan negaranya, mempunyai pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan kemampuannya lebih lanjut.
Peran guru sebagai pelajar (leamer). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman. Pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan.
Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru diharapkan dapat membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kemampuannya. Bantuan dapat secara langsung melalui pertemuan-pertemuan resmi maupun pertemuan insidental.
Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan kemampuannya pada bidang-bidang dikuasainya.
Guru sebagai administrator. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu diadministrasikan secara baik. Sebab administrasi yang dikerjakan seperti membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik.
Diposkan oleh Muslimin di 08:52 0 komentar
Manajemen Sekolah di Masa Kini
Dalam era kemandirian sekolah dan era Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), tugas dan tanggung jawab yang pertama dan yang utama dari para pimpinan sekolah adalah menciptakan sekolah yang mereka pimpin menjadi semakin efektif, dalam arti menjadi semakin bermanfaat bagi sekolah itu sendiri dan bagi masyarakatluas penggunanya. Agar tugas dan tanggung jawab para pimpinan sekolah tersebut menjadi nyata, kiranya mereka perlu memahami, mendalami, dan menerapkan beberapa konsep ilmu manajemen yang dewasa ini telah dikembang-mekarkan oleh pemikir-pemikir dalam dunia bisnis. Manakala diperdalam secara sungguh-sungguh, kiranya konsep-konsep ilmu manajemen tersebut memiliki nilai (dalam arti values) yang tidak akan menjerumuskan dunia pendidikan kita ke arah bisnis yang dapat merugikan atau mengecewakan masyarakat luas penggunanya.
Secara luas, penerapan konsep-konsep ilmu manajemen untuk bidang administrasi sekolah sudah dimulai semenjak dua hingga tiga dekade yang lalu, namun hal tersebut belum cukup mendapat perhatian dari dunia kependidikan di negara kita. Salah satu bukti yang memperjelas pemikiran itu adalah masih langkanya Jurusan Manajemen Kependidikan (Educational Management Department) di perguruan-perguruan tinggi di Indonesia yang membuka program kependidikan (IKIP atau FKIP). Dahulu, sebelum dihapuskan di tahun 1980an, ada sebuah jurusan yang bernaung di bawah IKIP yang bernama AP atau Administrasi Pendidikan (Educational Administration) meski lingkup yang dibahas berbeda dengan bidang atau jurusan Manajemen Kependidikan.
Di dalam kelangkaan, manakala jurusan Administrasi Pendidikan tersebut dapat berkembang, kiranya bahasan tentang cara-cara pengelolaan (atau manajemen) untuk lembaga-lembaga pendidikan (misalnya sekolah) juga dapat berkembang. Jurusan Manajemen Kependidikan yang telah berkembang di beberapa negara itu sendiri kiranya juga merupakan pengembangan dari Jurusan Administrasi Pendidikan. Menurut sebuah sumber, berkembangnya Jurusan Manajemen Kependidikan tersebut bermula dari sebuah seminar yang dilakukan di Universitas Harvard di tahun 1970an yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga yang bernama Institute of Educational Management (Borromeo, 1995). Pokok penting yang dibahas dalam Jurusan Manajemen Kependidikan tersebut antara lain adalah aplikasi konsep-konsep atau model-model manajemen (bisnis) untuk dunia kependidikan, antara lain konsep pengembangan budaya dan iklim organisasional, penerapan konsep transformational leadership, penggunaan konsep TQM, penerapan konsep perencanaan strategik (strategic planning), dan lain sebagainya.
Dalam era kemandirian sekolah dan era Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) kiranya pemahaman, pendalaman, dan aplikasi konsep-konsep ilmu manajemen yang telah banyak sekali dikembangkan oleh para pemikir di bidang bisnis perlu mendapatkan perhatian para pimpinan sekolah untuk memanajemeni sekolah-sekolah yang mereka pimpin di masa kini. Kesempatan untuk mengembangkan sebuah sekolah hingga menjadi sebuah sekolah yang sungguh efektif kiranya membutuhkan kreativitas kepemimpinan yang memadai. Kreativitas kepemimpinan semacam itu dapat terlihat atau dapat muncul manakala para pimpinan sekolah mampu dan mau melakukan perubahan-perubahan tentang cara dan metoda yang mereka pergunakan untuk memanajemeni sekolah. Kemampuan serta kemauan tersebut akan muncul manakala para pimpinan sekolah dapat membuka diri secara luas untuk mencari dan menyerap sumber-sumber yang dapat mendorong perubahan manajerial, dan… kiranya konsep-konsep dasar untuk melakukan perubahan tersebut tersedia luas dalam bidang di luar bidang pendidikan itu sendiri, yakni bidang manajemen bisnis.
Subscribe to:
Posts (Atom)
